Edition 130/XII/2011
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Arum Dalu | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gema stroke | Gemari Show | Haryono Show | In Memoriam | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Pendidikan | Posdaya | Tokoh Teladan
 
Select Edition     
DNIKS Tularkan Suntik Keberanian

Laporan: Rahmawati
 
Tidak mudah memberdayakan orang miskin. Tetapi ada tiga kunci penghela kemiskinan, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ketiga kunci ini akan lebih baik lagi bila digerakkan oleh relawan. Dalam hal ini, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) siap menerjunkan relawan-relawan muda ke desa-desa melalui gerakan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).
“Orang miskin biasanya punya kompleksitas tersendiri. Karena itu diperlukan relawan yang didasari semangat kerelawanan sosial,” cetus Dr Parni Hadi, Ketua Bidang Bencana dan Relawan DNIKS saat memberikan kata sambutan dalam seminar Strategi Pemberdayaan, mewakili Ketua Umum DNIKS Prof Dr Haryono Suyono yang sedang mendampingi Menko Kesra Agung Laksono menghadiri peluncuran buku penduduk tujuh miliar.
Relawan tersebut, kata Parni Hadi, ruhnya harus diperbaiki. Semangat memberdayakan bukan sekedar mencari uang, tapi melahirkan pemimpin berjiwa relawan. “Tujuan dibentuk Posdaya adalah untuk memberi semangat kepada keluarga agar berani. Seperti lidi, kalau hanya sebatang mudah patah. Kalau disatukan, sukar dipatahkan,” ujar mantan Ketua RRI yang kini dipercaya menjadi Ketua Ikatan Relawan Seluruh Indonesia (IRSI).
Hal sama ditegaskan kembali oleh Prof Dr Haryono Suyono yang datang di pertengahan acara seminar, bahwa semangat saja tidak cukup. Tetapi, harus berani mengambil prakarsa, inisiatif dan berani bekerja terlebih dahulu meskipun salah. “Keberanian ini yang ingin saya berikan kepada perguruan tinggi sebagai pendamping masyarakat desa. Keberanian ini juga yang ingin ditularkan DNIKS melalui Posdaya agar keluarga-keluarga Indonesian bersatu.”
Bentuk pendampingan perguruan tinggi ini dijelaskan Prof Dr Haryono Suyono, dengan mengajak mahasiswa jurusan kesejahteraan sosial turun ke desa-desa menjadi advokator menularkan ilmunya kepada 10 – 15 keluarga. “Mahasiswa menjadi relawan yang mendampingi keluarga di Posdaya, supaya keluarga ini berani. Tidak usah menunggu kepala desa ataupun ketua RW, tetapi berani mengambil prakarsa kerja keras. Mengubah kambing kecil jadi besar, berani mengubah singkong menjadi keripik. Dengan kata lain, mahasiswa diturunkan ke desa untuk memberi suntikan keberanian,” tandasnya.
Mengingat pentingnya menularkan gerakan pemberdayaan, seminar yang bakal digelar setiap bulan oleh DNIKS ini mengundang pakar dari sekolah tinggi kesejahteraan sosial. Tujuannya membangun sarana berpikir konstruktif yang hasilkan akan dikumpulkan berbentuk buku.
Selengkapnya pdf
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online