Edition 109/XI/2010
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | DNIKS | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Khusus | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Seputar Raker | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara
 
Select Edition     
Syam Widia
Bina Posdaya dan Berhasil Dapatkan CSR

Laporan: Riri
 
Syam Widia, merupakan satu-satunya wanita di antara empat penerima penghargaan yang diundang secara khusus oleh Yayasan Damandiri saat peringatan Ulang Tahun ke-14 di Jakarta, pada 15 Desember yang lalu. Ia mengaku, betapa orangtuanya bangga atas penghargaan tersebut.
Kesan bersahaja lekat pada diri remaja kelahiran 25 Juni 1988 ini, yang masih menempuh pendidikan di semester 7 Undip Semarang. Pengalaman berorganisasi tak diragukan lagi karena sejak menempuh pendidikan dasar sampai sekarang Widia, sapaan akrab gadis ini, masih aktif terjun langsung dalam kegiatan kampus dan kemasyarakatan.
“Kaget, gak percaya dan bingung tapi bahagia, senang, dan yang paling penting adalah kebanggaan orang tua.” Kalimat tersebut meluncur spontan dari bibir Widia, mendapati kenyataan dirinya terpilih sebagai mahasiswa yang masuk dalam kriteria ‘berprestasi’ dalam mendampingi Posdaya Bina Usaha, yang terletak di Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang ketika melakukan KKN Tematik Posdaya selama 35 hari.
Penghargaan ini menurut Widia adalah juga kepercayaan yang telah diberikan kepada dirinya, untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di lapangan, Widia aktif mengajar di SD, memberi tambahan bimbingan belajar Bahasa Inggris dan Matematika, serta pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Dusun Getuk.
Demikian pula di bidang kesehatan. Peran sertanya dalam kegiatan Posyandu, pemberian bantuan terapi obat penderita TBC dan ISPA selama tiga bulan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Diakuinya, bahwa kesadaran masyarakat terhadap kebersihan agak minim dan belum maksimalnya penggunaan layanan kesehatan meskipun gratis. Sehingga masih terus di edukasi bekerja sama dengan Puskesmas dan layanan kesehatan setempat.
Menariknya lagi, gadis ini berhasil mendapatkan CSR dari Novotel Semarang serta beberapa donatur, sehingga dapat menggerakkan kewirausahaan dengan budidaya lele dan pembuatan sentiling (agar-agar bercampur ketela). Pasalnya, rasa penganan itu cukup unik dan laris untuk dijual.
Bukannya tanpa hambatan ketika usaha menggerakkan pemberdayaan masyarakat ia lakukan. Kendala seperti kekurangan air untuk budidaya lele, sulitnya mengubah mindset masyarakat yang masih lebih suka bekerja menjadi buruh pabrik ketimbang menjadi entrepreneur, meskipun upah mereka tak cukup untuk menghidupi keluarga.
Itu semua adalah tantangan yang berhasil ‘ditaklukkan’ sehingga penduduk di Gondoriyo, mulai melakukan perubahan-perubahan dan berupaya mandiri dengan menjadi wirausahawan.
Syam Widia memiliki optimisme cukup tinggi untuk masa depannya. “Tak harus bekerja dikantoran untuk sukses, kita bisa menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja bagi orang lain,” ujarnya pasti. Di samping ingin melanjutkan ke jenjang S2 setelah lulus kuliah nanti, niatnya ini sudah dirintis melalui usaha warung nasi goreng yang dimilikinya sejak tahun lalu. Dan saat ini sedang mempersiapkan usaha lain di bidang pembuatan kue lemper dan cheeseteak.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online