Supriyanto, sosok anak muda kreatif:
Kupu-kupu Dari Bulu yang Terbuang


Laporan: Sekar

MENCIPTAKAN lapangan kerja sendiri, merupakan jalan terbaik untuk membangun masa depan di tengah sulitnya orang mencari pekerjaan kantoran. Terutama bagi mereka yang kurang beruntung di sektor formal, tetapi memiliki kreativitas dan semangat pantang menyerah.
Supriyanto (25), penduduk Wirobrajan WB II/226 RT 06 - RW 02 Yogyakarta adalah sosok anak muda yang berusaha mandiri, menghidupi keluarganya dengan usaha kerajinan kupu-kupu. Bulu yang dulu sebagian besar terbuang, di tangan anak muda kreatif ternyata bisa disulap menjadi aneka warna "kupu-kupu" cantik, meski hanya tiruan.
Ide ini muncul tahun 2003 yang lalu. Bersama Danang, rekannya, ia mencoba berinovasi bagaimana memanfaatkan bulu selain untuk shuttle cock atau kemoceng. "Dulu pernah kami buat bunga. Bagus dan laku di pasaran, tetapi bahan dasarnya sulit karena harus memilih bulu yang tipis", katanya.
Kupu-kupu tersebut dibuat dari bulu menthog dengan warna dasar putih. Untuk bisa memperoleh bulu kualitas bagus, ia harus berburu ke luar kota, ke tempat-tempat penyembelihan unggas. Satu lembar harganya sudah mencapai Rp 60. Meski sudah memilih, tetapi dalam proses selanjutnya masih ada yang harus disortir.
Setelah melalui proses pewarnaan menjadi biru, hijau, kuning, coklat, oranye dan lain-lain, kemudian dibuat sayap sesuai pola. Setiap kupu butuh 4 lembar bulu. Badannya terbuat dari kayu sengon. Belalai dari putik bunga yang sudah diproses sehingga sangat awet. "Putiknya saya beli dari teman, termasuk untuk matanya", katanya Selasa (19/7) di rumahnya, persis sebelah utara SD Muhammadiyah 3 Wirobrajan Yogyakarta.
Anak muda itu mengaku bahwa eksperimennya tidak sekali jadi. Semula ia mencoba dengan bulu ayam, tetapi proses pewarnaannya agak sulit. Akhirnya menemukan bulu menthog yang lebih cocok.
***
UNTUK memasarkan produk kerajinannya ini, awalnya ia harus menjual sendiri di kaki lima depan Gedung Agung, Jalan Malioboro. Ketika di Yogya berlangsung Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang dimeriahkan bazar seni di kompleks Benteng Vredeburg, kupu-kupu itu dipajang temannya di stand miliknya. Ternyata kerajinan unik ini menarik perhatian dan pesanan terus berdatangan.
Diberi tangkai kawat stainless, mirip kupu-kupu terbang, terayun-ayun bila disentuh. Yang dikemas tanpa tangkai, sering digunakan mempercantik kamar pengantin, dipasang di korden dengan bantuan peniti sebagai pengganti bunga. Juga banyak dipesan untuk souvenir pernikahan, baik dalam kemasan plastik maupun boks kecil.
Kupu-kupu buatan Supri ini juga ada yang membawanya ke Jakarta, Bali, Sulawesi, Kalimantan, untuk dijual di sana. Sedang tiap hari Minggu, ia menggelar dagangan kupu-kupu dan aneka kerajinan di kampus UGM Bulaksumur yang selalu ramai untuk jogging dan olahraga lainnya.
Proses pembuatannya memang sangat rumit. Semuanya ditangani secara manual, sehingga produksi sehari maksimal hanya 50 buah. Kalau pesanan banyak, ia menambah waktu sehingga jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat. Untuk dijual kembali, ia mematok harga Rp 1500 per buah. Melihat rumitnya cara membuat serta harga bahan yang harus dibeli, harga itu jauh dari mahal.
Pemeliharaan kupu-kupu buatan ini tidak sulit. Untuk menghilangkan debu yang menempel, cukup dengan kemoceng halus. Seminggu sekali dibersihkan sudah cukup. Warnanya tetap cerah. Apalagi kalau tiap hari.
Dari usaha kerajinan ini, Supriyanto mendapat dua kebanggaan. Ia mampu menciptakan lapangan kerja sendiri serta mampu memberikan nilai ekonomis barang-barang yang semula terbuang. Selain itu ia juga merasa penghasilannya lebih baik dibanding saat ia menjadi karyawan swasta yang dijalani sebelumnya. (Sekar)






Sumber : http://116.213.48.92/artikel/1775.shtml