Edition 110/XI/2010
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Kebun Bergizi | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Menko Kesra Agung Laksono:
Tingkatkan Ekonomi Rakyat Tangkal Produk Luar

Laporan: Rahmawati
 
Menko Kesra Agung Laksono mengaku cukup salut dengan keberhasilan Bupati Wonogiri meningkatkan potensi ekonomi kerakyatan di wilayah binaannya. Terhitung hingga kini telah ada sekitar 7.000 koperasi yang menjadi tonggak pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Hal tersebut juga menjadi salah satu upaya pemerintah melestarikan budaya gotong royong dan menangkal banjirnya produk-produk dari luar.
“Melestarikan budaya berarti sekaligus meningkatkan ekonomi rakyat. Seperti apa yang dilakukan rakyat Wonogiri, suka bekerja keras, melakukan berbagai upaya untuk memajukan wilayahnya,” ungkap Menko Kesra saat membuka Seminar Budaya Nusantara dan Ekonomi Kerakyatan, Mewujudkan Kesejahateraan Sosial Yang Berkeadilan pada 30 Januari 2010 lalu di Pendopo Kabupaten Wonogiri.
Dengan pendekatan pemberdayaan melalui budaya ini, kata Agung, rakyat bisa bersaing. Karena, sesungguhnya rakyat mempunyai potensi luar biasa untuk menghadapi berbagai tantangan guna mewujudkan kemakmuran rakyat. “Wonogiri, adalah pusat budaya yang kalau digali dengan cermat, akan lebih banyak lagi mendatangkan turis ke bumi spiritual Wonogiri dan membawa berkah kemakmuran,” imbuhnya.
Budaya dan seni yang ada di Wonogiri, lanjut Agung Laksono, adanya keris, wayang, batik dan lebih banyak lagi seni lain di Wonogiri yang sudah diakui global. Kekayaan itu kalau dipertahankan dan dipelihara, akan bermanfaat bagi kemakmuran rakyat. Potensi budaya itu adalah merupakan sumber inspirasi yang produknya akan menjadi komonditas yang menghasilkan uang. Selain itu, kreatif lain seperti fasion atau mode, musik, film, video, fotografi, layanan komputer, seni pertunjukan, penerbitan, arsitektur, radio, TV dan pengembangannya cukup besar dan bisa mengangkat perekonomian.
Melalui kreatifitas ekonomi itulah, kata Agung Laksono, akan dapat menangkal banjirnya produk-produk dari luar. “Dengan mengemas ekonomi yang berkembang mengantar usahawan pribumi akan menjadi pengusaha nasional.“
Angkutan Umum tumbuh subur di Wonogiri. Sungguh membanggakan. Siapa pun tahu bahwa banyak pengusaha tumbuh di Bumi Wonogiri. “Pengusaha/pedagang bakso, pedagang jamu, penjual sayuran dan jasa-jasa lainnya berkembang membanggakan,” urai Agung Laksono penuh syukur. “Untuk itu pemerintah sangat mengapresiasi tumbuhnya ekonomi kreatif,” ujarnya sambil menjelaskan bahwa Menko Kesra telah mengintruksikan kepada 25 Kementerian dan Lembaga, Gubernur, Bupati/Walikota seluruh Indonesia untuk melakukan pengembangan ekonomi kreatif yang potensi dan kontribusinya sangat signifikan
Sebagai tlatah (wilayah) tua, Wonogiri memang dikenal sejak lama. Apalagi, Wonogiri pernah menjadi tempat berkiprah dan mengantar tokoh-tokoh besar, seperti Sunan Bonang, Raden Sutowijoyo (Panembahan Senopati), Raden Mas Said (Sambernyowo), Jenderal Soedirman, mantan Presiden Soeharto, Mr Sartono dan tokoh-tokoh lainnya.

Menyiasati pasar global
Hal senada pun ditegaskan mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, SH, yang turut hadir dalam seminar Budaya Nusantara dan Ekonomi Kerakyatan ini, bahwa pasar global bukan cinta untuk ekonomi yang baik, tetapi ancaman dan mematikan ekonomi bangsa yang sudah diambang pintu. “Oleh karena itu, harus ada ideologi di belakang kepercayaan,” imbaunya.
Selain menanamkan cinta produk bangsa, titik dorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan adalah adanya sosialisasi program-program pemberdayaan dari instansi pemerintah. “Hal itu supaya jelas dan kemudian disosialisasikan bagaimana cara menjemputnya. Dan rakyat diberi pendidikan dan pelatihan supaya bisa mentransfer peluang menjadi kesempatan,” jelasnya.
Menjawab tantangan pasar global yang dianggap meresahkan perekonomian di Indonesia, Oetojo berharap pemberdayaan ekonomi kerakyatan hendaknya ditingkatkan menjadi satu gerakan oleh masyarakat sendiri. “Karena itu sifatnya digerakan, maka akan lebih fokus, lebih fundamental dan berjangka panjang. Tidak perlu terpengaruh unsur politis,” pungkas Oetojo Oesman, SH.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online