Edition 114/XI/2010
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Info | Kerjasama | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Kredit Pundi | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Usaha Ekonomi Posdaya Edelwys Dukuh Serut Bantul, DIY
Angkat Derajat Kesejahteraan Kader Posdaya

Laporan: Hari Setyowanto
 
Semangat gotong royong membangun dukuh melalui pemberdayaan keluarga tidak pernah layu dan surut, seperti Edelwys, bunga puncak gunung yang kesohor dengan keabadiannya. Dengan memanfaatkan keabadian budaya dan kearifan lokal gotong royong itu pula warga Dukuh Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mampu memanfaatkan limbah cair dan limbah padat untuk menyuburkan lahan kebun dan sawah yang mendatangkan hasil luar biasa. Kesuburan ”pupuk” gotong royong telah mengubah sampah dan limbah untuk bangkit dari keterpurukan, menuju derajat kemandirian yang membanggakan.
Dengan pedoman ”mengorangkan orang lain atau memanusiakan orang lain” menjadi pijakan kuat berkembangnya beragam kegiatan pemberdayaan di Dusun Serut ini. Dengan dipimpin Kepala Dukuh Rahmat Tobadiyanto, SPd, menjadikan dukuh ini mampu bangkit dari kesengsaraan setelah diporakporandakan gempa bumi pada 2006 lalu. Warga Dusun Serut dengan kebersamaan sepakat mengusung gotong royong membangun dan mengembangkan kegiatan model pembangunan melalui kegiatan pemberdayaan yang dikemas dalam Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).
Kepala Dukuh dipercaya warga untuk mengemban amanah memimpin Posdaya Edelwys. Salah satu kegiatan yang menarik dari beragam pemberdayaan yang dilakukan Posdaya Edelwys ini adalah pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan sampah dan limbah. Pengolahan sampah menjadi kompos bukan saja telah kembali menyuburkan tanah kebun dan persawahan tetapi mampu mendatangkan tambahan penghasilan.
”Kami memanfaatkan sampah dan limbah rumah tangga menjadi nilai ekonomis. Selain menyuburkan tanah, kompos yang kami buat juga telah mendatangkan rupiah,” ujar Tujiman, penanggung jawab pengolahan pupuk yang berlabel Usaha Ekonomi Ngudi Mandiri, milik Posdaya Edelwys.
Pengembangan produksi pupuk ini ditangani oleh mantan karyawan Dinas Pertanian, yang sejak tahun 1996 sudah berlatih membuat pupuk mulai padat hingga yang cair. Beberapa bahan untuk membuat pupuk dan pengusir hama (pestisida) itu sejatinya sudah disediakan alam yang ada di sekitar kita. Namun, memang tidak semua orang bisa mengetahui hal itu. Itulah yang menjadi dasar seorang Tujiman berbagi pengalaman dengan bergabung di Posdaya Edelwys ini.
Dengan piawai, Tujiman memberikan penjelasannya kepada setiap tamu dan siapa saja yang bertanya. Seperti halnya saat para peserta Rapat Koordinasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat – Damandiri 2010 berkunjung ke Posdaya Edelwys, ia pun memaparkan bagaimana meramu pupuk cair. Ia membeberkan bagaimana proses pembuatan pupuk cair yang ternyata berbahan dasar urine kelinci yang ditampung, serta urine sapi, selain urine manusia.
Hasil produksi pupuk ini, jelas Tujiman, yang memasarkan adalah warga Dusun Serut. Pupuk yang diberi nama PGS (pupuk gawean Serut – pupuk buatan Serut). Pupuk padat dijual per karung Rp 15.000 - Rp 20.000. Sedangkan pupuk cair maupun pestisida (cairan pengusir hama) dihargai Rp 20.000.
”Semua lahan sawah dan kebon di sini sudah menggunakan pupuk hasil karya sendiri, dan hasilnya bagus,” tukas Tujiman yang berkat kepiawaiannya, ia pun sering diminta memberikan pelatihan di beberapa tempat, seperti Klaten, Sleman, Sukoharjo, Kulonprogo, Gunung Kidul.
Sebuah mesin pengayakan dan pengolahan pupuk dengan kapasitas lumayan bagi sebuah dusun seperti Serut ini juga terlihat aktif dioperasikan. Barangkali inilah keseriusan Posdaya Edelwys ini dalam memajukan kesejahteraan setiap peserta atau penduduknya.
Dusun berpenghuni 300 kepala keluarga lebih ini, selain mengolah sampah dan limbah rumah tangga melalui label usaha ”Ngudi Mandiri”, untuk meningkatkan kesejahteraan warga Posdaya Edelwys juga membekali remaja karang taruna usaha sablon maupun pengerjaan audio visual.
”Kami juga menghasilkan beras-beras berkualitas sebagai hasil dari pemakaian pupuk buatan sendiri. Beras kami tersebut bermerek UPPKS – kampung hijau Serut,” katanya bangga.
Di Posdaya Edelwys ini juga mulai dikembangkan koperasi sebagai salah satu wadah bagi anggota Posdaya mengembangkan usaha eknominya. Seperti diungkapkan Bendahara yang juga pengurus harian Koperasi Dadi Makmur, melalui koperasi yang sekarang memiliki dana Rp 24.000.000 dari semula Rp 15.000.000 ini, warga dapat mendapat pinjaman modal usaha. Layaknya koperasi dusun, koperasi ini pun dalam memberikan modal pinjamannya juga masih sangat terbatas. Anggota koperasi hingga saat ini sudah mencapai 84 orang dari warga miskin.
Dijelaskan Bendaharanya, simpanan wajib per bulan Rp 5.000, simpanan pokoknya Rp 200.000. selama dua tahun beroperasi, koperasi yang diketuai Ahmad Samsudin ini baru memberikan simpan pinjam. Setiap peminjam dibatasi per minggu maksimal Rp 500.000, dengan bunga per Rp 100.000 senilai Rp 5.000. Ke depan berharap bisa terus berkembang dan menambah usaha lainnya, sehingga koperasi semakin hidup dan mampu meningkatkan kesejahteraan anggota dan warga lainnya.
Keberhasilan Dukuh Serut bangkit dan tumbuh berkembang mampu mengundang beberapa tamu mancanegara bahkan mereka sempat magang di Dukuh Serut ini, di antaranya yang berasal dari Jepang, Mozambik (Afrika). Sedangkan untuk dalam negeri sudah tak terhitung banyaknya. Itulah kebangkitan Serut dengan Posdaya Edelwysnya siap menyambut harapan yang lebih baik, sekaligus setidaknya bisa menjadi contoh bagi yang lain.
Selengkapnya…pdf
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online