Edition 109/XI/2010
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Khusus | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Seputar Raker | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara
 
Select Edition     
Dunia Kewirausahaan Bantu Mahasiswa Dekat Masyarakat

Laporan: Hari Setyowanto
 
Mahasiswa menjadi sarjana tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk semua kalangan. Apalagi saat kuliah banyak dana kegiatan yang diperoleh berasal dari pemerintah, termasuk untuk kegiatan KKN maupun program kewirausahaan dan lainnya. Dengan demikian, sebagai calon pemimpin masa depan, mahasiswa jika kelak menjadi pemimpin akan selalu mengingat, ketika KKN di desa yang mungkin terpencil bisa bersama rakyat atau masyarakat membangun atau merintis usaha dan membuahkan hasil yang produktif dan bermanfaat bagi semua.
Demikian antara lain benang merah yang terangkum dalam dialog menarik di Q Televisi (TV) dan Swara TV yang “didalangi” host Prof Dr Haryono Suyono, dengan narasumber dari Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Mereka adalah Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi UKM Dr Ir Agus Muharam, MM dan Direktur Perguruan Tinggi Direktur Jenderal Depdiknas Dr Ir Ilah Saillah, MS.
Diawali pertanyaan menarik dari host yang juga Guru Besar Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya Prof Dr Haryono Suyono, mengenai perkembangan perkoperasian kepada Agus Muharam. Menurut Deputi Kementerian Koperasi dan UKM satu ini, perkembangan koperasi bila dilihat dari jumlah koperasi sekarang itu terjadi peningkatan. Jika pada tahun 2005 jumlahnya masih sekitar 120 ribuan, saat ini sudah mencapai 150 ribuan. Mereka sudah dalam bentuk formal koperasi dan belum dihitung dengan kelompok-kelompok yang merupakan embrio koperasi.
“Sementara, kalau dilihat dari kelompok-kelompok yang sering kita namakan sebagai lembaga keuangan mikro yang bukan bank dan bukan koperasi saat ini jumlahnya sudah mencapai lebih 55 ribu, dan ini merupakan kelompok swadaya yang dana pembiayaannya dibiayai pemerintah,” kata Agus Muharam.
Namun, ujar dia, bila dilihat dari kelompok-kelompok lembaga keuangan yang dibiayai melalui program pemerintah dan swadaya masyarakat itu jumlahnya bisa mencapai 100 ribuan.
Mengenai kelompok-kelompok tersebut Agus menyebutkan, mereka umumnya belum layak “berhubungan’ dengan perbankan. Sehingga usahanya masih berada di sektor mikro. Artinya, secara khusus omsetnya berada di bawah Rp 300 juta per tahun, sedangkan asetnya di bawah Rp 50 juta. Bahkan, sebagian dari kelompok mikro ini omsetnya berada di bawah Rp 1 milyar per tahun. “Dan kelompok mikro ini sebagian juga merupakan binaanya Yayasan Damandiri,” kata Agus Muharam.
Ia juga menegaskan, pemerintah sangat mendorong masyasarakat, termasuk seperti yang dilakukan Yayasan Damandiri selama ini dalam ikut serta memfasilitasi pembiayaan para pelaku usaha mikro dan kecil di pedesaan. Upaya ini menurut Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi UKM ini merupakan kemitraan dan sinergi yang baik serta perlu dikembangkan terus.

Mahasiswa
Sebagai host yang kerap memandu variety show Gemari baik di Televisi Republik Indonesia (TVRI) Stasiun Pusat Jakarta, termasuk TVRI Yogyakarta, Semarang dan Surabaya serta acara dialog di Q TV dan Swara TV ini, Haryono Suyono yang juga Menko kesra di era pemerintah HM Soeharto dan BJ Habibie menggali pendapat dari Illah Saillah selaku Direktur Pendidikan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.
Mengangkat tentang makin maraknya kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), yang merupakan kolaborasi apik dari program kerja sama kemitraan antara Yayasan Damandiri dengan berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di banyak daerah.
“KKN Tematik Posdaya ini dirasakan banyak sekali manfaatnya, terutama dari unit-unit masyarakat yang tadinya berdiri sendiri sekarang bersatu dalam Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya,” ujar Ketua P2SDM (Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia) Institut Pertanian Bogor periode lalu, sebelum menduduki jabatan Direktur di Ditjen Dikti Depdiknas saat ini.
Lebih lanjut, Illah mengungkapkan, melalui kegiatan yang semakin terkoordinir melalui Posdaya ini juga menjadikan rasa kebersamaan masyarakat dalam membangun kesejahteraan warganya. Semua warga menjadi merasa sama-sama bertanggung jawab. Sehingga mereka dengan bergotong royong menggerakkan semua potensi yang ada demi kemajuan masyarakat sekitarnya. Apalagi kegiatan ini mendapat support dari mahasiswa yang mlakukan kegiatan KKN Tematik Posdaya.
“Sehingga ketika kita minta pendapat kepada mahasiswa maka dengan menarik mahasiswa akan menjelaskan bagaimana mereka melakukan pembinaan dan pendampingan dengan masyarakat, bagimana mereka mencetuskan gagasan dan inovasi baru meski sederhana tapi bermanfaat besar bagi masyarakat, dan masih banyak lainnya. Dan pengalaman itu sangat berguna baik bagi mahasiwa peserta KKN Tematik Posdaya ini maupun masyarakat yang menjadi mitra mahasiswa tersebut,” papar Ilah Saillah.
Keuntungan lainnya, lanjut dia, karena mahasiswa sudah mampu berbicara, berdialog dengan masyarakat. Maka, suatu saat nanti – karena mahasiswa itu juga merupakan calon-calom pemimpin masa depan – tentu akan menjadi bekal penting dan strategis jika kelak mereka menjadi pemimpin. Pasalnya, akan dengan mudah berdialog serta mampu menyerap aspirasi rakyat secara baik.
Terkait kewirausahaan yang giat digencarkan Yayasan Damandiri sejak lama, Illah mengatakan, pemerintah termasuk Depdiknas juga menggencarkan program kewirausahaan di perguruan tinggi, serta program KKN.
Sebagai Menko Kesra pada masa lalu, Haryono Suyono yang saat ini Ketua Yayasan Damandiri ini menyelipkan input menarik kepada Direktur PT Ditjen Dikti Depdiknas. Ini agar pemanfaatan dana kegiatan KKN maupun kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut bisa menyertakan masyarakat, utamanya masyarakat sekitar kampus maupun masyarakat yang menjadi daerah kegiatan KKN.
“Sehingga kalau mahasiswa ini menjadi sarjana dia tidak untuk dirinya sendiri, apalagi dananya dari pemerintah. Dengan demikian, ia akan selalu mengingat, ketika KKN di desa yang mungkin terpencil bisa bersama rakyat atau masyarakat membangun atau merintis usaha, dan membuahkan hasil yang produktif dan bermanfaat bagi semua,” tutur peraih gelar S1,S2 dan S3 hanya dalam kurun waktu 3 tahun di Universitas Chicago, Amerika Serikat pada awal 1970-an silam.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online