Edition 74/VIII/2007
 Search    Edition
Document | Economic Venture | Education | Features Collum | Field report | Info | Life Story | Omnibus | Opinion | Programme | Worth Noting...
 
Select Edition     
REPORT OBSERVATION-STUDY TOUR ON MOSQUE-BASED COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH THE POSDAYA MODEL

Report By: Pudjo Raharjo/mira/donni
 
July 15-20, 2007
at
Jakarta and Jogyakarta

Foreword
In its relatively short span of its operations, the DAMANDIRI Foundations has implemented various groundbreaking activities. Since it's founding in 1996 DAMANDIRI has consistentty endeavored in breaking the poverty chain by empowering the family and the community.
Recentty DAMANDIRI has initiated a new paradigm of family empowerment called the POSDAYA. This model evolved rapidty and is currently applied to various community and religious centers, one of which is the mosque-based POSDAYA.
Having sufficiently developing this mosque-based Posdaya, DAMANDIRI felt that it is timely to introduce this model to the wide national and international arena. This is done through the special "Observation Study Tour on Mosque-Based Community Empowerment through the Posdaya Model".
This is a report of that OST, which is aimed at documenting some salient features and also meant for future improvements.

Haryono Suyono

PROLOGUE
Pembangunan dibidang sosial telah menjadi obsesi bagi para penentu kebijakan dari berbagai tataran. Tujuan dari pembangunan dibidang sosial pada hakekatnya adalah untuk memperkecil kesenjangan antara lapisan masyarakat yang mampu dengan yang kurang beruntung. Upaya pembangunan ini dapat dilakukan dengan antara lain memberikan lebih banyak kesempatan dan peluang bagi semua pihak, dan dengan demikian menghapus kemiskinan dengan pendekatan yang komprehensf dan berlanjut.

Social Development has become an obsession of all policy decision-makers at all levels of governance. The goal of most social development programs is to narrow the gap between the more affluent in the society and the lesser privileged. This, can be in the format of enhancing more opportunities for all, and thereby rapidly eradicating poverty in a comprehensive approach and sustained manner.


Kenyataan kini menunjukkan bahwa di banyak masyarakat membangun, pendekatan yang tepat menuju pada kesejahteraan penduduk, masyarakat dan keluarga, masih jauh dari nyata. Di masa lalu Indonesia telah berhasil ômemasarkanô pendekatan POSYANDU. Namun pendekatan itu pun tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan di akar rumput. Dalam suasana demikian Yayasan DAMANDIRI kini tengah mengembangkan konsep baru yang diberi nama POSDAYA. Pada hakekatnya POSDAYA adalah model untuk memberikan pemberdayaan bagi keluarga sehingga mereka dapat saling membantu dan mendukung dalam kehidupan di masyarakat. Fleksibilitas dari model ini adalah bahwa model ini dapat diterapkan dalam semua kehidupan bermasyarakat dan kehidupan keluarga, misalnya dalam upaya ekonomi, dalam kehidupan beragama, bahkan dalam kehidupan budaya mereka.

Today's empirical reality indicate that in many developing communities the appropriate approach to people's, community's, and family's welfare, is still want. Indonesia had marked success in the POSYANDU approach. Yet even that approach is no longer fulfilling the needs at the grass roots. The DAMANDIRI Foundation is now embarking on a new concept labeled as the POSDAYA model. In essence the POSDAYA model is the empowerment of the family so that they can help each member, and all segments of the population in local communities. The versatility of the model is that it can be applied to all community and family activities, i.e. in their economic ventures, their faith and religious activities, and even to their cultural rituals.


Ini merupakan model yang disajikan kepada semua pihak terkait dan yang berminat untuk di telaah dengan mendalam, dengan harapan bahwa model ini dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan di tingkat akar rumput. Dalam kerangka demikian BKKBN dan
Yayasan DAMANDIRI bekerjasama menyelenggarakan forum berbagi pengalaman dan ôbest practicesö dalam pemberdayaan keluarga melalui lembaga keagamaan.

This is the model which is offered to all concerned to be closely examined and hopefully adapted to meet the needs of grass roots. In this context BKKBN and DAMANDIRI are jointly hosting an international and a simultaneous national forum to share its experiences and best practices in family empowerment through faith-related institutions.

Laporan penyelenggaraan ini disiapkan sebagai risalah/dokumentasi yang memaparkan seluruh proses, mulai dari pemikiran awal untuk menyelenggarakan program khusus pelatihan internasional dan nasional dari Yayasan DAMANDIRI ini, hingga tahap-tahap pelaksanaannya. Laporan ini juga dimaksudkan untuk menjadi panduan/manual untuk membimbing para fasilitator dan pelaksana untuk melaksanakan OST di masa mendatang.

This report is prepared as a documentation of the total process from the initial thoughts on establishing the special program to implementing the activities of the international training program of the DAMANDIRI Foundation. This report also is meant to be a manual to ôwalk throughö facilitators and organizers all the ingredients of conducting this, and future OSTs.


OBJECTIVES OF THE OST
Tujuan utama dari OST ini adalah untuk menerapkan konsep pemberdayaan semua segmen usia dari keluarga dan masyarakat melalui POSDAYA berbasis Masjid, berbasis masyarakat dan berbasis individu dalam upaya pembangunan sosial dan ekonomi.

The overriding goal of this activity is to apply the concept of empowering all segments of the age spectrum in the family and the community through Mosque-based POSDAYA model, community-based and individual-based models in economic and social development.

Rincian dari tujuan umum tersebut tersaji tujuan khusus seperti berikut:
Pertama adalah untuk menyajikan pengalaman POSDAYA berbasis Masjid kepada para peserta internasional maupun nasional;
Kedua adalah memaparkan pengalaman Indonesia dalam pemberdayaan masyarakat dalam upaya pembangunan sosial melalui model POSDAYA berbasis Masjid serta model-model lain yang ada;
Ketiga adalah mengajak para peserta untuk menerapkan model POSDAYA berbasis Masjid dan juga model-model lain, dalam komunitas masing-masing sesuai dengan kondisi setempat;
Keempat dan yang terakhir adalah untuk menyajikan kepada peserta internasional dan nasional pemanfaatan POSDAYA berbasis Masjid sebagai lokus data basis untuk upaya pembangunan sosial dan ekonomi dan program-program lain di masa mendatang.


Derived from the above, the specific objectives are as follows:
First and foremost is to share the Mosque-based POSDAYA model as applied in Indonesia, specifically in Bantul District, Yogyakarta, and models to international and national participants
Secondly, is to share IndonesiaÆs experience in empowering the community in social development through faith-based POSDAYA and other models
Thirdly, the OST invites participants to adapt the Mosque-based POSDAYA and other community-based models to their respective settings, as appropriate
Fourth, and last is to share with international and national participants the inception of local Mosque-based as the forum for establishing data base for incumbent social and economic development and other future programs.

THE METHODOLOGY
Para peserta internasional dan nasional diundang untuk turut serta dalam Observation Study Tour (OST) selama kurang dari satu minggu, dengan rincian waktu 30 persen untuk orientasi dan diskusi, disusul 60 persen untuk pengamatan dan diskusi di lapangan bersama rekan sebidang kerja dilapangan dan dengan para fasilitator. Sisa waktu 10 persen adalah untuk evaluasi dan formulasi pemikiran untuk kemungkinan penerapan setelah para peserta kembali kelingkungan kerja masing-masing.

National and international participants are invited to attend a maximum of one-week observation study tours which comprise of 30 percent in-class orientation and discussions, followed by 60 percent of field observation and discussion with local counterparts and resource persons. The remaining 10 percent of their time was spent to evaluate and formulate their respective thoughts for eventual possible adaptation upon their return.

Pembukaan dan orientasi awal dilakukan di kantor Yayasan DAMANDIRI dihadiri juga oleh beberapa Nara Sumber dan Pakar dalam bidang masing-masing. Hadir pula dalam Pembukaan dan Orientasi awal, Dutabesar Republik Islam Pakistan, MayJen (Pur)Ali Baz Khan. Dalam kunjungan lapangan dilakukan peninjauan pada berbagai upaya pembangunan sosial yang sedang berjalan, utamanya yang berbasis Masjid di Bantul dan Sleman. Dalam kunjungan lapangan ini telah diundang dan hadir para pemuka masyarakat yang langsung memberikan fasilitasi dan diskusi. Masyarakat umum juga diundang dan hadir. Dimana perlu para peserta nasional bertindak juga selaku fasilitator.


The opening and in-class orientation were done at the DAMANDIRI Foundation office with invited resource persons who are experts in related fields. Also attending during the Opening and Initial Orientation was the Ambassador of Pakistan, HE Maj Gen (Ret) Ali Baz Khan. During the field observations, site visits were made to relevant on-going activities in social development, specifically the Mosque-based POSDAYA at Bantul and Sleman Districts. During these observation, local authorities and community leaders were invited to facilitate and moderate in discussions with local persons attending. When required national participants were also invited to facilitate these discussions.

PREPARING THE OST: ADVOCACY, PROMOTION AND ôSELLING THE PRODUCTö
Dalam kerjasama dengan BKKBN/PULIN Yayasan DAMANDIRI telah menyiapkan brosur berjudul ôObservation Study tour (OST) on Community Empowerment through the Posdaya Modelö. Brosur ini merupakan bagian dari paparan Prof Dr Haryono Suyono pada Konferensi Internasional para pemuka agama Islam yang mendukung MDGs yang berlangsung di Bali pada bulan Januari 2007. Kemudian, brosur diedarkan dan dikirimkan ke semua kedutaan/perwakilan di Jakarta, dan Lembaga-lembaga Internasional yang telah berhubungan dengan Yayasan DAMANDIRI.

DAMANDIRI Foundation in joint cooperation with the International Training arm of BKKBN prepared the basic Brochure for the OST, entitled ôObservation-Study Tour (OST) on Community Empowerment through the Posdaya Modelö. This brochure came as part of the presentation of Prof Dr Haryono Suyono at the International Conference of Muslim Leaders in Support of the MDGsö held in Bali on January 2007. Thereafter, the Brochure was circulated and distributed to all Embassies in Jakarta, and to International Agencies whom the DAMANDIRI Foundation have been in contact with.

Undangan untuk para peserta dikirimkan langsung ke lembaga dimana para peserta berafiliasi dan/atau ke Kedutaan Besar Negara masing-masing di Jakarta. Undangan juga langsung dikirimkan ke lembaga yang berwenang dan kedua organisasi di Jakarta dan di propinsi. Brosur mengenai OST juga disebar-luaskan melalui internet. Kunjungan advokasi juga dilakukan ke ke Kedutaan Besar Negara-Negara bersangkutan di Jakarta.

Letters inviting participants to the OST were sent directly to agencies and/or via Embassies in Jakarta. Direct invitations were also sent to national authorities and organizations both in Jakarta and the provinces. The organizers also circulated invitations and the brochure via the internet. Courtesy calls to embassies were also made in Jakarta.

Disamping itu brosur juga dikirimkan ke pihak-pihak yang bersangkutan melalui para pejabat/petugas yang menghadiri konperensi internasional, seperti ke RR China, Amerika Serikat, Mesir dan Tunisia.

In addition, the brochure was also circulated by program personnel who attended international conferences, including to China, USA, Egypt and Tunisia.



PREPARING THE OST: ADMINISTRATIVE ARRANGEMENTS
Persiapan pelaksanaan OST mencakup hal-ihwal perencanaan administratif, anggaran, persiapan lapangan dan perencanaan kegiatan di lapangan. Kesemua dilakukan dengan kerjasama erat dengan lembaga mitra kerja, tidak saja dengan BKKBN, tetapi juga dengan Yayasan TATANG NANA yang menjadi mitra pelatihan dalam hal-ihwal upaya POSDAYA barbasis Masjid

Preparations for the OST included administrative plans, budgetary, site planning and on-site planning. All of these were done in collaboration with partner organizations, not only BKKBN but also with TATANG NANA Foundation who was partnering on the substantive matters of the Mosque-based POSDAYA.

Persiapan administratif termasuk pula penentuan/penugasan personil untuk tugas-tugas tertentu serta memberikan orientasi kepada mereka. Termasuk pula hal-ihwal protokoler termasuk masalah visa, penyiapan akomodasi di Jakarta dan di Jogyakarta. Kesemuanya membawa implikasi anggaran bagi kegiatan ini.

The administrative plans included deciding on the personnel assigned in specific tasks and briefing them, protocol matters including visas and accommodation in Jakarta and in Jogyakarta, and transportation issues, also for Jakarta and Jogyakarta. All of those have specific implications on the budget for the OST.

Penyiapan dan perencanaan di lapangan meliputi kunjungan di tempat serta memberikan penjelasan kepada Pengurus Masjid di Bantul dan Sleman. Kesemuanya membutuhkan pertemuan yang panjang namun bermanfaat, utamanya mengingat kedalaman dan luasnya cakupan materi yang akan disajikan kepada para peserta OST. Kunjungan kelapangan dilakukan oleh penyelenggara OST bersama pejabat Yayasan TATANG NANA.

The physical and site planning, included site visits and briefing to the Masjid Board at Bantul and Sleman. These were lengthy meetings, but well worth it especially considering the depth and breadth of the matters to be shared with the OST participants. In total the OST organizers did one on-site planning together with the assigned TATANG NANA Foundation staff.

PREPARING THE OST: ADVANCE DOCUMENTS
Dengan petunjuk Pimpinan Yayasan DAMANDIRI, penyelenggara OST juga menyiapkan berbagai dokumen pendukung, yang antara lain meliputi:

DAMANDIRI FOUNDATION -- The Institution Profile; dokumen ini memaparkan visi dan misi Yayasan DAMANDIRI, serta pencapaiannya hingga kini;

Center for International and National Training and Cooperation in Social Development; ini merupakan dokumen yang memaparkan hal-ihwal tentang program pelatihan dan kerjasama internasional dan internasional dari Yayasan DAMANDIRI, serta rencana kerja ditahun-tahun mendatang

Observation Study Tour (OST) on Mosque-based Community Empowerment through the POSDAYA Model; dokumen ini memuat deskripsi dari OST ini, dan merupakan dokumen yang telah disebar-luaskan keberbagai kalangan;

The Eight Function of the Indonesia Family and MDGs; dalam dokumen ini dipaparkan penjelasan mengenai prinsip-prinsip dari Delapan Fungsi Keluarga Indonesia, serta betapa prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan sasaran MDGs;
The Elderly in Surabaya; ini memaparkan hasil penelitian awal mengenai Kelompok Usia Lanjut yang dilakukan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

In preparation of the OST the organizers with the guidance of the top management of DAMANDIRI Foundation prepared several supporting documents, which among other things included the following:
DAMANDIRI FOUNDATION û The Institutional Profile, describing the FoundationÆs vision and mission, and what it has achieved to date;

Center for International and National Training and Cooperation in Social Development, a document elaborating the DAMANDIRI Foundations International and National Training program, the work plan for the years ahead;

Observation Study Tour (OST) on Mosque-based Community Empowerment through the POSDAYA Model, which is the brochure about the OST. This was the document circulated widely;

The Eight Function of the Indonesia Family and MDGs, which is the document describing the DAMANDIRI FoundationÆs ideas and concepts of how the basic Eight Functions of the Indonesian Family match with the later-issued objectives of the MDGs;
The Elderly in Surabaya; a document containing a preliminary study of the elderly in the City of Surabaya, East Java.

Disamping itu kepada para peserta OST juga diberikan folder/sampul khusus yang mencantumkan beberapa prinsip kerja Yayasan DAMANDIRI, di antaranya Breaking the Poverty Chainö dan Nurturing Hopes for a Better Future.
n addition, participants were also given a specially designed and printed file folder which describes DAMANDIRIs principles in Breaking the Poverty Chain and Nurturing Hopes for a Better Future.

THE PARTNERS AND PARTNER ORGANIZATIONS
Serupa dengan kegiatan-kegiatan lain, dalam kegiatan OST ini Yayasan DAMANDIRI juga menggalang kerjasama dan kemitraan dengan Kepala BKKBN dan Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan Program BKKBN. Kerjasama khusus juga digalang dengan:
BKKBN, Pusat Pelatihan dan Kerjasama Internasional; Pusat pelatihan yang lazim disebut dengan Pusat Pelatihan Internasional (ITP) ini telah mencatat lebih dari 4,000 peserta pelatihan internasional sejak didirikan pada tahun 1987. Pusat ini juga berpengalaman dalam menyelenggarakan konperensi internasional di Indonesia, dan memberikan rujukan materi bagi konperensi internasional ditempat lain.

Yayasan TATANG NANA; yayasan ini telah berpengalaman selama lebih dari 20 tahun dalam pembangunan masyarakat berbasis agama, khususnya Islam. Yayasan ini juga merupakan salah satu mitra Yayasan DAMANDIRI upaya dalam pelembagaan dan pembudayaan Posdaya berbasis Masjid.

BKKBN Propinsi DI Jogyakarta; dalam era desentralisasi ini BKKBN propinsi Yogyakarta memegang peran yang strategis dalam upaya pembangunan keluarga dan masyarakat, dan dalam kegiatan-kegiatan reproduksi sehat, dengan otonomi yang dikuasakan kepadanya. Dengan pengalamannya menyelenggarakan berbagai konperensi internasional di Yogyakarta, maka berbagai pelatihan internasional banyak diselenggarakan di tempat ini. Ini pula alas an OST ini diselenggarakan di Yogyakarta.

BKK dan Pemberdayaan Masyarakat, Kab Bantul; tadinya dikenal sebagai BKKBN kabupaten Bantul, dengan desentralisasi kini menjadi tangan operasional PemKab Bantul untuk upaya kesehatna reproduksi, keluarga berencana, dan spectrum yang lebih luas dari Pembangunan Kependudukan. Dalam pengembangan Posdaya berbasis Masjid, Bantul merupakan daerah pilot, dan dengan alas an itu maka OST menggunakan tempat ini untuk OST ini.

BKK dan Pemberdayaan Masyarakat, Kab Sleman; serupa dengan di Bantul, Sleman mempunyai tingkatan yang sama, dengan karakteristik khusus mendekati daerah urban. Gambaran utama dari daerah ini sebagai lokasi OST adalah bahwa Posdaya berbasis Masjid disini telah lengkap dan komprehensip mencakup hamper semua segi kehidupan permberdayaan keluarga. Disini para peserta OST diperagakan betapa Posdaya yang komprehensip seyogyanya bekerja dan berfungsi.

Pengurus Masjid Baiturrahman, Sleman; pengurus Masjid Baiturrahman kiranya perlu diberikan pujian atas keberhasilan mereka mendorong motivasi kepada jemaahnya untuk upaya yang lengkap dan komprehensip dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat, juga untuk memberikan kebanggaan kepada jemaahnya memperagakan kesemuanya. Pada kenyataannya justru masyarakat masjid inilah yang telah berlaku sebagai fasilitator dalam kunjungan lapangan ini.

Pengurus Masjid Jamal, Bantul; seperti telah disebut dimuka Masjid ini merupakan salah satu ôpilotö pelembagaan Posdaya berbasis Masjid. Salah satu eksperimennya adalah untuk menanamkan motivasi Jemaahnya untuk merintis upaya kearah pembentukan keluarga dan masyarakat sejahtera. Tantangan ini ternyata telah direspons oleh masyarakat, dengan antara lain menunjukkan kegiatan yang bahkan melibatkan peran yang signifikan para lanjut usia. Lebh dari itu, seluruh Bahkan seluruh spectrum kelompok usia turut serta dalam kegiatan Posddaya berbasis Masjid ini, tidak saja kelompok lanjut usia, tetapi juga para dewasa dan orang tua anak, remaja, anak-anak sekolah, kelompok Balita, orang tua bayi dan dibawah tiga tahun.

Similar to all other activities, in this endeavor DAMANDIRI Foundation/the organizers forged special training links with the Chairman of BKKBN, the Deputy for Training and Program Development of BKKBN. Special and technical links were also made with:
BKKBN, i.e. the Directorate for International Training and Cooperation; this directorate or more commonly called as the Center for International Training, has hosted more than 4,000 international participants since its founding in 1987. It was also instrumental in organizing international conferences in Indonesia, and contributing substantive materials to conferences held elsewhere.

TATANG NANA Foundation; this foundation has experience in religious-based community development for more than 20 years. It is one of the partners the DAMANDIRI Fountation in institutionalizing the Mosque-based Posdaya.

Province BKKBN of Jogyakarta; in the present era of decentralization, provincial and district BKKBNs maintains its key role in family development and in reproductive health programs, yet having their own autonomy in their operational matters. As Yogyakarta has hosted numerous international conferences, and also as the success of this province is widely known, international training have often been held in this provinces. Hence, the choice of Yogyakarta as the field site for this OST, gives the province BKKBN its prominent role.

District BKK and Empowerment Authority of Bantul; formerly known as Bantul BKKBN office, with the decentralization, it has become the operational arm of the Bantul District in activities related to reproductive health, family planning, and the broader spectrum of Population and Development. For the Mosque-based Posdaya, Bantul was selected as the pilot for all concerned to observe and study. Hence the choice to utilize BantulÆs experiences to this OST.

District BKK and Empowerment Authority of Sleman; Similar to its sister district as aforementioned, Sleman has the same stature, but more urban in nature. One major feature of the Baiturrahman Mosque which was utilized as the other observation site, the Mosque-based Posdaya is complete and comprehensive. The OST participants were given the full range of activities and initiatives of how a full-fledged Posdaya could take its form.

Management and Mosque Committee of Baiturrahman Mosque at Sleman; the management and governing council of this mosque is commended for its success in motivating its Jemaah (constituents) to embark on such a diverse family and community welfare activities, and also in instilling pride in demonstrating all of those to international participants. In fact they were active as facilitators to the OST.

Management and Mosque Committee of Jamal Mosque at Bantul; as aforementioned this mosque is one of the pilot for the Mosque-based Posdaya development. One of the ôexperimentsö in this endeavor is to motivate the Jemaah to embark on novel family and community welfare activities. This challenge was responded to by the whole Jemaah in that it even had significant elderly welfare program demonstrated to the OST. In fact the whole spectrum of age brackets were participating in the Mosque-based Posdaya activities, embracing not only the elderly, the adult population and parents, the youth and adolescents, school children, the underfives, and parents of infants and under threeÆs.
Dengan cara demikian maka OST menjadi lebih inovatif dan lebih bermakna dalam penyajian materi dan substansi serta dalam penyelenggaraan di lapangan.
It is in this fashion that the OST became more resourceful and more innovative in its substantive and field handling.

THE PARTICIPANTS
Peserta dari OST ini terdiri dari para pejabat pemerintah dan non-pemerintah, pada tataran nasional dan sub-nasional, yang dewasa ini terlibat aktif dalam upaya pembangunan sosial. Cakupan upaya pembangunan sosial memang meliputi spectrum yang sangat luas, dan dapat diarahkan pada semua segmen penduduk, namun kesemuanya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan individu mapun keluarga dan komunitas sekeliling.

The participants to this Observation-Study Tour are public officials and NGO staff at national and sub-national levels, who are currently engaged in social development activities. The scope of social development covers a wide spectrum, and can be directed for all segments of the population, but will be in any case directed towards enhancing welfare of individual families and their immediate local communities.
Perlu kiranya dicatat bahwa OST ini merupakan suatu proses pembelajaran, maka dari itu para penyelenggara-pun turut menjadi peserta penuh OST ini.
Note that as the OST is a learning process the organizers also consider themselves as full participants.

THE FUNDING
Pembiayaan para peserta internasional ditanggung bersama, yakni bahwa mereka menyediakan sendiri biaya perjalanan pulang-pergi dari tempat asal hingga ke Jogyakarta. Yayasan DAMANDIRI memberikan subsidi berupa biaya akomodasi dan transport lokal selama mereka di Indonesia.
Funding of international participants is shared, i.e. they fund their own return travel from their respective place of origin to Jakarta and Jogyakarta. DAMANDIRI subsidizes their accommodation and local transportation costs while in Indonesia.
Bagi peserta nasional yang bermukim di Jakarta, Yayasan DAMANDIRI memberikan biaya perjalanan pulang-pergi dan biaya akomodasi selama di Yogyakarta. Bagi peserta dari Yogyakarta, Yayasan DAMANDIRI menyediakan uang harian untuk menutup biaya transport lokal.

For national participants who originate from Jakarta, DAMANDIRI Foundation provides them with return air ticket to Jogyakarta and accommodation costs. For Jogyakarta participants, DAMANDIRI Foundation provides them with stipends to cover local transport.
Fasilitator dari Yayasan DAMANDIRI tidak diberi honoraria. Honoraria hanya diberikan kepada fasilitator yang berasal dari luar kalangan DAMANDIRI.
Facilitators from DAMANDIRI Foundation are not given any honoraria, and only outside facilitators are given.

THE OPENING SESSION
Pada tanggal 15 Juli jam 19:00 Dr Sugiri Syarief, Kepala BKKBN menemui dan menjamu para peserta di Hotel Bidakara. Acara ini diadakan karena Dr Sugiri Syarief behalangan pada Pembukaan OST keesokan harinya. Dr Sugiri Syarief didampingi oleh Drs Imam Haryadi, Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan Program, BKKBN.
The evening of July 15 at 19:00 Dr Sugiri Syarief, Chairman of BKKBN hosted a dinner

at the Bidakara Hotel to meet with the participants. This event was held as Dr Sugiri Syarief was unable to attend the Opening Session due to prior commitment. Dr Sugiri Syarief was accompanied by Drs Imam Haryadi, Deputy for Training and Program Development of BKKBN.

Pembukaan OST dilakukan di Yayasan DAMANDIRI. Dr Qodry Azizy, Sekretaris Menteri Koordinator Kesra RI membawakan sambutan pembukaan. Dalam sambutannya Dr Azizy menjelaskan falsafah kehidupan beragama di Indonesia, dan penerapan ajaran agama, khususnya Islam, dalam upaya pembangunan nasional.

The opening session was done at DAMANDIRI Foundation. Dr Qodry Azizy, Principal Secretary of the Coordinating Minister for People’s Welfare, gave the opening address. In his address Dr Azisy explained to the OST the basic philosophy of religious life in Indonesia, and the application of religious teachings, especially of Islam, to national development.

Dr Sulastomo, Ketua YAMP (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) memberikan paparan mengenai landasan berfikir dibalik upaya YAMP membangun 999 masjid di seluruh Indonesia pada tahun 2010. Pada saat ini jumlah yang sudah dibangun adalah 960 masjid, yang telah pula diserahkan kepada masyarakat setempat. Beliau mengetengahkan bahwa arsitektur semua masjid tersebut serupa, yakni dengan tiga lapisan ke atas, yang mengibaratkan tiga tahapan kehidupan manusia hingga akhirnya mencapai keImanan yang hakiki, dilingkari oleh lima sisi dari Pancasila. Ke-lima sila dari Pancasila adalah (1) KeTuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan perwakilan, (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Dr Sulastomo, Chairman of YAMP (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) delivered his presentation on the basic ideas behind YAMP’s efforts to construct 999 masjids throughout the country by 2010. At the moment YAMP has completed 960 masjids and those have been handed over to local communities. He remarked that the architecture of all those masjids are uniform, featured by the three tiers of the roof construction, symbolizing the three levels of life cycles, beginning from the merriment of worldly life to the pious ages of the elderly, on to the death and after-life, and culminating at the eternal existence of The Almighty, circumscribed by the five-pillars of the Indonesian ideology. Note that the five pillars comprise of (1) Belief in the One Almighty God, (2) Just and Civilized Humanity, (3) the Indonesian Unity, (4) Democracy guided by the Wisdom of Consensus in Representation, (5) Social Justice for all Indonesian People.

DIALOGUE AT THE STATE ISLAMIC UNIVERSITY SUNAN KALIJAGA IN JOGYAKARTA
Bagian pengamatan/peninjauan di lapangan diawali dengan acara pengantar dan dialog dengan pemuka Islam di Jogyakarta yang berlangsung selama satu hari di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogyakarta. Di tempat ini OST disambut oleh Prof Dr Amien Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga. Beliau menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan landasan bagi kegiatan pengabdian masyarakat dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa tingkat akhir. Beliau memberikan berbagai contoh nyata dimana para mahasiswa dan para dosen ditugasi.

The field observation portion began with a one-day introductory session and dialogue with Muslim Leaders in Jogyakarta, which was hosted by the Jogyakarta State Islamic University ôSunan Kalijagaö. The OST was welcomed and briefed by the Chancellor of the University, Prof Dr Amien Abdullah. He iterated that community empowerment is the principle of the civic mission of all graduating classes of the university. He gave examples of several projects where students and the teaching staff of the Islamic University were given assignments to.

Sessi berikutnya di UIN Sunan Kalijaga hari itu dipimpin oleh Dr Fatimah Husein, staf pengajar senior dari program Pascasarjana UIN. Sessi ini mendengar paparan dari tiga staf pengajar mengenai pengalaman dan pandangan mereka dalam pengabdian masyarakat dan memimpin para mahasiswa tingkat akhir. Dalam sessi ini juga dipaparkan pandangan dari MUI dan Dewan Masjid Indonesia Cabang Yogyakarta. Diskusi dan dialog berlangsung dengan terbuka, jujur dan meriah.

The following session was led by Dr Fatimah Hussein, a senior faculty of the UniversityÆs postgraduate program, and heard presentations from three faculty members who have had experience in such civic missions of the graduating classes, and also from the Majlis Ulama of Jogyakarta, and the Masjid Council of Jogyakarta. The discussions were open, candid, and lively.

Di siang hari OST mendengarkan paparan dari Bapak Asiaaf K. Utomo, dari Yayasan TATANG NANA yang difokuskan pada pengelolaan Posdaya berbasis Masjid. Paparan juga diberikan oleh Drs Mazwar Noerdin dari Yayasan DAMANDIRI mengenai sistem Pencatatan dan Pelaporan Posdaya. Panel ini dipimpin oleh Dr Pudjo Rahardjo dari Yayasan DAMANDIRI.

The afternoon session heard presentations from Mr. Asiaaf K. Utomo, of TATANG NANA Foundation, focusing on managing the masjid-based Posdaya, and from Drs Mazwar Noerdin, on the recording and reporting system of the Posdaya. This panel was moderated by Dr Pudjo Rahardjo of DAMANDIRI Foundation.

FIELD OBSERVATION AT MASJID JAMAL, BANTUL
Masjid Jamal di Bantul dimaksudkan menjadi lokasi peninjauan sebagai perwujudan awal dari Posdaya berbasis Masjid. Dalam waktu yang relatif singkat sejak persiapan 3 minggu lampau Posdaya di masjid ini telah berkembang dengan pesat. Hal yang mengesankan adalah partisipasi dari lingkungan masyarakat sekitar yang luar biasa.

Mosque Jamal of Bantul was meant to be the observation site of the embryonic stage of the Mosque-based Posdaya. Yet, in a relatively short time since the final preparatory visit 3 weeks prior, the Posdaya at this mosque has developed impressively. Particularly striking was the community participation in hosting this particular event. The turn-out was most remarkable.

Di masjid ini kepada OST diperagakan kegiatan Posyandu lengkap dengan 5 kegiatannya, pendidikan agama untuk anak-anak, kegiatan-kegiatan para remaja, upaya peningkatan pendapatan keluarga (UPPKS), kerajinan tangan, kesehatan dan olahraga bagi lansia. Di tempat ini diperkenalkan juga para donatur yang membantu program Posdaya di masjid tersebut.

The OST was shown activities beginning from the Posyandu with its full complement of five desks, to Religious Education for children, activities of the youth, Income Generating, including handicraft products, geriatric health and sports for the elderly. The OST was also introduced to the Donaters of the Mosque-based Posdaya.

FIELD OBSERVATION AT MASJID BAITURRAHMAN, SLEMAN
Masjid Baiturrahman Sleman, di tempat ini OST disambut oleh marching band anak-anak. Sambutan juga diberikan oleh Bapak Camat Sukoharjo, Pimpinan Dewan Masjid, Bapak Wiratno, dan seluruh masyarakat sekitar masjid.

At the Baiturrahman Mosque at Sleman, the OST was welcomed by the children’s marching band. On hand to welcome were also the sub-district head (Camat) of Sukoharjo, the chairman of the mosque council, Mr Wiratno, and the whole community residing in the vicinity of the mosque.

Peserta OST juga berinteraksi dengan semua yang hadir. Shalat berjamaah yang di pimpin oleh peserta dari Pakistan, menandakan bahwa masyarakat sekitar menerima kedatangan tamu internasional.

The OST met with all attending the event at the mosque. Joint prayers (sholat berjamaah) was also held with the OST participant from Pakistan acting as the Imam, that actually symbolizes the acceptance of the local mosque community to the international guests.

Kegiatan peninjauan dan dialog di Posyandu berbasis Masjid juga dilakukan dengan para peserta KB dan anggota UPPKS, dilanjutkan dengan peninjauan ke koperasi dan peternakan sapi milik koperasi tersebut.

The OST observed and had dialogue at the mosque-based Posyandu, with the family planning acceptors and income generating members, and went on to observe the cooperatives and cow breeding farm of the cooperative.

Drs. Subiakto Tjakrawerdaja, Sekretaris Yayasan Damandiri berkenan menghadiri keseluruhan acara di masjid tersebut.

Drs Subiakto Tjakrawerdaja, Secretary of the DAMANDIRI Foundation attended the whole event at this mosque.

ESTABLISHING RAPPORT AND DISCOURSES
Hubungan akrab (rapport) sangatlah penting dalam kegiatan OST, dan telah menjadi prioritas dalam OST ini. Walaupun tidak semua peserta dapat berbahasa Inggris dengan baik, hubungan akrab dapat terwujud dengan saling berbagi dan saling membantu selama kegiatan berlangsung, terutama dalam acara bebas.

Rapport is most essential in any OST, and much strived for in the present one. Although not all are conversant in the working language, i.e. English, rapport is established through the mutual sharing in all events, especially the socials and free times.


Hubungan akrab (rapport) sangatlah penting dalam kegiatan OST, dan telah menjadi prioritas dalam OST ini. Walaupun tidak semua peserta dapat berbahasa Inggris dengan baik, hubungan akrab dapat terwujud dengan saling berbagi dan saling membantu selama kegiatan berlangsung, terutama dalam acara bebas.
Pada sesi resmi dan tinjauan-tinjauan lapangan, para fasilitator bertanggung jawab untuk menciptakan hubungan baik (rapport) dan membentuk kesepahaman. Diskusi mencapak hasil karena para fasilitator senantiasa memantau minat para peserta, membuat mereka tertarik dengan pokok bahasan dan paparan, selalu memberikan komentar mengenai hal yang belum jelas , dan pada saat yang tepat memberikan contoh dengan kasus-kasus nyata dengan data empirik.

At official sessions and field observations, it was the facilitators who were responsible to enhance rapport and mutual understanding. Discussions were done with the facilitators constantly cognizant of the audience, i.e. their interest in the topic and the presentation, giving comments where things appear to be unclear, and at certain instances giving case illustrations from empirical realities.

Satu prinsip yang harus diperhatikan adalah bahwa para fasilitator tidak menggurui, tetapi bertindak sebagai peserta OST juga.

One important principle is that facilitators should not consider themselves as teachers or instructors, rather they are part of the OST, and hence also participants.

SUMMING UP and CLOSING
Pada sesi terakhir risalah kegiatan OST disajikan oleh Dr.Pudjo Rahardjo, mewakili seluruh peserta. Risalah tersebut memuat seluruh kegiatan dari hari pertama hingga puncak acara yang berlangsung di TVRI, ôPlengkung Gadingö. Yang perlu dicatat adalah bahwa para peserta mengungkapkan kesan mereka terhadap kegiatan POSDAYA dan OST ini langsung dalam siaran langsung tersebut

At the final session summing-up notes were presented by Dr Pudjo Rahardjo, on behalf
of all the participants. These notes summarizes the process of the OST from Day -1 to the culmination at the live TVRI broadcast, the ôPlengkung Gadingö. Worth noting is that participants presented their most favorable impression about POSDAYA and the OST in this live broadcast.

Sambutan penutup disampaikan oleh Drs. Subiakto Tjakrawerdaja, Sekretaris Yayasan DAMANDIRI. Dalam sambutan tersebut, beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya dan memberi penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para peserta atas komentar-komentar serta masukan-masukan untuk meningkatkan partisipasi dan kelanjutan dari program OST dan POSDAYA di masa yang akan datang

The Closing Address was delivered by Drs Subiakto Tjakrawerdaja, Secretary General of the DAMANDIRI Foundation. In his address he expressed thanks and appreciation to all participants for their comments and inputs for improving the conduct of future OSTs and the POSDAYA program. His closing remarks is attached to this report.


LESSONS LEARN
Pelajaran terpenting adalah komposisi dari para peserta. Kedua adalah jumlah peserta seyogyanya tidak lebih dari 20 orang. Ketiga adalah para fasilitator. Keempat adalah kemitraan dan bekerja sama dengan institusi lain. Kelima adalah proses belajar, baik dengan pendekatan linduktip ataupun deduktip, atau bahkan kombinasi keduanya.. Keenam adalah dokumentasi OST dengan foto-foto (gambar) dan video, yang disebarkan kepada semua pihak terkait. Keterangan lebih lanjut terurai berikut.

Most significant is about the composition of the participants. Second is that the total number of participants should not exceed 20 persons. Third is about the facilitators. Fourth is partnering and collaborating with other institutes. The fifth is about the learning process, whether it is the deductive or inductive approach, or the combination of the two. Sixth, is the documentation of OST through photo and video files, and distributing those to all concerned. The following details all of the aforementioned.

Komposisi para peserta. OST ini telah menunjukkan bahwa dengan komposisi presentase 50-50% antara peserta nasional dan peserta internasional, adalah yang terbaik. Interaksi diantara mereka lebih hidup, diskusi lebih terbuka, dan tanya jawab menjadi lebih menarik. Komposisi ini disarankan untuk program OST selanjutnya.

The composition of participants. The present OST proved that with a 50-50 percent composition of national and international participants, the interaction among participants is best enhanced. The sharing more open, and the dialogue more intense. This is recommended to be the future fundamental operating procedure for the OSTs.




Jumlah peserta tidak seyogyanya lebih dari 20 orang. Peserta penuh OST kali ini berjumlah 15 orang, yang terbukti sangat efektif. Dengan 2(dua) fasilitator dari Yayasan DAMANDIRI, dan 1(satu) staff administrasi, penyelenggaraan cukup efektif, termasuk menangani kegiatan sosial.

The total number of participants should not exceed 20 persons. The present OST has 15 full time participants, which has proved to be effective. With two facilitators, cum participants, from DAMANDIRI Foundation, and one administrative assistant, the host team is most effective, including handling the socials.

Para fasilitator dari OST ini, seperti disebut dimuka, telah bertugas efektif. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa fasilitator harus mengetahui benar hal-ihwal Posdaya baik hal ihwal internal maupun eksternal, juga program pembangunan kependudukan pada umumnya. Pengalaman juga, menunjukkan bahwa senioritas bukanlah hal yang menentukan, namun yang perlu diperhatikan adalah agar fasilitator dapat membina hubungan dengan pejabat-pejabat lokal yang juga adalah pejabat senior

The facilitators of this past OST was sufficiently effective, i.e. the three persons afore mentioned. One reminder is that the facilitators should be well-versed with the inner and outer workings of the Posdaya, and the population-development program in general. Seniority should not be the rule, yet be considered as facilitators actually come in contact with local officials who are senior as well.

Kerjasama dan kemitraan seyogyanya menjadi dalil mutlak. Hal ini tidak hanya menyangkut öoutsourcingö, namun lebih penting lagi adalah agar para fasilitator tidak bersikap ötahu semuanyaö. Kerjasama dengan Yayasan TATANG NANA adalah tepat, juga bekerjasama dengan propinsi daerah serta BKKBN Yogyakarta merupakan kelebihan, namun masih banyak alternatip pilihan yang dapat dikembangkan. Misalnya dengan UIN Sunan Kalijaga, hal tersebut juga sangat tepat, walaupun masih memerlukan penyamaan persepsi disana-sini; secara akademis mereka ideal walaupun masih perlu penguatan empirik.

Partnering with other institutes should be an absolute rule. It is not only the ôoutsourcingö which is overriding, rather it is that the facilitators should never behave as ôknow allö persons. The choice of TATANG NANA Foundation to partner with was a perfect decision, also partnering with local province and district BKKBN was a good one, yet there may be other options for partnering that one has to explore. UIN Sunan Kali Jagaö was perfect, but they need considerable orientation, as they are good in the academic aspect but still lacking in the empirical side.

Proses pembelajaran deduktif dan induktif, perlu mendapat perhatian, yakni dimana pendekatan induktif bermula dari tataran makro, mulai dari perencanaan, dan bermuara pada tingkatan lapangan. Sedangkan pendekatan deduktif adalah sebaliknya, yaitu dimulai dengan peninjauan lapangan di tingkatan akar rumput dilanjutkan pada tingkatan pengambil kebijakan. Barangkali pendekatan yang terbaik adalah kombinasi keduanya, misalnya dengan mempertemukan keduanya di tingkat propinsi.

The deductive and inductive learning process, whereby with the inductive approach the process would dictate the OST to begin from the higher plane, ending at the grass roots. Whereas the deductive approach is the opposite, beginning with site observations at the grass roots, leading on toward the top level decisions and policies. Perhaps the best approach be the combination of the two, i.e. meeting both approaches at the province level.

Dokumentasi merupakan hal yang paling esensial untuk dapat memelihara agar kepedulian ôtetap hidupö, serta penting sebagai rujukan kegiatan mendatang dengan substansi yang sama.

Documentation is most essential in keeping interests ôaliveö, and important as reference for the coming activities of similar nature or substance.

FUTURE ACTIONS
Rencana kegiatan OST berikutnya adalah September 2007, namun berhubung bulan tersebut bertepatan dengan Ramadhan, maka diputuskan oleh Pimpinan Yayasan DAMANDIRI untuk disatukan di bulan November dengan rencana kegiatan OST pada bulan itu.

The next OST is planned for September 2007, but as the dates will be too near the beginning of Ramadhan, it is decided by the Chairman of DAMANDIRI Foundation to defer that to November and combine that with the planned November OST.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diutamakan, adalah sebagai berikut:
Perbaikan program kerja, sebagai berikut:
Hari 1(malam) : Pembukaan dan presentasi perkenalan singkat
Hari 2 (pagi) :Perjalanan menuju tempat tinjauan dan kunjungan lapangan
Hari 2 (siang) : Kunjungan dan peninjauan lapangan
Hari 3 (pagi-siang) : Tanya jawab dengan sumber daya luar
Hari 3 (siang) : Evaluasi dan Penutupan
Hari 4 : Keberangkatan
Perbaikan brosur untuk OST berikutnya termasuk pelajaran yang didapat saat ini.
Memulai kegiatan ôpemasaranö sedini mungkin.

Several actions which would need priority and attention are the following:
A Revision of the Work Programme, as the following:
Day 1 (evening) : Opening and short introductory presentations
Day 2 (morning) : Travel to Observation Sites and Site visit and Observation
Day 2 (afternoon) : Site visit and observation
Day 3 (morning-noon) : Dialogue with resource persons
Day 3 (afternoon) : Summing-up and Closing
Day 4 : Departure
Revising the Brochure for the next OST to include lessons learnt from the present one.
To begin the marketing activities as early as possible.
Selengkapnya…PDF
Selengkapnya…PDF
Selengkapnya…PDF

 
 
Comment  Read Comment
Send Artikel  Print Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online