Bustanil Arifin
Senang Menimba Pengalaman Para Tokoh


Laporan: Haris Fadilah

Meski dilahirkan di Daerah Sumatera Barat, usia remajanya banyak dihabiskan di DI Aceh yang sekarang berubah menjadi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebagai remaja Indonesia yang hidup pada masa perjuangan, dirinya tentu terpanggil untuk turut serta berjuang demi kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia dari cengkeraman penjajah.

Mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog (1983-1993) Bustanil Arifin, adalah pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925. Dia dikenal sangat akrab dengan wartawan. Tatkala aktif sebagai menteri, dia juga tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka, bahkan saat berkunjung ke daerah.
Pengalamannya bergaul dengan masyarakat Aceh, telah menyebabkan dirinya tertempa untuk mengetahui tentang adat istiadat masyarakat Aceh. "Sehingga, dalam pandangan orang, saya lebih Aceh dari orang Aceh sendiri. Bahkan, sebagian besar masyarakat mengatakan saya orang Aceh, dan bukan orang Sumatera Barat, tanah kelahirannya," ungkap Bustanil Arifin.
Ketika konflik Aceh dengan GAM-nya memuncak beberapa tahun lalu, Pak Bus pernah dipanggil oleh Gus Dur, waktu itu Presiden RI untuk menjadi ketua suatu lembaga yang dibentuk untuk menyerap aspirasi masyarakat Aceh. "Penunjukkan Gus Dur ini saya tolak, selain karena faktor usia yang sudah sepuh, juga karena saya bukan orang asli Aceh," katanya.

Masa kecil
Masa kecil pria berambut tipis ini tampaknya sangat mempengaruhi kebiasaan gaulnya. Saat kecil, dia anak gaul dan tergolong nakal. Satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, itu sering kali berkelahi. "Mungkin karena, saya ingin memperlihatkan jati diri sebagai pelindung keluarga, sehingga menyebabkan saya menjadi seorang pemberani," tukasnya.
Suatu ketika, Bustanil kecil berkelahi dengan anak yang badannya lebih besar. Tentu saja dia kalah. Lawannya yang berbadan besar itu dengan gampang mengangkat tubuhnya, lalu mengempaskan dan tergores kawat berduri. Bagian dalam lengan Bustanil sobek 10 cm yang berbekas hingga hari tuanya.
Maka ketika, anak dan cucunya suka berkelahi, dia pun memaklumi bahkan senang melihatnya. Ayah empat anak ini menyukai suasana keceriaan bersama anak-anak dan cucunya. Bahkan saat aktif sebagai Menteri Koperasi, Bustanil sering membawa cucu berkunjung ke daerah. Dia tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka.
Soal kesenangan bagi-bagi rejeki dan 'mentraktir' wartawan dan siapa saja, tampaknya terbawa dari pengalaman kecilnya juga. Ayahnya, Achmad Idris, seorang pemborong. Ketika ayahnya memperoleh banyak untung, Bustanil sering memperoleh berbagai macam hadiah, berupa mainan dan alat keperluan sekolah. Tetapi, manakala sang ayah merugi, harus sabar tidak mendapat apa-apa. Bahkan, barang-barang, termasuk rumah, pernah terpaksa dijual.
Mantan Dirut PT PP Berdikari ini mengecap pendidikan HIS (1940) dan MULO (1942) di Medan. Dia menyukai pelajaran sejarah, terutama tentang tokoh-tokoh dunia. Dia senang menimba pengalaman para tokoh itu. Dia mengagumi Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan HM Soeharto.
Dia mengaku banyak belajar dari Pak Harto. Bukan hanya masalah kepemimpinan yang ditimba dari Pak Harto, juga perihal menjaga kesehatan badan dan jiwa. Supaya bisa tenang menghadapi berbagai persoalan hidup, baik dalam bidang pekerjaan atau bidang apapun.
Ketika pendudukan Jepang, saat Bustanil masih 18 tahun, dia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi perwira militer. Dia mengikuti latihan militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Lalu, sebentar dia ke Aceh, menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. Dia memberi pelajaran kemiliteran.
Setelah mengikuti latihan militer itu dan lulus tes bakat dengan hasil baik, Bustanil terpilih menjadi salah seorang prajurit yang akan disekolahkan ke Akademi Militer di Tokyo, 1944. Namun karena Jepang bertekuk lutut pada Amerika Serikat pada Perang Dunia II, Bustanil urung ke Jepang.
Lalu dia mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Sehingga harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946. Dia langsung diterjunkan ke front Medan Area, sebagai komandan peleton. Tergabung dalam Batalyon 3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera Utara.
Berbagai peristiwa pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang akan direbut kembali oleh belanda telah dilalui di wilayah Sumatera dan Aceh, sampai akhirnya ia diminta untuk mutasi ke Jakarta. Di Jakarta inilah, karir militernya terus menanjak.
Terakhir ia berpangkat Letnan Jenderal (purnawirawan). Bila dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya pengkat ini merupakan setingkat di atas mereka, karena paling tinggi mereka hanya sampai Mayor Jenderal.
Teman seperjuangannya ketika berjuang di Binjai, antara lain Amran Zamzami, pernah menjabat Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi (bridge) dan Rachman Ramly, pernah menjabat Dirut PT Timah dan Dirut Pertamina.
Seusai perang, Bustanil yang haus ilmu menyempatkan diri kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga meraih gelar sarjana hukum. Ketika masih mahasiswa tingkat I, Bustanil berkenalan dengan RA Suhardani, siswa kelas III SGKP, seorang gadis cantik keturunan Jawa. Tak mau berlama-lama, setahun kemudian, mereka menikah. Keluarga ini dikaruniai empat anak. Isterinya, yang akrab dipanggil Ibu Dani, aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.
Selama aktif di TNI, Bustanil pernah menjabat Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946), Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948) dan Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956). Kemudian dipercaya menjabat Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961) dan Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969).
Kemudian dia ditugaskan menjabat Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972) sebelum diangkat menjabat Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983) dan Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983). Kemudian dia diangkat menjabat Menteri Muda Urusan Koperasi merangkap Kepala Bulog (1978-1983), Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988) dan Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993).
Selain itu, Bustanil juga aktif sebagai Deputi Ketua TMII (1974), Bendahara Yayasan Dharmais (1975), Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978). Juga Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982) dan Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981).
Disinggung tentang pengalaman menarik dan tidak pernah terlupakan seumur hidup, kata Bustanil adalah ketika Negara kita kekurangan stok pangan, sehingga harus membeli dari Negara lain seperti Thailand, Vietnam dan Negara pengekspor beras lainnya.
Namun karena pada waktu itu LC (Leter of Credit) dari bank yang ada di Indonesia tidak laku di dunia internasional, menyebabkan negara pengekspor beras menolak menjual berasnya ke Indonesia. "Beruntung pada waktu itu ada satu negara kalau tidak salah Vietnam mau memberi pinjaman beras, tentunya dengan jaminan sehingga kita kembali memiliki stok beras yang cukup,"cetus Bustanil Arifin. RIS dari berbagai sumber

Nama: Bustanil Arifin
Lahir: Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925
Agama: Islam
Isteri: R.A. Suhardani
Anak: Empat Orang
Ayah: Achmad Idris
Pendidikan: - HIS, Medan (1940)
- MULO, Medan (1942)
- Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
- Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
- Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)

Karir: - Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
- Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
- Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
- Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
- Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
- Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
- Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983)
- Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983)
- Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog Kabinet
Pembangunan III(1978 -- 1983)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19
Maret 1983-21 Maret 1988)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan V (21
Maret 1988-17 Maret 1993)

Kegiatan Lain: - Deputi Ketua TMII (1974)
- Bendahara Yayasan Dharmais (1975)
- Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978)
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978)
- Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982)
- Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981)
- Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)
Alamat Rumah: Jalan Hang Tuah VII/2, Jakarta Selatan Telp: 771550




Sumber : http://116.213.48.92/artikel/1919.shtml