Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) memiliki arti tersendiri bagi pakar dan pelaku industri jamu terkemuka yang diakui dunia internasianal ini. Melalui Posdaya, Dr BRAy Mooryati Soedibyo memandang perlu diterjunkannya puteri-puteri binaannya sebagai Duta Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Mengingat Posdaya telah memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan sosial.
Posdaya mengajarkan spirit sosial, sehingga cepat sekali berkembang,” cetus Presiden Direktur PT Mustika Ratu saat ditemui Rahmawati dari Majalah Gemari di kediamannya yang asri di Menteng, Jakarta Pusat. Wanita kelahiran Surakarta, Jateng, 5 Januari 1928 yang memasuki usia 82 tahun masih terlihat “charming” dan tersisa garis kecantikannya di masa lalu. “Tetap positif thinking dalam memandang segala permasalahan,” ucap Mooryati mengungkapkan rahasia awet mudanya saat ditanya resep kecantikannya selama ini.
Penggambaran Posdaya diibaratkan Mooryati tak ubah multilevel marketing (penjualan berjenjang). “Di setiap jenjang, akan ada jenjang yang lain sehingga berkembangnya macam-macam,” tandasnya.
Memanfaatkan teori bercabang itu, tak mengherankan bila Mooryati, selaku Wakil Ketua I Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) bidang pemberdayaan Perempuan, langsung tergoda untuk memberikan pelatihan di setiap camp-camp Posdaya.
“DNIKS kan tidak punya dana untuk bisa ke mana-mana. Dengan adanya Posdaya, memudahkan kita menjalankan program pemerintah,” cetusnya seraya bercerita tentang pengalamannya sewaktu berkunjung ke Kalimantan Selatan.
“Waktu kita ke Kalimantan Selatan, sudah ada sekitar 3000 Posdaya, banyak sekali. Tidak hanya bapak walikota yang aktif menggerakkan Posdaya, ibu walikotanya saja jadi pimpinan Posdaya. Berkembangnya spirit ini cepat sekali. Jadi kita hanya memberikan pelatihan,” tukasnya.
Ditegaskannya lagi, bentuk pelatihan yang bakal diberikan bersifat training for trainers. Artinya, mereka yang mendapat pelatihan, harus meneruskan bentuk keterampilan yang diterima ke orang lain. “Jadi, trainernya harus bisa mentrainer orang lain,” tegasnya.
Terkait hal tersebut, Mooryati mendukung usulan Ketua DNIKS Prof Dr Haryono Suyono untuk menjadikan Puteri Indonesia sebagai Duta Posdaya. “Bagus sekali, kalau Puteri Indonesia bisa membantu Posdaya. Karena bagaimana pun, mereka dipilih oleh rakyat, ada bentuk pengabdian yang harus ditularkan ke masyarakat,” jelasnya.
Pengabdian Puteri Indonesia yang lolos ke babak final hingga menyisihkan tiga kategori utama dari 33 peserta, kata Mooryati, masing-masing telah ditanamkan untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. “Misal, waktu terjadi tsunami di Aceh, mereka ikut membantu,” cetusnya.
Selama satu tahun penuh menyandang predikat Puteri Indonesia, otomatis mereka punya segudang kegiatan. “Kalau ada sesuatu, dia harus turun ke lapangan. Sehingga tepat, bila mereka dijadikan Duta Posdaya, karena tugas mengabdi ke masyarakat dan lingkungan sekitar, harus dilakukannya setiap hari,” tukasnya.
Oleh karena itu, selain mendapat kesempatan beasiswa pendidikan di Universitas Indonesia setelah masa tugasnya selesai, para Puteri Indonesia ini juga mendapat fasilitas apartemen dan mobil untuk melaksanakan misi sosial setiap hari-nya. “Tapi kalau dalam setiap pelatihan yang kita berikan di Posdaya, mereka (Puteri Indonesia) ini datang, orang hanya mendengarkan lalu malah foto-foto dengan mereka,” cetusnya tersenyum.
Mulai bisnis usia 45 tahun
Tak banyak wanita yang memiliki sisi kharismatik seperti dia. Mooryati adalah putri nomor tiga dari lima bersaudara. Ayahnya, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Poernomo Hadiningrat, adalah putra dari Bupati Demak KPA Hadiningrat, dan merupakan saudara sepupu pejuang wanita RA Kartini. Yang menarik, meskipun ayahnya memiliki watak keras, namun lugas, terbuka, gesit, dan penuh semangat perjuangan.
Sedang ibunya, Gusti Raden Ayu Kussalbiyah adalah putri Pakoe Boewono (PB) X, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dikenal memiliki sifat halus, anggun, tertutup, dan penuh pertimbangan. Dua paduan darah itulah yang menjadikan Mooryati sebagai wanita anggun, lemah lembut, tapi sekaligus juga terampil, energik, keras hati, dan sedikit mbalelo (pemberontak). “Ibu merupakan inspirator saya dalam berkarya hingga saat ini,” ucap Mooryati
Sebagai seorang puteri keraton, Mooryati tidak pernah terpikir bakal menjadi pengusaha besar. “Ada anggapan, seorang perempuan tidak boleh berbisnis, terutama dari keraton. Putera-putera juga tidak diajari bagaimana berbisnis,” ujar Mooryati seraya mengungkapkan di antara lima saudaranya, sebagian besar terjun ke bidang pemerintahan. “Cuma saya dengan satu lelaki yang kebetulan sekolah di jepang dan mengambil bisnis perkapalan.”
Namun setelah menikah dengan Ir Soedibyo, MSc (meninggal 1998), justru kesempatan itu terbuka lebar. Saat memulai usaha jamu beras kencur pada 1973 di garasi mobil rumahnya, di Jalan Sawo No 31, Menteng, di jantung kota Jakarta, niat Mooryati hanyalah ingin membantu suaminya. Maklum suaminya – seorang pegawai negeri sipil di Departemen Perindustrian - akan pensiun, dan anak-anaknya belum ada yang selesai kuliah, Mooryati memulai usaha jamu beras kencur.
“Usia 45 tahun baru mulai bisnis. Modalnya waktu itu Rp2.500 untuk membeli sekarung kencur, kunyit, dan kayu manis. Uang segitu saat itu, nilainya sama dengan sepiring nasi goreng untuk sarapan di hotel mewah Jakarta,” ujarnya, tertawa renyah.
Bahan-bahan itu ia gunakan untuk membuat lebih dari 100 botol ramuan beras kencur, dan setiap botolnya dijual seharga seratus rupiah. Tahap kedua, nilai modalnya sudah meningkat jadi Rp10.000. Seperti perhitungan deret ukur, jumlah modal usahanya terus berlipat-lipat. Semua uang itu langsung ia belanjakan kembali untuk membeli bahan-bahan baku. Begitu seterusnya, hingga produksi jamunya pun terus meningkat.
”Hampir semuanya saya tangani sendiri,” paparnya. ”Dengan naik bus atau kereta api, saya mencari bahan baku sendiri ke luar kota. Saya memimpin produksi sendiri. Saya melihat dan meneliti semua bahan yang akan diramu. Bahkan, kalau perlu saya ikut menumbuk sendiri. Saya sendiri pula yang menangani penjualan, door to door, lewat arisan, dan sebagainya.”
Dari kelima putra-putrinya: Ir Djoko Ramiadji, MSc, Putri Kuswisnu Wardani, MBA, Dewi Nur Handayani, BBA, Haryo Tejo Baskoro, MBA, dan Dra Yuli Astuti, hanya puteri keduanya yang sepertinya meneruskan jejak ibunya. “Saya melihat dia punya bakat meneruskan, apalagi produknya perempuan juga, yaitu Kosmetik Puteri,” cetusnya bangga.
MoU tiga menteri
Sebelum adanya peraturan mengenai Corporate Social Responsibility (CSR), PT Mustika Ratu telah menjalankan tanggung jawab sosialnya melalui pemberian insentif kepada karyawan dan lingkungan di sekitar perusahaan. “Kita selalu memikirkan gaji dan uang kesejahteraan dan kesehatan mereka. Itu sudah menjadi kewajiban kami,” tukasnya.
Bagi karyawan yang prestasinya bagus, diberi kesempatan naik haji. Sementara bagi karyawan non muslim, diberi kesempatan ke luar negeri, seperti Roma. Pemberian training juga menjadi kewajiban perusahaan untuk mengembangkan mereka agar bisa meningkat pengetahuan dan upgrade ilmunya.
“Kita juga ada konsultan yang mengatur supaya training ditambah, tapi kita juga lihat dari kemampuan. Misal, kenapa background-nya bagus tapi performnya jelek. Ini bisa ditingkatkan. Begitu juga sebaliknya. Ada yang background-nya biasa saja, tapi performnya bagus. Itu bisa kita tingkatkan dengan pemberian ekstra training.”
Lebih jauh, ia menjelaskan perlunya setiap karyawan memiliki jiwa entrepreneurship. “Tidak hanya pemimpin yang punya jiwa ini. Entrepreneurship adalah leadership plus. Dia bisa mengembangkan anak buahnya untuk punya entrepreneur plus. marketing plus, ide kreatifnya jalan,” tukasnya.
Sebagai Wakil Ketua DNIKS, Mooryati juga sedang menyiapkan berdirinya warung-warung jamu dalam bentuk koperasi di desa-desa. Bersama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Mooryati Soedibyo (LPPMS), dalam waktu dekat akan mengadakan MoU dengan tiga kementerian yang berhasil digandeng DNIKS, yaitu Departemen Sosial, Departemen Koperasi dam UKM dan Menko Kesra. “Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” harapnya menutup percakapan. qRW/RIS/DH
Selengkapnya…PDF |