Koperasi Perkulakan
Angkat Warung Posdaya dan Keluarga Miskin


Laporan: Ade

Perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih senang berbelanja di pasar modern. Hal ini tentu berdampak besar bagi keberlangsungan pasar tradisional dan warung-warung rakyat terutama yang tergabung dalam Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Keberadaan Koperasi Perkulakan menjadi angin segar menepis kondisi tersebut. Itulah sebabnya, Koperasi Wredatama (Koptama) Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) pada 30 Juli hingga 1 Agustus 2012 lalu menggelar Pelatihan Manajemen Koperasi Perkulakan.
Acara yang berlangsung tiga hari ini terselenggara atas kerja sama Koptama asuhan Dr (HC) Subiakto Tjakrawerdaja, Yayasan Damandiri dan Koperasi Serba Usaha Panca Bhakti (Kopanti) Bandung, Jabar. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memberdayakan ekonomi rakyat melalui pengelolaan koperasi perkulakan khususnya bagi usaha warung anggota Posdaya di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Acara yang digelar sebagai tindak lanjut dari tema besar Kebangkitan PWRI Peduli Harmonisasi dan Pemberdayaan Tiga Generasi, yaitu lansia peduli balita, lansia peduli remaja dan keluarga muda serta lansia peduli sesama lansia, mendapat perhatian serius berbagai kalangan. Bukan saja menghadirkan langsung Ketua Umum PWRI Prof Dr Haryono Suyono sebagai pembicara sekaligus meresmikan acara. Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K), seluruh kepala dinas koperasi dari tiga kabupaten pun turut hadir. Tak heran, bila puluhan peserta antusias mengikuti acara yang berlangsung di Gedung Pelatihan Dharmais, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.
Acara yang bersamaan dengan suasana puasa Ramadhan ini ternyata mempunyai arti khusus lainnya, karena bertepatan dengan hari ulang tahun dua tokoh penting yang hadir yaitu, Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K) dan Dr (HC) Subiakto Tjakrawerdaja.
Pada kesempatan itu, Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono menyatakan tentang pentingnya upaya saling peduli dan gotong royong antara yang kaya dan miskin. “Upaya-upaya yang akan kita coba latih hari ini adalah sambungan dari upaya pengembangan budaya saling peduli, budaya gotong royong, budaya membangun saling kebersamaan antara yang kaya dengan yang miskin,” tutur Prof Dr Haryono Suyono seraya menjelaskan alasan Kabupaten Bantul, Kulon Progo dan Pacitan yang jadi sasaran pertamanya.
Di hadapan 62 peserta, Prof Haryono menjelaskan, dipilihnya tiga kabupaten itu sebagai sasaran pertama pelatihan ini, Kabupaten Bantul misalnya merupakan kabupaten yang pertama mengambil oper pengembangan Posdaya. “Dari 26 Posdaya yang ada di Kabupaten Bantul, diambil oper menjadi garapan pemerintah daerah sehingga jumlahnya menjadi 933 Posdaya. Dibiayai rutinnya oleh pemerintah daerah, kemudian disambung oleh kabupaten-kabupaten lain seperti di Boalemo (Provinsi Gorontalo, red), Solok (Provinsi Sumbar, red) dan kabupaten lainnya,” ungkapnya.
Kedua Kabupaten Kulon Progo, lanjut Prof Haryono, karena selain bupatinya yang visioner dalam menanggapi kemajuan wilayah dan masyarakatnya juga menanggapi serius untuk mengembangkan Posdaya di seluruh Kabupaten Kulon Progo. “Dan lebih dari itu, pada hari ini sudah mengembangkan KAKB (Kelompok Asuh Keluarga Binangun red),” ucap Prof Haryono seraya menambahkan gagasan seperti itu di Indonesia baru dikembangkan tidak lebih dari sepuluh kabupaten seperti di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali yang mengembangkan budaya Manya Anyar atau keluarga kaya mengangkat saudara baru dari keluarga miskin.
Begitupun dengan Kabupaten Pacitan, imbuh Prof Haryono, bupatinya mempunyai kepedulian yang tinggi kepada rakyatnya. “Begitu disodori tentang Program Posdaya Bupati Pacitan langsung merespon dengan antusias. Bahkan pada saat itu Bupati Pacitan sepakat lebih baik investasi melalui rakyat desa dari pada mendapatkan proyek,” ungkap pria kelahiran Pacitan, 6 Mei 1938 ini menegaskan tekad Bupati Pacitan kala itu.
“Akhirnya sekarang Pacitan mempunyai 2011 Posdaya yang tersebar di seluruh desa dan kampungnya. Dan para keluarganya sudah mempunyai kebun bergizi di halaman rumahnya, mempunyai lebih kurang 400 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini, red), mempunyai pendidikan keagamaan dan lain sebagainya,” jelas Prof Haryono seraya menjelaskan itulah sebabnya ketiga kabupaten itu dipilih untuk membuat warung-warung di pedesaan miliknya anggota Posdaya.
Namun demikian, imbuh Prof Haryono, komitmen awal yang harus ditanamkan adalah pentingnya setiap orang menyadari bahwa dirinya miskin tetapi tidak menginginkan miskin terus. “Sehingga mereka menyadari harus bekerja keras dan cerdas. Cerdas memanfaat teknologi yang ada sehingga mempercepat produktivitas,” tegas Prof Haryono seraya mengungkapkan kegembiraannya kegiatan pelatihan yang digelarnya mendapat perhatian serius dari ketiga bupati yang langsung menugaskan para kepala dinas koperasinya.
Pelatihan ini digelar, ungkap Prof Haryono, diilhami dari keberhasilan Koperasi Kopanti yang berhasil sebagai pemasok tidak kurang dari 1.200 outlet dan melayani sekitar 57.000 anggota di kawasan Bandung dan sekitarnya. “Pengalaman dan keberhasilan koperasi di wilayah Bandung itu akan ditularkan untuk membantu warung-warung yang ada di Kabupaten Bantul, Kulon Progo dan Kabupaten Pacitan,” cetus Menko Kesra dan Taskin era Presiden Habibie ini seraya bersyukur pengembangan koperasi kulakan di ketiga kabupaten itu mendapat dukungan dari pemkab setempat, para pengelola pemberdayaan keluarga yang tergabung dalam Posdaya serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Oleh karena itu, lanjut Prof Haryono, para bupati ini mendapat tanggung jawab yang sangat besar mengangkat perekonomia rakyat yang dibangun melalui gotong royong, kepedulian, kebersamaan dan dinamika yang sangat tinggi. “Kalau Pak Bupati gagal, maka usaha ini akan mati, karena tantangannya luar biasa. Terutama dari mereka yang modalnya besar yang tidak rela Bapak menghidupi warung-warung kecil yang ada di desa,” tukas Prof Haryono.
Namun kalau berhasil, lanjut Prof Haryono, bisa dibayangkan ketiga kabupaten ini akan menjadi pusat kunjungan para kepala dinas koperasi kabupaten/kota juga para tokoh-tokohnya dari seluruh Indonesia untuk belajar koperasi kulakan. “Belajar bagaimana membangun koperasi kulakan dan warung-warung dari keluarga-keluarga Posdaya di desa yang para anggota dan pemiliknya saling peduli,” jelas Prof Haryono.
Melalui koperasi kulakan, ujar Prof Haryono, pengelolaan warung ditempatkan di rumah keluarga miskin agar dengan sendirinya keluarga miskin itu selain dapat sewa warung juga bertugas di warung milik annggota Posdaya itu. “Sehingga keluarga miskin ini mendadak dalam waktu singkat menjadi tidak miskin karena mereka mempunyai warung,” tambahnya.
Oleh karena itu, ucap Prof Haryono, pihaknya sengaja meminta pimpinan Kopanti untuk melatih peserta dari tiap-tiap kabupaten dalam waktu singkat. “Tidak tiga bulan, tetapi dalam waktu tiga hari,” jelas Prof Haryono seraya menambahkan nanti setelah sebulan pihaknya akan mengundang lagi untuk pelatihan lanjutan dari koperasi kulakan.
Pada prinsipnya, imbuh Prof Haryono, barang-barang yang dibeli oleh koperasi kulakan dari pabrikan atau pemasok utama itu merupakan pesanan atas dasar kebutuhan warung-warung yang jumlahnya diperkirakan minimal sebanyak 100 buah di setiap kabupaten.
Oleh karena itu, ucap Prof Haryono, pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan tenaga-tenaga muda yang ahli pada bidang pembelian dan bertanggung jawab untuk memproses pembelian kebutuhan masyarakat desa. “Selain itu akan dilatih dan ditempatkan tenaga gudang untuk memelihara agar barang yang disediakan mudah diakses dan segera dapat dikirim ke warung yang membutuhkannya,” tukasnya.
Pelatihan ini, tambah Prof Haryono, juga akan melatih secara cermat tenaga pemasaran untuk mempelajari keinginan dan keperluan masa depan penduduk desa agar koperasi dapat mengantisipasi penyediaan barang keperluan rakyat, mendahului permintaan kebutuhan oleh warung yang tersebar luas. “Kecepatan koperasi untuk melayani warung akan menjadi penentu, apakah warung-warung yang banyak itu tetap setia belanja kepada koperasi pemasok atau justru sebaliknya,” tegas Prof Haryono seraya menambahkan untuk menjamin kebutuhan modal kerjanya, setiap warung milik anggota Posdaya akan diberikan kesempatan menjadi nasabah Bank Bukopin, Bank BPD dan Bank BPR (Bank UMKM) di Yogyakarta dan Jawa Timur yang mendapat dukungan dana dari Yayasan Damandiri.
“Jadi intinya para tenaga muda yang mengikuti pelatihan ini, dengan bismillaahirrohmaanirrohiim, hari ini telah dikukuhkan menjadi pahlawan-pahlawan pembangunan pedesaan. Mereka akan berpikir visioner, yang bukan saja menjual barang tetapi mengangkat derajat dan martabat rakyat desa dengan pelayanan yang model tetapi murah meriah, berkualitas dan senyuman kasih sayang,” pungkasnya.
Hadir pada acara ini Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K), Sekretaris Yayasan Damandiri Dr (HC) Subiakto Tjakrawerdaja, Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Drs Pardimin, MPd, Ketua Induk Koperasi Wredatama PWRI Dr Fadjar Sofyar, Ketua LPPM UST Dra Siti Rochmiyati, MPd, Deputi Direktur Umum Yayasan Damandiri Dr Mulyono D Prawiro, Asisten Deputi Informasi dan Advokasi Yayasan Damandiri Drs Dadi Parmadi, MA, para staf ahli dan kepala dinas koperasi dari Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Pacitan, puluhan peserta dari tiga kabupaten serta undangan lainnya.
Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K) merespon positif gagasan yang dicetuskan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono tentang menggelorakan kembali budaya kepedulian, gotong royong dan kebersamaan antara yang kaya dan miskin. “Kami sepakat untuk mendekatkan antara yang kaya dengan yang miskin. Karena sharing dari keluarga pra sejahtera dengan sejahtera ini sangat penting dilakukan. Kalau mengangkat pra sejahtera itu hanya mengandalkan pemerintah saya kira tidak selesai-selesai,” tegas Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo, SpOG(K) seraya menyatakan dukungannya terhadap kegiatan Koperasi Kulakan yang diluncurkan di tiga kabupaten.
Untuk itu, Hasto Wardoyo, pihaknya telah membuat konsep pendampingan melalui sistem family, yaitu membentuk Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) yang akan memperkuat keberadaan sekaligus tindak lanjut Koperasi Kulakan tersebut di Kulonprogo. “Dari 88 desa yang ada di Kulon Progo, saat ini sudah ada 100 KAKB. Semuanya di bawah naungan Posdaya pada masing-masing wilayah. Dan satu KAKB ini harus punya dua unit usaha, satu di antaranya adalah unit warung keluarga,” papar Bupati seraya bersyukur.



Sumber : http://116.213.48.92/artikel/5852.shtml