Zukhriatul Hafizah, Puteri Indonesia 2009 bidang Lingkungan ini mengaku salut dengan keberhasilan Yayasan Damandiri meningkatkan produktivitas usaha-usaha kecil. Yang menarik, ini sungguh terkait dengan misi yang diembannya sebagai Miss Lingkungan, harus dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu dara berusia 22 tahun ini berharap bisa ikut berpartisipasi bila Yayasan Damandiri melakukan kunjungan ke daerah.
Saya berharap kalau Yayasan Damandiri mengadakan kunjungan ke daerah, dengan senang hati akan saya tunjukkan segala sesuatu tentang lingkungan,” ujar wanita muda yang akrab disapa Hafizah ini saat menyaksikan perayaan ulang tahun Yayasan Damandiri ke- 14 di Gedung Granadi, Jakarta.
Bagi wanita kelahiran Padang, Sumatera Barat, 8 Mei 1985 ini, kinerja Yayasan Damandiri dalam mengemban misi sosial dinilainya sangat luar biasa. “Di usianya yang sudah cukup lama, Yayasan Damandiri tidak hanya ikut memberdayakan masyarakat tapi juga para penyandang cacat. Menurut saya ini luar biasa, partisipasi dan dukungan Yayasan Damandiri begitu besar bagi masyarakat,” ujar mahasiswa Mass Communication, London School, Jakarta ini.
Dalam peringatan HUT ke-14 Yayasan Damandiri, mantan None Jakarta ini bisa menyaksikan langsung bagaimana para penyandang cacat itu bisa berkreasi dan menari. Juga talkshow yang dipandu Dewi Hughes dan Prof Dr Haryono Suyono, mengangkat kelompok-kelompok usaha kecil, telah mengundang minat Hafizah untuk mengembangkan misinya lebih baik lagi.
“Ini sangat terkait dengan tugas saya sebagai Miss Lingkungan. Soalnya Miss Lingkungan itu dekat dengan masyarakat,” ujar alumnus SMA Negeri 81 Jakarta yang saat ini lebih banyak mengfokuskan kegiatan di Jakarta.
Dalam rangka menyosialisasikan misinya itu, sebelumnya dia sudah pernah memberikan bantuan sosial kepada korban gempa di Padang dan mengikuti Festival Seni Budaya di Bogor. “Baru-baru ini saya juga mau ke Yogya,” cetus anak ke empat dari Hj Yusrah dan H Syamsir Anwar.
Selain itu, ia pun berinisiatif menggunakan facebook, twitter sebagai alat untuk memberikan pesan-pesan lingkungan. “Misalnya, tentang hemat listrik, AC dan lain-lain. Dan yang benar-benar saya tekankan hemat sampah pelastik. Saya ingatkan ke teman-teman, kalau ke supermarket tolong bawa kantong pelastik sendiri. Semua harus mulai dari diri sendiri,” ujar Hafizah yang selalu menekankan pentingnya hemat energi dalam sosialisasinya sebagai Miss Lingkungan.
Untuk mengembangkan misinya tersebut, ia juga sudah mulai melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat lingkungan internasional, seperti WWF. Belum lama ini pula, ia menanamkan kecintaan anak-anak sejak dini pada lingkungan melalui presentasi sederhana yang diberikan kepada siswa-siswi SD Buaran, Jakarta Timur. “Lingkungan kalau belum kondusif itu sulit. Jadi kita harus komit untuk peduli lingkungan, yang mulai dibentuk sejak dini,” cetusnya.
Diakuinya, untuk tetap komit melestarikan lingkungan memang sulit. Tetapi justru menjadi tantangan menarik untuk terus menggali ilmu pengalaman di usianya yang relatif masih muda. “Di usia saya yang ke 22 ini alhamdulillah sudah diberi kesempatan. Ini momen yang pas sekali. Karena kita kan, terus berproses. Saya juga masih bannyak kekurangan, masih harus belajar,” ungkapnya.
Dari proses pembentukan pengalaman baru ini pula, banyak temannya yang terinspirasi ingin seperti dirinya. “Saya sangat terharu. Mereka jadi terinspirasi ingin seperti saya tetapi dengan bidangnya masing-masing. Karena yang terpenting dari menggali potensi yang kita miliki adalah rasa percaya diri,” tandasnya.
Tanggung jawabnya terhadap institusi yang membesarkannya, yaitu Yayasan Puteri Indonesia, dirinya akan terus menjadi penyambung lidah bagi generasi berikutnya untuk peduli lingkungan. “Pastinya, saya akan terus mengembangkan apa yang saya miliki seperti beauty, brain, behavior. Jangan setelah tidak menjadi puteri, behavior jadi berantakan, tetap harus menjaga nama baik,” ujar Hafizah yang sempat ditawari bermain dalam sinetron.
Menuju Miss Internasional
Sebelum terpilih sebagai Puteri Indonesia priode 2009-2010, Hafizah pernah menjadi None Jakarta Timur 2006 di usia 18 tahun. Godaan untuk memasuki dunia entertainmen pun kemudian mengalir begitu saja. Dia pernah menjadi bintang tamu bersama Mpok Nuri di acara Lenong, namun tak tertarik untuk adu acting menjadi aktris sinetron.
“Takut kemakan omongan sendiri. Saya lebih konsen ke lingkungan. Mungkin saya lebih tertarik untuk menjadi MC, presenter dan sebagainya,” dalih Hafizah yang tidak tertarik ke dunia sinetron dan sempat belajar MC dan presenter untuk mendukung minatnya ini. Dia juga merasa tidak canggung sewaktu bermain lenong bersama Mpok Nuri. “Intinya kan improvisasi saja,” cetus dara yang mengaku darah seninya mengalir dari opanya.
Dalam proses pemilihan Puteri Indonesia, Hafizah sebenarnya melakukan audisi dan didaftar di Jakarta. Karena, di Sumatra Barat tidak ada pemilihan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun mewakili Sumatera Barat. Bahkan ketika karantina, ia sempat ke Padang untuk izin ke Walikota Padang.
“Menariknya, saat saya ke Padang itu bertepatan dengan adanya gempa di Sumbar pada hari ke dua. Luar biasa sekali dampaknya. Pas karantina, sering sekali saya ditanya mengenai gempa ini. Misal, sebagai duta Sumbar apa yang bisa dilakukan, bagaimana perasaannya dan sudah melakukan yang terbaik apa saja buat Sumbar,” ujar Hafizah mengurai masa-masa di karantina.
Hafizah juga bersyukur, keluarganya yang kebetulan berdekatan dengan pusat gempa di Padang berhasil selamat, karena lari ke gunung di dekat Universitas Andalas. Sebagai Puteri Indonesia runner up ke- 2, yang akan mengakhiri masa tugas sekitar Nopember 2010, masa tugasnya akan dialihkan ke Miss Internasional.
“Hanya beda yayasan saja, tapi misi kita sama, supaya go internasional. Memang ketentuannya seperti itu, untuk juara I akhir masa tugas dialihkan menjadi Miss Universe oleh Yayasan Puteri Indonesia, sedang juara dua ke Miss Internasional melaui Beauty Pageant,” jelasnya.
Diakuinya, ajang ratu kecantikan seperti Miss Universe maupun Miss Internasional di Indonesia memang kontroversi. Mereka yang memandang negatif, semata melihat penampilan wanita muda dari beberapa negara mengenakan bikini memamerkan kecantikannya.
“Miss Universe jangan dipandang bikini saja. Karena yang penting anggun dalam berpakaian. Bikini hanya bagian dari criteria saja. Miss Universe itu kontroversi abadi. Cuma kalau kita memilih ingin go internasional, inilah kesempatan,” jelasnya.
Mengaku telah mendapat restu dari kedua orangtuanya menjalani obsesinya menjadi Miss Internasional, pemilik tinggi badan 170 cm dan berat 55 kg ini mempersiapkan semua itu dengan banyak membaca buku dan mencari inspirasi dari tokoh-tokoh yang dikaguminya. “Salah satunya, saya terinspirasi dari ibu BRA Mooryati Soedibyo, wanita Indonesia yang konsisten. Dari muda sampai ada reformasi segala macam dia tetap percaya akan jamunya. Jadi ketika ada yang tanya resep awet muda, ya Mustika Ratu,” ujar Hafizah yang juga setia memakai produk kecantikan tersebut.
Cita-cita Hafizah sebenarnya ingin menjadi jurnalis. Dalam beberapa presentasinya ia kerap menggunakan akses facebook, twitter sebagai alat informasi yang dinilainya cukup efektif untuk menggugah masyarakat sadar lingkungan. “Selama ini kampanye dengan seminar agak membosankan. Saya ingin presentasi jadi menarik, digabung dengan seni budaya. Misalnya, dengan lenong agar lebih menarik,” tandas wanita cantik yang masih betah melajang ini.
Selengkapnya…PDF |