INVESTASI PADA GENERASI MUDA
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono
Kalau ditahun 1970-an struktur penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk muda, dibawah usia 15 tahun atau dibawah usia 25 tahun. Biarpun dewasa ini struktur penduduk itu makin dewasa, keputusan kita mengadakan investasi pada anak muda sekarang akan menolong bangsa ini di masa depan. Menurut proyeksi BPS yang diterbitkan tahun 2005, penduduk Indonesia akhir tahun 2006 yang berusia dibawah 25 tahun berjumlah sekitar 104 juta jiwa. Jumlah ini merupakan 47 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Perubahan struktur yang disebabkan keberhasilan program KB dan kesehatan memberi kesempatan anak muda itu berkembang dengan tingkat kematian yang makin rendah.
Pada tahun 2025 penduduk yang sekarang muda itu akan menjadi bagian dari penduduk dewasa, atau usia 25-65 tahun, yang jumlahnya meningkat menjadi sekitar 147,0 juta jiwa, suatu kenaikan yang cukup drastis sebesar 44 juta jiwa dibandingkan jumlah penduduk dewasa pada waktu ini. Penduduk usia dewasa meningkat dari sekitar 48 persen dari seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2006 menjadi sekitar 54 persen dari seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2025. Ini berarti bahwa penduduk usia dewasa, antara 25-65 tahun, menjadi bagian mayoritas penduduk Indonesia.
Pada waktu ini penduduk dewasa yang jumlahnya sekitar 107 juta jiwa, atau 48 persen penduduk Indonesia, tingkat pendidikannya rendah dan miskin, atau kasarnya, kualitasnya sangat rendah. Kalau kita lengah dan tidak segera mengembangkan investasi pada anak-anak muda dan remaja yang sedang tumbuh, perubahan struktur yang makin menguntungkan, yaitu kenaikan jumlah penduduk usia dewasa dari 107 juta jiwa menjadi 147 juta jiwa pada tahun 2025, atau kenaikan dari 48 persen menjadi 54 persen dari potensi sumber daya manusia tersebut akan terbuang sia-sia. Mungkin akan menambah beban yang berat. Oleh karena itu pilihannya hanya satu, pemerintah dan masyarakat memberikan perhatian yang tinggi pada investasi sumber daya manusia yang dewasa ini masih berusia muda, yaitu usia 0-25 tahun, utamanya usia 0-15 tahun.
Biarpun pemerintah dan masyarakat telah banyak melakukan pemberdayaan dan pembangunan, namun perhatian pada investasi secara paripurna pada generasi muda masih bisa ditingkatkan. Pesan konstitusi untuk menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20 persen masih belum bisa dipenuhi secara bulat. Upaya dan anggaran kesehatan yang seharusnya menjamin hak-hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mudah diakses masih jauh dari memadai. Laporan tentang penyakit demam berdarah, malaria, flu burung dan sebagainya mengambil korban anak muda dan remaja sehingga membuat orang tua sedih dan putus asa. Hidup sehat nampaknya masih merupakan komoditas mahal karena informasi dan akses terhadap pelayanan kesehatan masih sukar dijangkau. Orang tua yang ingin mengatur kehamilannya dengan program KB kurang mendapat informasi yang jelas atau sukar mengakses pelayanan yang mudah, berkualitas dan terjangkau. Bidan desa yang dimasa lalu menjadi ujung tombak pelayanan di pedesaan makin langka atau sama sekali tidak ada.
Yang menyedihkan adalah upaya pemberdayaan sebagai investasi pada anak-anak dan remaja belum seluruhnya mengacu pada sasaran dan target-target MDGs. Terlepas dari tekad dan usaha yang luar biasa dari pemerintah daerah untuk membangun demi kesejahteraan rakyatnya, karena keterbatasan informasi dan tuntunan, banyak penentuan sasaran-sasaran sebagai investasi untuk anak-anak dan remaja, calon pengganti masa depan kita, belum dipadukan secara tuntas. Sasaran yang menyebar dan tidak terfokus akan menyebabkan usaha dan program untuk tahun 2007 bisa meleset dan tidk menolong anak-anak dan ramaja menyiapkan diri untuk masa depannya yang penuh tantangan. Apalagi mempengaruhi pencapaian sasaran dan target MDGs.
Oleh karena itu cuplikan singkat di bawah ini perlu menjadi perhatian agar upaya investasi pada anak-anak dan generasi muda dalam menyongsong masa depan bisa lebih membawa manfaat. Pertama, sebagai awal upaya pengentasan kemiskinan untuk anak, khususnya anak-anak umur 0 - 15 harus dilakukan dengan memberdayakan orang tuanya, keluarga dengan anak-anak dibawah 15 tahun. Pemberdayaan melalui orang tua antara lain ditekankan agar menjamin anak-anaknya tumbuh sehat dengan berat badan yang normal. Selanjutnya diyakinkan dan kalau perlu dibantu agar setiap orang tua menjamin anak-anaknya bersekolah tanpa pilih kasih dalam hal gender, tanpa harus mengutamakan anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan tidak sekolah.
Kesadaran orang tua yang mempunyai anak dibawah usia 15 tahun dan pelayanan kesehatan yang bermutu harus menyatu untuk mengusahakan penurunan tingkat kematian bayi, tingkat kematian anak dengan cara memperkenalkan dan mempraktekkan hidup sehat, makanan bergizi dan imunisasi yang lengkap. Karena keluarga dengan anak dibawah usia 15 tahun umumnya merupakan bagian dari pasangan usia subur, maka pelayanan KB dan kesehatan harus bisa menjamin turunnya tingkat kematian ibu yang mengandung dan melahirkan, baik dengan mengusahakan informasi yang luas maupun dengan jaminan tenaga pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Untuk keluarga dengan anak-anak remaja usia 15-24 tahun perlu perhatian yang lebih cermat. Kalau perlu diberikan dukungan agar anak-anak mereka bisa bersekolah setinggi-tingginya. Sekaligus diperhatikan kesetaraan gender agar keluarga masa depan terdiri dari suami isteri yang keduanya mampu mengangkat keluarganya secara mandiri bebas dari belenggu kemiskinan.
Karena anak-anak muda jaman kini bergaul bebas, maka kemungkinan hubungan seksual sebelum menikah, dengan mitra yang berganti-ganti, akan marak. Karena itu anak-anak remaja sebaiknya dijamin memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai, termasuk pemahaman tentang penyakit menular karena hubungan seksual, HIV/AIDS, dan penyakit menular lainnya.
Pendekatan yang komprehensif dan mengacu pada sasaran dan target MDGs akan menolong remaja menghadapi dunia yang terasa semakin sempit. Anak muda dan remaja perlu diperkenalkan secara dini pada dunia nyata agar mampu menghadapi godaan dan tantangan. Mereka disiapkan untuk memiliki karakter baja dan mengembangkan rasa percaya diri yang kuat, berani mengambil prakarsa dan mampu melaksanakannya dengan tekad mantab untuk berhasil. Semoga. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).
Sumber : http://203.130.198.30/artikel/2636.shtml