Edition 106/X/2009
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Naufal Fayyadh Fahrezy (4 Tahun 7 bulan)
Dalang Cilik dari TK Al Falah Baturetno

Laporan: Hanur
 
Dalang (orang yang memainkan wayang kulit) biasanya identik dengan orang yang sudah dewasa atau bahkan sepuh. Tapi di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri, Naufal Fayyadh Fahrezy seorang anak siswa TK Islam Al Falah Baturetno, Wonogiri kelas Nol Kecil, sudah mahir memainkan wayang kulit.
Naufal Fayyadh Fahrezy mulai tertarik dengan wayang sejak usia 2 tahun. Pertama kali yang dilihat adalah Werkudara atau Bima. Setiap kali melihat gambar Werkudara – satu-satunya gambar wayang yang dipajang di rumah – dia selalu senang. Dia akan betah berlama-lama hanya untuk melihat gambar Werkudara ini.
Sejak saat itu, Naufal – demikian dia dipanggil sehari-hari – suka dengan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Orang tuanya yang tidak mengenal wayang hanya bisa membelikan kaset VCD atau buku-buku bergambar wayang untuk bisa menyenangkan hati anak kesayangannya. Karena sejak saat itu tidak ada mainan yang menarik hatinya kecuali wayang.
Untungnya Naufal punya Pak De Ithus (kakak dari ibunya) yang sedikit menyukai wayang. Sehingga hampir tiap hari bisa menemaninya menikmati gambar wayang atau bercerita tentang wayang.
Pada usia sekitar 2,5 tahun Naufal dibelikan 4 buah wayang yang terbuat dari kardus. Ternyata dia sangat antusias dalam memainkan wayang pertamanya itu. Dalam sehari dia sudah hafal nama keempat wayang tersebut. Dan hal itu berlanjut sampai sekarang. Saat ini Naufal sudah hafal lebih dari 100 nama tokoh-tokoh wayang.

Sanggar Sarotama
Hingga usia 4,5 tahun saat Naufal memasuki Taman Kanak-kanak, rasa suka terhadap wayang semakin menjadi-jadi. Sekitar bulan Mei 2009, Naufal dititipkan di sanggar Sarotama Surakarta, asuhan Pak Mujiyono, SKar. Naufal sendiri sangat kepingin untuk bisa belajar dari pak Mujiyono yang dia kenal lewat salah satu stasiun TV swasta. Di sanggarnya Pak Muji (panggilan pak Mujiyono) banyak sekali perkembangannya. Dan ini bukan secara kebetulan, tetapi lebih karena ketekunan dan kesabaran pak Muji, hingga dia semakin lincah dalam memainkan wayang. Tokoh Wayang Favorit Naufal adalah Werkudara dan Anoman. Sedang dalang yang menjadi favoritnya Ki Manteb Sudarsono dan Bayu Aji (putra Ki H Anom Suroto).
Pentas Pertama
Baru sekitar 5 bulan belajar di sanggar Sarotama, Naufal sudah dipercaya Pak Muji untuk pentas dalam acara Pentas Wayang Lintang Johar di Pasar Windu Jenar Surakarta. Naufal anak kedua dari dua bersaudara (Edna Sicillia dan Naufal) pasangan Cundoko,SPd, MPd, (Guru SMP N 3 Purwantoro, Wonogiri) dan istri tercinta Kristiana Wahyu, AMd, (Swasta), dipercaya membawakan ‘Lakon Pethilan Gatut Kaca Jedhi’.
Menarik, penampilan anak kelahiran Wonogiri, 25 Februari 2005 memukau seluruh yang hadir. Mulai dari Suluk hingga Antawacana dia bawakan dengan baik, walaupun dengan nada khas anak-anak yang masih cedhal (tidak jelas pengucapan huruf r). justru itu yang mengundang decak kagum dari para penonton. Yang tidak kalah hebatnya adalah sabetan-nya (ketrampilan menggerakkan wayang), yang membuat banyak penonton geleng-geleng kepala.
Di hadapan ratusan penonton yang memadati halaman pasar di kawasan Ngarsopuro Surakarta ini, Naufal yang duduk di bangku Kelas Nol Kecil (A) TK Islam Al Falah Baturetno, Wonogiri tidak menunjukkan perasaan grogi atau minder sedikitpun. Dia bahkan terlihat cukup enjoy dalam memainkan wayang dalam waktu sekitar 30 menit itu.

TK Islam Al Falah
Meskipun Naufal telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang dan dimuat di beberapa harian lokal, ternyata dia tidak menunjukkan perubahan sikap. Menurut Kepala TK Islam Al Falah Baturetno, Wonogiri, Hj Siti Masripah, AMd, anak kelahiran 25 Februari 2005 ini, sama dengan anak-anak seusianya. Dan di TK Islam Al Falah ini ternyata anak-anak yang mempunyai talenta seperti ini mendapat dorongan dari sekolah. Bahkan pada saat Naufal pentas untuk yang pertama kali, Hj Siti Masripah, AMd, Kepala Sekolah yang sudah bercucu 8 anak ini rela menunggui sampai larut malam.
Harapannya, di kemudian hari akan banyak pihak yang merasa peduli dengan anak-anak yang bertalenta seperti ini. Menurutnya, hal ini termasuk nguri-nguri kebudayaan. Daripada nanti di kemudian hari kebudayaan dan seni ini diklaim negara lain, lebih baik kita menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi pelindung dan pewaris kebudayaan bangsa.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online