Edition 106/X/2009
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Membangun Budaya Perpustakaan

Laporan: Eko Setyowardani, MPd
 
Pendidikan memerlukan dukungan dan penunjang di antaranya dengan adanya perpustakaan. Tentunya perpustakaan bukan hanya sekedar ruang tempat menitipkan hasil pemikiran orang dalam bentuk buku-buku, diktat-diktat yang tertata rapi, perpustakaan akan menjadi tempat yang bisu dan mati bila mana di dalamnya tidak dimasuki manusia yang membawa spirit dari ruh kreatifitas yang selalu mengalir. Kita harus sadar bahwa peradaban suatu bangsa ditentukan oleh percintaan manusia dengan ilmu yang berserak pada buku.
Perpustakaan merupakan ruang yang dinamis, dengan karya-karya yang membangun peradaban kemanusiaan. Suasana di dalamnya ada napas kehi-dupan dari tumbuhnya sulur-sulur pengetahuan yang menghentak semangat supaya menjadi manusia yang maju.
Imam Ali Khoemeni menyatakan semoga ada suatu masa senjata-senjata berubah menjadi pena. Sebab senjata hanya akan membunuh manusia dan pena-pena akan menghidupkan kemanusiaan. Pena-pena mengawetkan pemikiran berguna menjadi hal yang dapat diwariskan. Dalam hal ini bukan hanya sekedar mengawetkan peradaban rasional, sekaligus juga mengawetkan kebudayaan ruhani yang pantas diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut pandangan Qodri Azizi (2003) budaya Hollywood lebih meracuni masyarakat dunia ketiga dari pada budaya perpustakaan. Budaya perpustakaan ini dimaksudkan bukan hanya sebatas kebiasaan orang suka keperpustakaan. Tapi juga meliputi hal-hal yang sangat positif, meliputi antara lain, kerja keras, sikap disiplin, kejujuran, penghargaan terhadap kerja/ karya orang lain, optimistis, kemandirian, kesungguh- sungguhan, tanggung jawab, law enforcement, ketaatan terhadap peraturan dan semacamnya.
Ada sebuah penelitian di Prancis, budak-budak Aljazair setiap pengetahuan mereka bertambah dalam kemampuan baca tulis. Wajah mereka difoto dan diteliti ternyata, wajah meraka nampak lebih indah dari waktu ke waktu. Kesimpulannya dapat diketahui bahwa ada korelasi antara pengetahuan dan keindahan, ternyata semakin pengetahuan mereka bertambah semakin indah wajah mereka. Dengan pengetahuan rasa percaya diri mereka menjadi lebih beralasan dan sifatnya lebih permanen.
Kemajuan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa tidak lepas dari hasanah kepustakaan yang menjadi sumber kekuatan rohani. Sebuah pepatah Inggris mengatakan “A book is like garden carried in the pocket”. Buku diibaratkan seperti taman di dalam kantong. Buku memang bagaikan pohon yang sarat buah-buahnya, yang tidak henti-hentinya untuk dipetik dan digunakan. Buku bagi peradaban manusia adalah anugrah yang hebat dengan membaca manusia dapat melakukan petualangan memahami makna. Membaca dan menulis bagi manusia adalah perjalanan penemuan seperti kehidupan itu sendiri.
Sebuah buku punya banyak sekali kemungkinan diantaranya buku dapat menolong kita dalam kebutuhan jiwa. Dengan diketemukannya buku menurut Milburga (1992) informasi-informasi yang lalu lalang dapat berjalan lancar, antar manusia antar tempat, antar kurun waktu sejarah, antar bangsa. Buku buah pikiran yang berguna bagi manusia, tidak tersapu oleh waktu, dilestarikan untuk dipelajari lagi, diperkembangkan lagi, lalu disempurnakan lagi, demikian seterusnya tiada hentinya. Buku juga merupakan ilham yang membentuk jalannya sejarah bahkan mengarahkan jalannya sejarah.

Khazanah Perpustakaan
Pertama: sebagai mata rantai yang menghubungkan sejarah, yaitu harta karun batin yang berupa karya sastra, buah penemuan (filsafat, teknologi), peristiwa-peristiwa besar sejarah dapat dipelajari dan dihayati sampai saat ini. Kemudian apabila Pemikiran Ibnu Sina seorang pakar kedokteran tidak dilestarikan dan dirawat di perpustakaan, kita tentunya mempertanyakan nasib dunia kedokteran. Pendeknya lewat bacaan dalam perpustakaan ilmu pengetahuan, dapat berkembang karena orang yang membaca akan kembali mempertanyakan, mendialogkan, dari proses dialektika dari buku-buku yang dibaca akan muncul pemahaman dan pengetahuan baru.
Kedua: Perpustakaan memberi akar bagi kehidupan saat ini dalam arti, sebagaimana kita ketahui kebutuhan manusia modern saat ini adalah tuntutan atas kebutuhan informasi. Saat ini kita masuk dalam ruang simulacra, di mana informasi yang datang kepada kita datang begitu cepat, sehingga kita sulit membedakan antara nyata dan maya. Tanpa informasi ataupun ketinggalan informasi dapat menyebabkan manusia terpencil dan perasaan terasing. Di sinilah perpustakaan memainkan peranan besar.
Dari beberapa pandangan perpustakaan sebagai sumber informasi saat ini tidak hanya diperoleh secara verbal dari buku-buku saja. Tapi informasi dapat juga diperoleh melalui audio visual. Kita tentunya tahu tebal dan berjilid-jilidnya Ensiklopedia Britanica, saat ini dapat diakses tanpa harus berjuang dengan mengangkat buku-buku tebal, teknologi komputer memberi percepatan manusia meraih kepandaiannya. Bahan-bahan koleksi perpustakaan dunia modern di antaranya (1) buku teks, buku referensi. (2) terbitan berkala (majalah, jurnal). (3) koleksi audio visual (4) microfilm, pitakaset/piringan hitam, video, tv, computer dalam koleksi file, sehingga mudah diakses.
Perpustakaan mengajak manusia untuk bersikap terbuka. Setiap penemuan dan setiap pemikiran menjadi milik bersama. Ini tentunya sesuai dengan filosofi para pencari ilmu, bahwa orang kalau hanya bertukar buah apel masih masing-masing hanya akan dapat satu apel, tapi kalau orang saling bertukar ilmu, tentunya masing-masing akan bertambah pengetahuannya, baik itu pengetahuan pokoknya maupun sampingannya.
Ketiga : membimbing untuk melangkah ke masa depan. Dapat dibayangkan beratnya para siswa/mahasiswa bila tidak ada pelayanan pustaka, ataupun masyarakat secara umum. Bilamana kebutuhan kita akan wawasan dan pengetahuan harus mengeluarkan budget yang mahal. Perpustakaan merupakan vasilitas bersama, yang diharapkan dapat mengembangkan dan membimbing potensi diri manusia sehingga tidak menjadi sia-sia.
Membangun budaya perpustakaan sebagai alternatif supaya kita sebagai bangsa punya daya saing, dan mempunyai taring yang berupa wawasan keilmuan dan teknologi. Kita harus mewujudkan “knowledge is power” kita juga harus merombak sikap mental dan membangun idealisme, di antaranya adalah dengan berani mengelola dan mengasah potensi diri, berani mengatasi kelemahan, selalu berusaha melakukan yang terbaik, serta membuat sesuatu yang berharga.
Rasulullah SAW, mengatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dalam hal ini berarti kehidupan kita ada batas, dan kita ditantang untuk meningkatkan mutu hidup kita, dari waktu-kewaktu. Kita makhluk manusia diberikan sarananya yaitu senantiasa belajar. Dan perpustakaan menjadi salah satu media bagi peningkatan nilai manusia kita.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online