Majalah Gemari diharapkan bisa menjadi media informasi yang ringan namun memberi angin segar bagi kehidupan rakyat kecil. Angin segar yang diembuskan bukan sekadar pewartaan yang bersifat mendidik, tapi juga ikut berperan memberdayakan masyarakat agar terlepas dari kungkungan kemiskinan dan kemalasan bekerja. Arahan itulah yang disampaikan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono saat bersilaturahmi dengan awak redaksi Majalah Gemari di Gedung Griya Gemari lantai 3, Jl Amil, Jakarta, yang menjadi dapur redaksi Majalah Gemari.
Selama 10 tahun berkiprah, Majalah Gemari diakui Prof Haryono telah memberikan sumbangan cukup berarti bagi pengembangan sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan yang menjadi salah satu visi misi Yayasan Damandiri. Ke depan, Majalah Gemari diharapkan mampu mengubah image pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk “pelayanan” menjadi pemberdayaan atau net working yang kemudian bisa meningkatkan kemandirian masyarakat.
“Intinya, semangat kebangkitan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional pada bulan Agustus 2008 nanti harus merupakan semangat manusia Indonesia seutuhnya yang ber-Pancasila,” cetus Prof haryono yang datang bersama Sekretaris Yayasan Damandiri Drs Subijakto Tjakrawerdaja, Anggota Badan Pengawas Yayasan Damandiri dr Luth Affandi, SPOG, Direktur Yayasan Damandiri Drs Seodarmadi, Deputi Wirausaha Yayasan Damandiri Drs Mazwar Noerdin dan Deputi Direktur Bidang Program Yayasan Damandiri Drs Rochadi pada 24 Juni 2008 lalu.
Semangat itu, kata Prof Haryono, dicontohkan seperti kelompok lari marathon dan lari cepat. “Kita tidak membantu rombongan pelari cepat. Tetapi kita membantu rombongan pelari lambat hingga menjadi kelompok besar yang memenangkan lomba marathon,” tukas lelaki kelahiran Pacitan yang berencana akan menggelar lomba lari 60 meter di tiap kabupaten, dengan hadiah pemberian beasiswa atau biaya bantuan belajar bagi anak-anak desa.
Kelompok-kelompok yang sudah dibina Yayasan Damandiri dan kerap diinformasikan oleh Majalah Gemari, ungkap Prof Haryono, terbukti telah menjadi kelompok besar. Sekitar 50 universitas, 160 desa, 78 kabupaten/walikota dan 180 sekolah telah berkolaborasi bersama membangun Pos-pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). “Kita cukup melakukan langkah-langkah sederhana, tapi dengan pemikiran besar,” tandasnya.
Pemberitaan Majalah Gemari yang telah memblow-up sedemikian rupa soal pemberdayaan masyarakat, ungkap Prof Haryono, juga telah melahirkan komitmen dukungan dalam dan luar negeri. Di tingkat internasional, seperti dalam Konferensi Internasional di Beijing dan Brazil, pengurus Yayasan Damandiri bisa duduk sejajar dengan MPR RRC, bahkan Presiden Kongres Internasional yang diikuti lebih dari 5000 peserta. Sementara di dalam negeri, beberapa daerah siap menyediakan anggaran dari perubahan APD untuk pengembangan Posdaya seperti yang dilakukan Pemkab Bekasi. RW
Selengkapnya…PDF