Bermodal kucuran dana APBD sebesar Rp 10 Milyar, Kabupaten Wonogiri telah berhasil membangun ekonomi kerakyatan dari tingkat RT yang akan di-tingkatkan menuju Desa Idaman. Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, SH, yakin, ekonomi kerakyatan yang dikembangkannya akan mampu menciptakan daya saing menghadapi pasar global.
“Desa Idaman bisa dikatakan sama dan sebangun dengan apa yang diharapkan Gubernur Jateng, yaitu Bali nDeso Mbangun Deso”, ujar Begug Purnomosidi, SH, kepada Wartawan usai Seminar bertema “Budaya Nusantara dan Ekonomi Kerakyatan, Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Yang Berkeadilan” di Pendopo Kabupaten Wonogiri pada akhir Januari 2010 lalu.
Menurutnya, menghargai produk lokal penting, mengingat hasil karya bangsa harus mendapat dukungan komitmen pemerintah, baik di bidang pemasaran, permodalan dan sumber daya manusia. “Ketiga komitmen pemerintah ini saling terkait satu sama lain. Tapi jangan lupa, bahwa kita mau mengentaskan kemiskinan tentu tidak lepas dari program KB yang sementara ini terlupakan,” cetus Begug.
Dalam menangani kemiskinan, Kabupaten Wonogiri menempuh beberapa criteria. Kemiskinan di Wonogiri tentu saja berbeda dengan kemiskinan di daerah lain. “Kemiskinan di Wonogiri sudah ada by nama dan by address, sehingga memudahkan penanganan,” ungkap Begug.
Dengan hadirnya para tokoh nasional, seperti Menko Kesra Agung Laksono, Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Usman SH, mantan Menteri Penerangan Harmoko, Rahardi Ramlan sebagai pembicara seminar, diharapkan dapat menyikapi tidak hanya wacana, karena seminar yang digelar bukan sekedar wacana dan bukan mengumpulkan buku, tetapi seminar harus segera ditindaklanjuti. Apalagi, seminar juga dihadiri oleh tokoh masyarakat dari pengusaha hingga ketua-ketua koperasi tingkat Rt sebanyak 6.912 orang. Oleh karena itu kehadiran para nara sumber diharapkan bisa menambah dan memberikan pencerahan untuk berkembangnya koperasi tersebut demi mengatasi kemiskinan di Wonogiri
Begug yakin, ekonomi kerakyatan yang dikembangkan di Wonogiri akan mampu menciptakan daya saing menghadapi pasar global. Sebagai contoh, waktu Indonesia kena krisis, rakyat Wonogiri tidak tergoyahkan karena mereka memakai ekonomi koperasi. Meskipun hidupnya pas-pasan tetapi hidupnya tidak kolep seperti konglomerat. Rakyat tidak terpengaruh dan tetap hidup.
“Kalau perlu rakyat hanya beli garam karena semua sudah ada di kebunnya masing-masing,” ujar Begug Poernomosidi seraya menegaskan, bahwa menghadapi pasar global harus ada yang berani melangkah dan berani mensponsori. “Jangan sampai ganti pemimpin, ganti program, ganti pemimpin ganti kebijakan, pasti tidak akan jalan.”
Untuk mengetahui kehidupan masyarakat bawah, dirinya mengaku pernah bertindak sebagai sopir truk dari Jakarta menuju Wonogiri untuk mengetahui seberapa jauh kehidupan para sopir Truk yang kebetulan penduduk Wonogiri. Dari petualanganya itu, Begug Poernomosidi mengetahui persis kehidupan para sopir-sopir. Oleh karena itu dia mempertanyakan, apakah sudah ada pejabat kita sudah mendeteksi bahwa ekonomi bangsa itu sudah di ambang sejahtera? Ternyata, lanjut dia, dari salah satu rakyat kecil yaitu sopir truk itu mereka pulang hanya membawa uang Rp 25 untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Indonesia kebanjiran produk Cina dan dari mana-mana, tetapi Wonogiri siap menjadi ujung tombak dan sebagai bemper. Karena miskin di Wonogiri berbeda dengan miskin di Jakarta. Dan Wonogiri, merupakan satu-satunya kabupaten yang mempunyai koperasi berbadan hukum sampai tingkat RT,” tegasnya.
Selengkapnya…PDF