Nadia Alkaff
Kesadaran Berasuransi Masih Kurang


Laporan: Rahamawati

Kepemilikan asuransi menjadi penting dalam bagian kehidupan wanita berdarah Arab, Perancis dan Semarang ini. Asuransi, bagi Nadia adalah tabungan keluarga yang dipersiapkan sejak dini untuk menjaga kemungkinan buruk yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi di kemudian hari. Bekerja sebagai marketing di Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera Kantor Cabang Semarang, Jawa Tengah, ibu tiga anak ini memiliki kemampuan menjaring minat banyak orang untuk mau berasuransi.

“Sayangnya, orang Indonesia cenderung konsumtif, tidak memikirkan bagaimana nantinya. Sehingga kesadaran memiliki asuransi masih kurang,” cetus wanita kelahiran Semarang, 11 Nopember 1981 ini saat bercerita dengan Rahmawati dari Majalah Gemari tentang suka dukanya menjalani bisnis asuransi di sela acara kunjungan kerja Yayasan Damandiri ke Pekalongan, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Menurut penyuka fitness ini, menaruh uang tidak jelas, investasi yang tidak tepat, justru merugikan. “Kita tidak pernah tahu bagaimana situasi ekonomi ke depan. Kalau punya uang kenapa tidak dimanfaatkan untuk asuransi biaya pendidikan anak, kesehatan dan sebagainya,” dalihnya.
Sebagai anak seorang wiraswasta, kesadaran berasuransi sudah ditanamkan orangtuanya sejak kecil, melalui asuransi pendidikan. Sehingga ketika dirinya melamar pekerjaan di perusahaan asuransi sebagai marketing setahun lalu, bungsu dua bersaudara dari pasangan A Hadun Alkaff dan Luluk Assegaf ini cukup merasa nyaman dengan bidang yang digelutinya ini.
“Sejak saya usia 6 tahun, orang tua sudah peduli terhadap asuransi dengan mengikuti asuransi pendidikan,” kata ibu dari Hadil, Raiyan dan Ilhan yang pernah menetap cukup lama di Timur Tengah mengikuti bisnis ayahnya yang sering berpindah-pindah lokasi dagangnya. Bahkan saat ini, ayahnya merambah bisnis dagangnya ke Palembang. Demikian pula dengan kakak laki-lakinya yang menjadikan dagang sebagai sumber mata pencarian, memungkinkan keluarga besar itu mempercayakan asuransi sebagai simpanan wajib yang harus dikeluarkan tiap bulannya, demi kesejahteraan keluarga di masa mendatang.
Istri Naufal LA ini pun mengungkapkan perbedaan cara pandang orang Indonesia dengan Timur Tengah tentang kesadaran berasuransi. “Kalau di Timur Tengah, orang mencari asuransi. Di Indonesia, marketing mencari nasabah,” kata Nadia yang pernah menetap di Timur Tengah selama 9 tahun. Terakhir berada di Timur Tengah, Nadia mendalami pendidikan filsafat di Universitas Al Azhar, namun tidak sampai selesai. Entah karena bosan atau karena naluri berdagangnya lebih kuat, Nadia memilih bisnis asuransi sebagai lahan kerjanya.
Diakuinya, kesadaran berasuransi masyarakat Timur Tengah cukup tinggi. Meski pun meletakkan sendi ajaran Islam dalam system pemerintahannya, kebutuhan asuransi bagi orang Timur Tengah menjadi sangat penting. “Kalau ingin menerapkan sistem asuransi marketing Timur Tengah dengan Indonesia, sangat sulit. Sistemnya saja beda,” cetusnya.
Oleh karena itu, kata Nadia, yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat bahwa asuransi itu penting untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat perorangan maupun sekelompok orang. “Saya salut dengan Yayasan Damandiri yang mau mengasuransikan dananya di Asuransi Bumiputera. Kenapa kita sendiri yang perorangan tidak berpikir sejauh itu. Padahal, yayasan ini ‘kan uang yang digunakan diputar untuk kepentingan masyarakat,” jelasnya.
Kerja sama denga Yayasan Damandiri, ungkap Nadia, berpengaruh positif terhadap pertumbuhan asuransi di Indonesia. Bagaimana tidak, Yayasan Damandiri tidak hanya merekrut seluruh karyawannya untuk mengsuransikan dana kesehatan di AJB Bumiputera, tapi juga sejumlah usaha kecil yang jumlahnya ratusan ribu binaan mitra yayasan pun ikut dilibatkan menjadi peserta asuransi.

Asuransi nomor satu
Nadia juga menepis anggapan sebagian masyarakat yang tidak percaya menyimpan sebagian uangnya di asuransi akan aman dan dapat diambil sesuai kebutuhan. Ketidakpercayaan masyarakat tersebut timbul disebakan banyaknya bisnis asuransi yang berkembang tanpa memberikan jaminan perlindungan yang tepat bagi nasabah. Bila dibiarkan, bisnis asuransi seperti itu hanya bertahan seumur jagung.
Asuransi Bumi Putera merupakan satu-satunya asuransi paling bertahan hingga saat ini. Dimotori oleh seorang pendidik, AJB Bumiputera telah berdiri sejak tahun 1912. Sehingga AJB Bumiputera pantas meraih penghargaan sebagai Top Agent of The Year yang diprakarsai Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAIJ) selama 6 tahun berturut-turut. “Dari sepuluh kategori penilaian yang digunakan para juri, Bumiputera berhasil memenangkan tujuh kategori itu,” ucap Nadia bangga.
Kebanggaan yang terpancar jelas dari raut wajah Timur Tengahnya ini, terlihat jelas dari pemilik tubuh tinggi 160 cm dan berat 55 kg ini yang enggan pindah ke lain hati. Apalagi, untuk menyelesaikan studi filsafatnya yang sempat terbengkalai karena harus mengikuti jejak orangtuanya pindah ke Semarang.
“Perkembanan asuransi Bumiputera memang cukup bagus. Saingan banyak, tapi memiliki nasabah yang benar-benar dapat dipercaya, disbanding asuransi lain,” ujar Nadia yang rajin mendatangi nasabahnya untuk sekedar sharing, berbagi pengalaman agar nasabah yang sudah ada tidak lari begitu saja, namun justru menambah ikatan silaturahmi kepada calon nasabah lain.
Jadi, bagaimana calon nasabah tidak tertarik didatangi wanita secantik Nadia. Selain memiliki pribadi ramah, hangat dan pandai mengambil hati orang lain, Asuransi Bumiputera memang layak dipercaya sebagai asuransi nomor satu di Indonesia. Selamat! RW

Selengkapnya…PDF
Selengkapnya…PDF
Selengkapnya…PDF



Sumber : http://203.130.198.30/artikel/3065.shtml