Prof Dr Ir Sudjarwo, Rektor Universitas Jenderal Soedirman: Nilai Luhur Bangsa Harus Dilestarikan
Laporan: Hnur
Sebagai anak pertama dari sebelas bersaudara pasangan Suradji dengan Supadmi, tanggung jawab yang di emban memang cukup berat. Sejak kecil ketika duduk di taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, Sudjarwo tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sering berpindah tempat tinggal oleh karena mengikuti kepindahan tugas orang tua yang dinas sebagai seorang serdadu (tentara).
Taman Kanak-kanak diikutinya di TK Mardirahayu Madiun, Sekolah Rakyat (SR) sekarang SD kelas satu sampai kelas tiga diikuti di SR Taman Siswa Tulung Agung. Kelas empat diikuti di SR Diponegoro di Ponorogo. Pada akhir pendidikan SD (kelas lima dan enam) hidup dalam lingkungan pedesaan ikut nenek, bersekolah di SR Sukorame, Kabupaten Trenggalek.
Pengalaman masa kecil inilah yang memberikan landasan cita-cita untuk memperdalam pendidikan di bidang pertanian. Selain hal tersebut, pelajaran yang dapat dipetik bahwa untuk berhasil dibutuhkan usaha keras serta kemampuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan.
Pengalaman masa kecil yang serba pas-pasan menjadikannya peduli terhadap nasib warga masyarakat yang kurang beruntung , untuk ditingkatkan menjadi lebih sejahtera. karenanya ia begitu peduli terhadap berbagai program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.
Pembawaannya tenang. Suaranya ‘ruruh’, pelan tapi runut dalam memecahkan berbagai persoalan, penampilannya sederhana namun penuh wibawa. Selalu mengedepankan sikap disiplin di kesehariannya mudah terbaca, ia sosok yang ulet dan tekun menggeluti citanya. Ia pernah mengundurkan diri alias “DO-in diri” di bulan kedua Semester Pertama dari Institut Pertanian Bogor (IPB) akibat ketiadaan. Tetapi semangatnya tidak pernah kendor dengan keadaanya dan berusaha bangkit. Bermodalkan semangat yang dimiliki inilah ia berhasil menyelesaikan S-3-nya di perguruan tinggi terkenal itu. Tokoh yang di dalam dirinya mengalir darah serdadu ini adalah Prof Dr Ir Sudjarwo, Rektor Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.
Ketika menginjak usia remaja, awalnya pendidikan di jalaninya di SMPN Trenggalek (kelas satu). Kemudian pindah di SMPN III Madiun yang kemudian melanjutkan di SMAN I Madiun. Pada saat di Madiun tinggal bersama orang tua lagi. Suradji, ayahnya yang serdadu (TNI AD-pangkat terakhir Mayor) tinggal di dalam lingkup perumahan yang menyatu dengan asrama TNI. Oleh karenanya Sudjarwo remaja telah dijejali pemandangan sehari-hari yang mengajarkan bahwa hidup harus mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi secara mandiri, disiplin dalam memanfaatkan waktu yang dimiliki serta bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan.
Menjawab pertanyaan Gemari, Prof Sudjarwo selanjutnya bertutur, setamat dari SMA sebagai layaknya remaja desa, cita-cita untuk melanjutkan studi di bidang pertanian makin menggebu-gebu. Ia bersyukur pada tahun 1969 niat hati mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor, dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Namun demikian nampaknya Allah SWT belum memberi jalan yang mudah untuk mencapai cita-cita tersebut. Belum sampai bulan ketiga mengikuti kuliah di tingkat pertama, sudah harus mengundurkan diri akibat ketiadaan biaya hidup.
Keluar dari IPB, Sudjarwo tidak segera kembali ke Madiun. Akan tetapi mencoba bekerja di perusahaan binatu milik seseorang yang masih ada hubungan keluarga di Surabaya. Sambil mengisi waktu luang di sore hari, Sudjarwo mencoba mengikuti kuliah di Fakultas Pertanian PTPN (sekarang UPN). Harapan yang didambakan dari perkuliahan yang diikuti, agar ilmu yang diperoleh semasa di SMA mudah diingat kembali. Selain itu ia juga berharap situasi lingkungan yang masih mendorong agar cita-cita studi lebih tinggi bisa ditempuhnya tidak terputus habis.
Memperhatikan kondisi ekonomi orang tua mulai membaik serta telah adanya sedikit bekal yang dikumpulkan selama setahun bekerja di Surabaya, maka pada tahun 1970 atas persetujuan orang tua Sudjarwo yang lahir di Trenggalek, 18 Pebruari 1949, mendaftar kuliah dan diterima di Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM). Ia bersyukur cita-cita yang tertanam ingin menjadi sarjana pertanian yang baik terujud. Setelah menekuni kuliahnya selama 5 tahun izasah Sarjana Pertanian berhasil diraihnya.
Sudjarwo, ayah 4 anak (Rini Widianingsih, SE, AK bersuamikan Sigit Eko Prasetyo, Indah Nuraeni, Ridwan Pribadi, dan Nurul Istiqomah, buah hati dengan istri tercinta Sri Subagiyati asli Kebumen yang dinikahinya 10 Januari 1975), mulai tahun 1976 mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto. Selain itu untuk mengisi waktu luang dan juga menambah pendapatan, di sore hari digunakan untuk mengajar di Sekolah Pertanian Menengah Atas Daerah di Purwokerto.
Pada tahun 1979, Sudjarwo melanjutkan studi di Program Pasca Sarjana IPB Bogor. “Suatu kenangan yang mengharukan dan tidak akan pernah terlupakan. Kira-kira 10 tahun sebelumnya, kampus ini (IPB) pernah saya masuki hanya dalam waktu yang singkat. Kemudian pada tahun 1979 secara mantap dengan pembiayaan beasiswa dari pemerintah dapat kembali memasukinya dengan mantap tanpa harus memikirkan masalah biaya. Saya panjatkan puji syukur kepada Allah Swt., yang telah mengabulkan cita-cita walau dengan perjalanan berliku-liku,” gumam Prof Djarwo (pasnggilan akrabnya) sembari mengusap mata yang membasah. karena haru.
Pada tahun 1987, selesai sudah pendidikan untuk mengambil gelar Doktor dalam bidang ilmu pertanian di IPB. Selanjutnya kembali mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Pertanian Unsoed. Suatu petuah dari promotor (Prof Dr Ir Sumartono Sosromarsono) yang paling diingat adalah kata ‘kembalilah ke Unsoed dan jadilah dosen yang baik’, ungkap Prof Djarwo pada Gemari. “Terima kasih Prof Sumartono atas segala bimbingan dan tauladan yang telah bapak tunjukkan,” tambahnya.
Perjalanan kariernya menarik. Berawal sebagai dosen biasa, secara bertahap diberi kepercayaan untuk memimpin di Unsoed. Mulai dari Ketua Laboratorium, Ketua Jurusan, Pembantu Dekan, Pembantu Rektor I Bidang Pendidikan dan kemudian melalui Sidang Senat yang berlangsung Senin siang 23/5-2005, Dr Ir Sudjarwo terpilih menjadi Rektor Unsoed periode 2005-2010 menggantikan Prof Drs Rubijanto Misman yang telah menjabat rektor dua periode.
Pendidikan yang berkeadilan. Visi yang ingin dicapai dalam pendidikan tinggi adalah pendidikan yang berkeadilan. Meski demikian disadari, untuk pendidikan tinggi sesuai aturan yang ada dan tantangan global saat ini tidak dapat menjadi suatu pendidikan yang gratis. Persoalannya, pendidikan tinggi memerlukan dana pengembangan yang tidak sedikit agar bisa terus tumbuh sehingga mampu berkompetisi dengan perguruan tinggi di luar negeri. Oleh karena itu, kita harus memecahkan masalah dana tersebut agar adil, artinya yang bisa masuk pendidikan tinggi adalah mereka yang mempunyai kemampuan baik.
Selanjutnya mahasiswa di dalam memberikan kontribusi dana pendidikan seyogyanya tidaklah sama. Mereka yang lebih mampu haruslah memberi kontribusi dana yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang kurang mampu. Sehingga ada subsidi silang pendanaan di antara mahasiswa. Selain hal tersebut peran pemerintah dalam membantu calon mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik baik, namun masih belum beruntung dari segi dana, haruslah didorong dengan pemberian beasiswa mulai dari tahun pertama. Bukan saja terhadap mahasiswa yang sudah masuk ataupun yang telah menduduki bangku kuliah tingkat akhir.
Visi ke depan prguruan tinggi yang saat ini dipimpin ayah empat orang anak ini, adalah ingin menjadikan lembaga ini unggul dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang relevan dengan pengembangan sumber daya pedesaan yg berkelanjutan.
Sedangkan dalam pelaksanaan kegiatan kampus Unsoed mempunyai misi untuk menyelenggarakan pendidikan, Menyelenggarakan penelitian guna pengembangan Keilmuan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Pola Ilmiah Pokok (PIP) yang dipegang teguh civitas akademika Unsoed dan akan terus dipegang teguh untuk dilaksanakan secara konsekuen adalah Pembangunan Pedesaan Berkelanjuta (Sustainable Rural Development).
Sedangkan Implementasi dari kegiatan PIP di antaranya pengembangan akademik dan keahlian dosen diarahkan pada penguatan pembangunan pedesaan, pengembangan program dan kegiatan Universitas diarahkan pada pembangunan pedesaan. Mewajibkan mahasiswa peserta didik mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Saat ini peran Unsoed dalam Pembangunan Pedesaan sangat besar, karena Unsoed selalu terlibat dalam pembangunan masyarakat melalui: Pemanfaatan dosen sebagai konsultan pembangunan, berbagai kerja sama perencanaan pembangunan wilayah Implementasi IPTEKS oleh dosen dan mahasiswam juga KKN dengan berbagai variasi tema, untuk membantu mengatasi permasalahan daerah.
Namun begitu, kilah Prof Djarwo, peran Unsoed dalam pembangunan pedesaan dirasakan belum optimal, sehingga perlu dilakukan perbaikan sistem agar tujuan pembangunan pedesaan berkelanjutan bisa terwujud.
Menurut Rektor universitas yang dikenal dekat dengan pembangunan warga desa dan civitas akademika Unsoed, Posdaya merupakan salah satu bentuk platform pemberdayaan masyarakat dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan. Malalui Posdayalah diharapkan mampu meningkatkan koordinasi dengan berbagai institusi dalam rangka pembangunan pedesaan yang berkelanjutan, serta mampu meningkatkan koordinasi dengan berbagai institusi dalam rangka pembangunan pedesan yang berkelanjutan.
Selain itu melalui Posdaya juga Unsoed melakukan sosialisasi untuk menyamakan persepsi tentang Posdaya kepada para pengambil kebijakan di tingkat daerah. Sekaligus mengembangkan jejaring, khususnya dengan seluruh SKOPD tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi untuk memanfaatkan dalam memberdayakan masyarakat.
Saat ini segenap dosen dan staf dilingkungan kampus Unsoed sedang mengggalang kerjasama dengan berbagai pihak, seperti meningkatkan kerja sama dengan Yayasan Damandiri untuk meningkatkan peran Posdaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Unsoed berdiri di baris terdepan dalam menggebrak untuk sukses Posdaya melalui KKN Tematik Posdaya. Bahkan Unsoed menjadikan Posdaya sebagai Tema Utama KKN di Unsoed sehingga semua usaha berakhir dengan manis.
Pantas disyukuri, setelah Unsoed memelopori gerakan pemberdayaan warga desa dengan KKN Tematik Posdaya, Unsoed kembali memelopori kiprah pemberdayaan tahap baru yaitu menggandeng dunia usaha. Mengawali kiprah tahun 2010 Unsoed menggalang kerja sama dengan Dunia Usaha, dalam hal ini PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant. Bermitra dengan Unsoed, perusahaan produsen semen ini menyalurkan dana Corporate Sosial Responsibility (CSR)-nya bagi pengembangan Posdaya binaan Unsoed dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. di Jawa Tengah bagian Barat dan Selatan meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Tegal, Pemalang, Kebumen Cilacap dan Purwokerto sendiri.
Suasana kondusif bersemangatkan kekeluargaan harus selalu dibangun untuk meningkatkan motivasi, baik bagi pengelola, pengasuh, para mahasiswa maupun masyarakat sendiri. Sedang yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan pendidikan tinggi menghadapi tantangan global adalah bagaimana menjadikan perguruan tinggi semakin bermutu. Di sinilah yang perlu dihayati seluruh warga bangsa bahwa semangat kebersamaan dan nilai luhur bangsa harus dipupuk dan dilestarikan, urai Prof Dr Ir Sudjarwo.
Selengkapnya…PDF