Edition 30/IV/2003
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema stroke | Kesejahteraan Kel | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Pendidikan | Remaja & Pembangunan | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Sulcha Prihasti, Menghargai Orang Karena Pemikiran, Kejujuran dan Keimanan

Laporan: Rahmawati
 
Menjelang penyelenggaraan Raimuna Nasional pada 8–17 Juli 2003 yang akan berlangsung di Yogyakarta, cover Majalah GEMARI edisi kali ini sengaja tampil beda. Siapa sangka, wanita cantik kelahiran Yogyakarta ini bukanlah seorang artis ataupun selebritis. Dan dia bukan pula seorang wanita muda dengan usia sekitar 30-an. Dia adalah Sulcha Prihasti, SE, MM, Direktur Pemasaran Bank BPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Meski usia telah menunjukkan kepala lima, ibu dua anak ini memang tetap terlihat cantik dan mampu menjaga staminanya dengan baik. Tidak hanya cantik, wanita yang menyukai dunia kepramukaan ini juga masih tetap energik dan memiliki wawasan luas dalam upaya turut serta memberdayakan ekonomi rakyat kecil.

Dalam alam modern sekarang ini peluang dan kesempatan sangat terbuka lebar bagi siapa saja, baik pria maupun wanita. Yang lebih menarik, banyak bermunculan manusia-manusia berkualitas yang datang dari berbagai daerah di tanah air tercinta ini. Bahkan, bukan hanya pria yang memonopoli kesempatan terbuka tersebut, wanita pun tidak kalah peran aktifnya dalam membangun bangsa.
Sulcha Prihasti, SE, MM, boleh jadi salah satu wanita yang meraih kesuksesan itu. Wanita karir berbintang Libra kelahiran Yogyakarta 52 tahun lalu ini masih nampak cantik dan lincah. Penampilannya pun anggun dan menunjukkan keramah-tamahannya saat ditemui Majalah GEMARI di kantornya beberapa waktu lalu. Sebagai seorang Direktur Pemasaran, dalam kesehariannya alumni Universitas Islam Yogyakarta bidang studi Magister Manajemen ini sangatlah sibuk dengan urusan pekerjaannya. Walaupun kesibukan tersebut bisa dikatakan sangat menyita waktu, tetapi bagi Ibu direktur ini ternyata masih juga memiliki waktu senggang untuk keluarga.
Ibu dari Mohamdika (18) dan Mutiara Ayu Saputri (16), hasil buah cintanya dengan Mohammad Aminuddin SA, SH ini menganggap keluarga adalah segalanya dan harus disediakan waktu khusus. Selain itu, wanita yang memiliki hobi menanam bunga, membaca, travelling serta mendesain segala sesuatu termasuk baju, interior, bahkan rumah yang ditempatinya sekarang ini, memiliki prinsip ingin selalu membangun diri. Ia akan merasa senang bila berada di antara banyak orang, baik sahabat, keluarga maupun orang lain. Dengan bertemu mereka, bisa saling sharing, membahas sesuatu, mengenal pribadi orang lain dan sekaligus mengetahui keinginan dan pemikirannya.
“Ini sangat menarik,” katanya seraya tersenyum. Mengapa? “Karena, dari hal-hal yang terlihat kecil dan sederhana, dapat muncul ide dan menjadi lebih care pada orang lain sekaligus instrospeksi diri. Menghargai orang lain, bagaimanapun keadaannya, bagi saya menjadi hal terpenting dalam hidup ini,” dalih Sulcha.

Dari keluarga guru
Kejujuran, iman dan selalu merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan landasan sikap hidup yang selalu diajarkan orang tua Sulcha sejak kecil agar hidup menjadi tenang dan tidak sombong. Hal ini pula yang diterapkan Sulcha dan suami pada kedua anaknya agar mampu menjadi generasi unggul yang beriman dan bertaqwa.
“Saya terlahir dari keluarga sederhana, ibu bapak saya keduanya adalah guru. Kami dibesarkan dengan kasih sayang dan pandangan hidup yang sederhana, namun selalu ditekankan pada kejujuran, kesabaran, kerendahan hati serta harus bekerja keras yang didasari iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap wanita yang pernah bercita-cita menjadi pramugari ini meyakini semua ajaran dari orang tuanya inilah yang kian membentuk diri dan pribadinya sekarang ini.
Pada waktu kecil, ibunya menginginkan ia menjadi guru juga seperti halnya orang tuanya atau menjadi bidan (perawat) agar dapat membantu masyarakat secara langsung. Keinginan ibunya tersebut dianggap sangat mulia tetapi bukan itu yang diinginkannya. Perbedaan keinginan dengan orang tuanya bukan menjadi kendala baginya untuk terus mewujudkan cita-citanya tersebut. Pada akhirnya bidang ekonomilah yang menjadi pilihannya dan ditekuninya melalui dunia perbankan. Ternyata apa yang ditekuninya itu diam-diam diikuti oleh keluarganya termasuk adik dan kakaknya.
Setelah tamat SMA di Mataram, ia melanjutkan kuliah di Universitas Mataram, sambil bekerja di Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat pada sekitar tahun 1970. Kuliah di universitas tersebut belum sempat diselesaikan Sulcha terpaksa berhenti karena harus pindah mengikuti panggilan orang tuanya di Yogyakarta. Sejak di Yogyakarta itulah, sekitar tahun 1973 wanita yang juga menyukai dunia kepramukaan dan tertarik menjadi anggota HIPPRADA (Himpunan Pramuka dan Pandu Wreda) bagi angkatan pramuka seusianya ini mulai meniti karir di dunia perbankan dan masuk menjadi karyawan Bank BPD DI Yogyakarta hingga sekarang.
Karirnya boleh dikatakan dimulai dari lingkungan dalam sendiri. Pimpinan bank tersebut mulai melirik bahwa wanita ini mempunyai potensi dan kemampuan yang cukup membanggakan. Pada akhirnya ia mendapat posisi diberbagai tempat. Jabatan demi jabatan di lingkungan Bank BPD Yogyakarta dilaluinya, sehingga hampir semua seluk-beluk dunia perbankan di intern Bank BPD Yogyakarta diketahuinya. Mulai dari Pemimpin Divisi Treasury, Pemimpin Divisi Sumber Daya Manusia, Pemimpin Divisi Pengendalian Keuangan dan Teknologi Informasi, Pemimpin Divisi Perencanaan dan Pengembangan, kemudian Pemimpin Satuan Pengawasan Intern. Dan pada bulan akhir April 2003 lalu, ibu dua anak ini memperoleh kepercayaan mengemban tugas menjadi Direktur Pemasaran Bank BPD DI Yogyakarta periode 2003 s/d 2007.
“Kepercayaan yang saya terima ini sekaligus mengingatkan saya bahwa tugas dan kepercayaan itu sebuah amanah, sehingga harus dijalankan dan benar-benar dijaga,” ungkapnya penuh haru.
Di tengah kondisi perekonomian yang masih tidak stabil, ibu dua anak ini berharap Bank BPD Yogyakarta harus dapat merebut hati masyarakat khususnya masyarakat Yogyakarta. “Corporate culture yang dimiliki bank, antara lain menempatkan nasabah bukan hanya sebagai nasabah, tapi merupakan bagian dari bank itu sendiri. Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini kami telah menyiapkan produk baru yaitu kredit untuk segmen mikro dengan tujuan untuk membantu pengusaha mikro (kecil) yang selama ini belum tersentuh bank karena adanya kendala persyaratan bank teknis,” paparnya.
Kredit ini diharapkan dapat memberikan kesempatan berusaha dan berkembang bagi usaha berskala mikro/kecil baik secara individual maupun kelompok. “Kita berharap jika masyarakat kecil dapat memperoleh kesempatan untuk berkembang, insya Allah upaya pemerintah dan masyarakat untuk pengentasan kemiskinan dapat terlaksana.”

Alergi istilah “memberdayakan perempuan”
Kalau ditanya tentang siapa tokoh wanita yang diidolakan? Ibu direktur yang gemar sayuran, sup jagung dan ikan bakar ini dengan terus terang mengatakan, “Saya mengidolakan tokoh-tokoh internasional seperti, Margareth Teacher, Hillary Clinton, Lady Diana dan RA Kartini serta ibunya sendiri, karena ibunya itu adalah wanita yang dianggap hebat, wanita yang ibadahnya kuat yang dengan penuh kelembutan dan kesabaran telah mendidiknya menjadi orang yang berpribadi. Tidak menghargai orang dari segi material namun lebih pada pemikirannya, kejujurannya serta keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.”
Sebenarnya, ungkap Sulcha, kemampuan dan intelektualitas seseorang itu tidak dibatasi apakah dia seorang laki-laki ataupun wanita. Namun terkadang perlakuan masyarakat atau lingkungan masih beranggapan laki-laki lebih mampu sehingga wanita sering tidak diberi kesempatan untuk tampil. Anggapan ini yang harus dipatahkan oleh kaum wanita sendiri yaitu dengan membuktikan bahwa wanita pun akan mampu dan dapat lebih mampu dibanding laki-laki. Tentunya, wanita harus membangun dirinya sehingga bukan hanya sebagai pengikut tapi justru sangat pantas sebagai pemimpin.
“Keyakinan ini yang selalu men-drive diri saya sehingga disetiap pekerjaan dan kegiatan, saya berupaya memberikan kualitas yang terbaik. Setelah itu, serahkan pada masyarakat dan lingkungan untuk menilainya,” ungkap ibu yang alergi dengan istilah pemberdayaan perempuan. “Entah kenapa saya alergi terhadap istilah ‘memberdayakan perempuan’. Dalam pikiran saya istilah tersebut seakan terkandung maksud bahwa perempuan adalah mahluk yang tidak berdaya sehingga perlu diberdayakan.”
Selalu belajar dan belajar, mendengar apa yang dikatakan orang lain dan jangan tanya siapa yang mengatakan, melakukan instrospeksi diri disamping meningkatkan intelektualitas dan komunikasi menjadi kebutuhan yang harus dilakukan secara terus menerus. “Saya sangat berharap bahwa dikemudian hari akan lebih banyak wanita-wanita Indonesia yang menduduki posisi penting dan pengambil keputusan, bukan hanya karena diberi kesempatan, tetapi karena memang dia pantas untuk itu,” katanya mengakhiri perjumpaan dengan GEMARI. Mulyono/RW
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online