Entah fenomena apa yang terjadi dalam masyarakat yang menyebabkan pemerintah mengalami kesulitan ketika akan mendata dan mengetahui secara jelas tentang status sosial masyarakatnya, sehingga ketika pemerintah ingin menyukseskan program untuk mengentaskan kemiskinan di rasa sangat sulit sekali
Sebut saja Slamet misalnya ketika di tanya apakan dirinya trrgolong masyarakat miskin,? Dengan lantang Ia menjawab saya bukan orang miskin, dengan alasan ma-cam macam, namun ketika mederita sakit dan harus di rawat di rumah sakit, ia pun sibuk mencari surat keterangan miskin (GAKIN) dari kelurahan.
Apa yang terjadi, sesungguhnya telah berdampak buruk, karena ketika di tanya apakah masuk golongan miskin, tidak ada yang mengaku, tapi ketika tertimpa kemalangan atau ada program bantuan dari pemerintah, maka jumlah anggota masyarakat miskin akan meningkat tajam, dengan adanya program bantuan.
Nampaknya kondisi seperti ini merupakan fenomena nyata yang ada dalam kehidupan masyarakat kita sehari hari. Ketika di data untuk mengetahui tentang kondisi kehidupan masyarakat tidak ada yang mau mengaku dirinya miskin. Tetapi bila ada program bantuan untuk masyarakat miskin mereka berlomba-lomba mengaku dirinya miskin
Secara kasat mata kemiskinan di Indonesia angkanya relatif, karena semua dimasukkan kategori miskin, seperti pemulung dan mereka yang jobless. Timbul pertanyaan apakah mereka miskin padahal mereka hidup berkecukupan bahkan pendapatan mereka melebihi pekerja pabrik. Inilah kekeliruan statistik yang perlu di benahi dalam menentukan kriteria miskin
Mungkin karena faktor kesadaran dan sungkan, serta malu bila dikategorikan miskin yang menyebabkan permasalahan kemiskinan di Indonesia sulit sekali di berantas.
Sebagai contoh ketika di luncurkan Kartu Jaminan Sosial kesehatan kepada masyarakat miskin pada tahun 2005 jumlah penduduk miskin tercatat hanya sekitar 45 juta-an, namun ketika program ini dilanjutkan angka penduduk miskin melonjak menjadi lebih dari 60 juta jiwa.
Apakah terkait dengan mudahnya pihak aparat kelurahan mengeluarkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) atau adanya manipulasi oknum tertentu dan kelurahan yang mengetahui dengan jelas situasi penduduk kelurahan yang mendahulukan warga masyarakat yang dekat dengan aparat kelurahan, sehingga kerabat kelurahan mendapat SKTM, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan justeru tidak tersentuh program ini sama sekali.
Melihat kenyataan ini benarlah kalau sabda Rasulullah SAW yang memperingatkan umatnya bahwa kemiskinan akan membawa umat manusia ke arah kekufuran artinya manusia cenderung akan melakukan penyimpangan apapun alasannya yang penting kebutuhan dan keinginan mereka tercukupi dan terkabulkan.
Sesungguhnya Allah telah mengingatkan kepada manusia bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (bangsa) kecuali kaum (bangsa) itu sendiri yang berusaha merubahnya”.
Berdasarkan peringatan Allah inilah sebenarnya kita diminta untuk berusaha sekuat tenaga dengan kemampuan yang di miliki untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih sejahtera.
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengangkat harkat dan martabat kita termasuk kesejahteraan kita, salah satunya dengan berperan aktif dalam kegiatan Posdaya yang digulirkan Yayasan Damandiri. Karena melalui kegiatan Posdaya selain mampu mengentaskan kemiskinan juga dapat menjadi sarana dan prasarana meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia.
Salah satu upaya untuk mengubah prilaku masyarakat yang sangat mengharapkan bantuan, di antaranya dengan mengubah prilaku mereka dari yang gemar mengandalkan Charity dengan mengandalkan bantuan pihak lain wallfare menjadi gemar bekerja keras workfare agar kehidupan mereka menjadi lebih sejahtera.
Untuk mengubah kehidupan mereka selain karena kekuatan tangan sendiri, juga diperlukan wadah atau lembaga yang menaungi berbagai keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan, sehingga mereka mampu melakukan berbagai upaya mengubah dirinya dengan sedikit dukungan dan dorongan dari segenap komponen masyarakat, sehingga kemajuan akan di peroleh dalam waktu yang tidak lama secara maksimal.
Peran keluarga dalam meningkatkan HDI suatu wilayah bukan lagi ditentukan oleh kepala daerah tapi di lihat dari seberapa besar peran keluarga dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, serta Indeks pembangunan manusianya. Terlebih ketika masyarakat berhasil mengembangkan indikator yang ditetapkan dalam MDG’s yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi kerakyatan (kewirausahaan).
Dalam pengembangan Posdaya, seluruh komponen masyarakat untuk berfikir besar, namun di mulai dari yang kecil dan mudah, agar program pemberdayaan masyarakat ini dapat diikuti sebanyak mungkin keluarga dan penduduk, utamanya keluarga miskin dan anggota perempuannya dalam upaya menuntaskan target MDG”s yang hasilnya di ukur dari kenaikan penduduk yang sejahtera
Upaya mengubah kehidupan agar lebih sejahtera merupakan kewajiban seluruh umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, karenanya marilah kita memperkuat barisan dan bersama-sama berupaya meningkatkan kesejahteraan melalui wadah Posdaya yang sejak awal di dirikan bertujuan sebagai wadah silaturahmi dan gotong royong dalam memecahkan berbagai persoalan dalam keluarga maupun kelompok masyarakat terlepas dari belenggu kemiskinan sesuai dengan yang terkandung dalam butir-butir Pancasila dan UUD 45.
*)Penulis adalah pemerhati masalah sosial/HNUR
Selengkapnya…PDF |