Edition 109/XI/2010
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Khusus | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Seputar Raker | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara
 
Select Edition     
Kiprah Posdaya Rambah Dunia Usaha

Laporan: Hnur
 
“Begawan” Keluarga Berencana Prof Dr Haryono Suyono di maraknya Gerakan Keluarga Berencana memacu keberhasilan dengan gebrakan KB Perusahaan. Ketika itu Menaker Sudomo bergerak sigap mengantar sukses program ini. Di awal tahun 2010 “Pendekar” Kepedulian Pemberdayaan Keluarga ini kembali menggaet mitra kerja perusahaan swasta, BUMN, Pemerintah Daerah dan mitra Perbankkan untuk menyukseskan Gerakan Posdaya di bumi Indonesia. Menarik, sesudah Pertemuan Kemitraan antara Yayasan Damandiri dengan mitra kerjanya dari seluruh Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto tampil menjadi pelopor pengembangan dan pengisian Posdaya melalui KKN Tematik Posdaya dengan dukungan perusahaan swasta secara sukarela dalam rangka pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).
Semangat kebersamaan menyukseskan Gerakan Posdaya itu mewarnai acara “Diskusi Kebijakan Peran Posdaya dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR)” yang digelar Lembaga Pemberdayaan Kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (LPM Unsoed), di Lt III Gedung Rektorat Unsoed pada Kamis, 21 Januari 2010. Diskusi dihadiri para Pembantu Rektor, Dekan, Dosen Pembimbing Lapangan, YDSM Jakarta, PT Holcim Indonesia, jajaran Pemda Banyumas dan Purwokerto serta seluruh mahasiswa KKN khususnya yang akan KKN di Kabupaten Cilacap.
Dalam dialog yang digelar di kampus Unsoed ini, para pembicara diskusi yaitu Rektor Unsoed Prof Dr Ir Sudjarwo, MS, Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dan General Manager PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant Ir H Sidik Darusulistyo, MBA, sepakat mengembangkan Posdaya di Jawa Tengah bagian Selatan dan Barat meliputi Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Tegal, Pemalang, Cilacap.
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dalam paparannya menyatakan bahwa, Pendidikan dan Pengajaran merupakan salah satu praktek nyata pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui Posdaya berarti mahasiswa dan dosen masuk desa melakukan praktek nyata. Mereka bisa menjadi guru masyarakat di pedesaan. Dan dengan melakukan pelatihan melalui kelompok-kelompok Posdaya, apakah dosen itu hanya didengar oleh mahasiswanya. Dan kemudian mahasiswanya dipaksa dinilai menurut selera guru besar atau dosen. Setelah mahasiswa terjun ke masyarakat yang menilai bukan hanya dosen tetapi masyarakat.
”Kalau rakyatnya kemudian melakukan yang diajarkan dosen dan mahasiswa berarti kalau dosen akan mudah untuk jadi guru besar. Sementara kalau mahasiswa berarti kalau ajakannya dituruti, pendidikannya dituruti maka ia harus bercita-cita menjadi presiden. Karena sudah berlatih dan perintahnya dituruti rakyat,” tambah Prof Haryono.
Tri Dharma yang kedua terkait penelitian. Prof Haryono berharap Tri Dharma yang kedua dilakukan dengan baik. Prof Haryono menyebut bahwa seluruh jajaran Damandiri antara lain Dr Subiakto Tjakrawerdaya (Sekretaris), Drs Soedarmadi (Direktur Pelaksana dan seluruh Deputy bedol desa hadir di Unsoed karena Unsoed merupakan universitas pertama yang mengetrapkan KKN Tematik Posdaya.
“Tetapi sekarang saya undang agar pada KKN ini Tri Dharma kedua dilakukan. Jadikanlah permintaan General Manager PT Holcim Indonesia TBK Ir H Sidik Darusulistyo, MBA, untuk melakukan semacam penilaian yang ilmiah bahwa, sumbangan CSR Holcim Indonesia melalui Posdaya ini memang benar-benar membuat perubahan yang signifikan. Membuat makna yang ada artinya sehingga perusahaannya tidak saja dianggap sebagai perusahaan yang beruntung tetapi juga dicintai rakyat. Karena maknanya bukan sekedar untuk perusahaan tetapi juga dinikmati rakyat banyak.
Untuk itu tahun ini Yayasan Damandiri menyediakan hadiah untuk desertasi terbaik sebesar Rp 50 juta. Hadiah kedua dan seterusnya besarannya tidak sama, ada Rp 25 juta. Rp 20 juta.Tetapi ratusan hadiah hiburan masing-masing sekitar Rp 5 juta-an tiap hadiah. Syaratnya untuk mendapatkan hadiah terbaik, lanjut Prof Haryono adalah lulusnya harus cumloude mulai dari mahasiswa S1, S2 tidak pernah tidak lulus.
Arahnya kata Prof Haryono, adalah bagaimana Posdaya sebagai forum integritas dari berbagai program yang dapat diisi oleh fakultas apa saja karena menyangkut kebutuhan manusia.
‘“Saya mengajak Pak Rektor Unsoed dan jajarannya untuk membuat Posdaya ini sebagai forum keterpaduan. Bukan oleh pejabat, tetapi oleh rakyat, sehingga Posdaya ini menjadi forum yang bottom up, yang diakui mengawalnya tidak mudah. Prof Haryono bersyukur, walaupun sekarang ini baru ada sekitar 5.000 Posdaya, dengan KKN penyebarannya luar biasa. Forum keterpaduan program oleh masyarakat yang bersatu, masyarakat yang cerdas, masyarakat yang dinamis dan masyarakat yang tidak saja melihat programnya masuk, tetapi masyarakat sendiri kesejahteraannya naik dengan ukuran MDGs, IPM atau ukuran HDI. Jadi ukuran kesejahteraannya jelas secara ilmiah dan internasional,” ujar Prof Haryono.
“Sesuai harapan Rektor Unsoed, kita juga bercita-cita agar organisasi Posdaya itu merupakan forum untuk pendalaman, untuk pengembangan jati diri bangsa atau Pancasila yaitu membangun manusia seutuhnya dengan cara gotong royong, dengan semangat kebersamaan, bukan cara caci maki,” harapnya.
Prof Haryono ingin Posdaya ini menjadi forum untuk mempersatukan seperti cita-cita falsafah Pancasila, menjadi jati diri dan contoh di mana Pancasila diterapkan di Posdaya. Di Posdaya musyawarahnya untuk mufakat. Orangnya tidak bercita-cita menjadi superman. Tetapi orangnya bercita-cita pada sila yang kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Orangnya mempunyai peradaban yang sopan dan santun, baik di dalam pertemuan maupun diberbagai langkah kegiatannya.
Demikian juga dalam hal isian program bukan karena bisa, bukan karena pendampingnya bisa, bukan karena mahasiswanya pinter, tetapi begitu pendamping dan para dosen memberikan bimbingan maka rakyatnya tidak lagi melihat pada dosennya, tetapi dia akan sibuk mengerjakan apa yang dianjurkan oleh dosennya, sebagai ajaran Ki Hajar Dewantoro “Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Dengan capaian demikian seperti yang disampaikan Rektor Unsoed Prof Dr Ir Sudjarwo, MS, akan terwujud pembangunan pedesaan yang berkelanjutan bagi warga desa.
Oleh karena itu, program yang disampaikan diperlukan teknologi yang mudah diikuti oleh rakyat. Prinsip yang dilakukan bukan mendadak, tetapi dilakukan secara bertahap sehingga rakyat sendiri akan berkata dan berbondong-bondong jatuh cinta dengan kegiatan produktif bagi keluarganya. “Mereka ternyata memerlukan forum di mana kepribadian dan jati dirinya bisa dibanggakan.” kata Prof Haryono sembari menambahkan bahwa titik sentral dari sasaran IPM, HDI adalah manusia yang dalam kelompok kecil disebut keluarga.
Jadi ukurannya adalah berapa banyak keluarga yang mendapat manfaat dari program itu. Bukan berapa milyar yang kita turunkan, berapa gedung, bukan berapa panjang yang dibangun, bukan berapa ton produksi padi tetapi berapa manfaat bagi rakyat.
Untuk itu dianjurkan agar disetiap wilayah ada pemetaan yang cermat agar hasilnya bisa diukur. Apakah benar keluarga itu berubah kesehatannya, berubah pendidikannya, berubah kesejahteraannya. “Dan peta itu harus dibeberkan secara terbuka kepada rakyat. Tiap bulan warnanya bisa berubah untuk membedakan kemajuannya,” tambah pakar statistik Prof Haryono.
Dalam kesempatan tersebut Prof Haryono juga menjelaskan bahwa siapa saja boleh mendirikan Posdaya. Keluarga boleh, tempat ibadah, sekolah, dukuh, PKK juga bisa, karena Pokja I PKK program utamanya adalah pengamalan Pancasila. Di Posdaya itu Pancasila di diskusikan dan diamalkan. Pengamalan Pancasila menjadi kekuatan dasar dari Posdaya. Bidang/Unit Pemberdayaan Ekonomi/wirausaha, bisa ada koperasi dan wirausaha lainnya. Tetapi karena diikuti orang banyak prinsip yang harus diusahakan adalah mudah diikuti orang banyak.
Prof Haryono memberi contoh, pembuatan pupuk kompos dari jerami yang di mana-mana mudah didapat bahan bakunya. Bila diberikan tehnologi tepat guna maka yang ikut membuat pupuk kompos akan banyak dan bermanfaat bagi para petani sekaligus mengurangi pupuk kimia. Contoh lain, teknologi peternakan ayam di Unsoed yang bagus hendaknya dibawa ke desa sehingga produktivitas ternak pedesaan naik.
Berulang kali Prof Haryono mengingatkan bahwa dalam mengamalkan Pancasila kita tidak membentuk superman, superwoman, tetapi membangun super tim. Super tim inilah yang kemudian menjadi koperasi. Kita tidak bersaing sesama anak bangsa, tetapi bersatu untuk maju.
Bidang pendidikan, anak-anak dididik dan diberi ketrampilan sehingga anak terlatih sejak dini. Sementara ibunya dilatih ketrampilan seperti kecantikan, jahit menjahit, anyam nenganyam dan lain-lain. Pada kesempatan tersebut Prof Haryono juga mengajak agar panti-panti dijebol sehingga bukan menjadi panti tertutup tetapi panti yang terbuka. Ada di rumah tangga dan keluarga yang dapat dibina dan diberi ketrampilan oleh keluarga dan lingkungan sesuai dengan kondisinya.
Masalah kesehatan, Prof Haryono berharap digencarkan promosi hidup sehat, pembangunan budaya sehat, bukan Kartu Berobat Gratis, tetapi menghidupkan budaya hidup sehat. Seperti KB harus dihidupkan dan disegarkan. Peserta KB bukan orang sakit, orang hamil tidak sakit. Posyandu harus dihidupkan kembali dan jangan ditempeli program lain, karena Posyandu itu hanya untuk KB dan kesehatan ibu dan anak.
“Kalau dibebani tugas lain Prof Haryono khawatir tingkat kematian ibu dan anak di Indonesia yang berjumlah sekitar 200 hingga 250 per seratus ribu tidak akan turun . Di Malaysia sudah 7 per seratus ribu. “Jadikan pola hidup sehat dengan menghidupkan pekarangan berbagai tanaman bergizi. Tanaman yang hasilnya setiap hari bisa dimasak untuk kepentingan keluarga sendiri. Kalau halaman sempit maka dibuat tanaman bertingkat,” pinta Prof Haryono sambil menambahkan, pencegahan penyakit bukan pidato penyakit, tetapi dengan budaya bersih dan pemberdayaan lingkungan dengan cerdas.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online