Edition 106/X/2009
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Dr Ditha Diana, MKK, AAK, Dokter Kesehatan Kerja Citra Husada
Pejuang Kesehatan Pekerja Era Kini

Laporan: Rahmawati
 
Tidak banyak sosok muda yang memiliki kepribadian konstan. Teguh memegang prinsip, begitulah yang kita temui pada dr Ditha Diana, MKK, AAK. Di usianya yang relatif muda, 29 tahun, sudah hajjah pula, wanita Minang kelahiran 8 Desember 1980 ini telah mampu menunjukkan jati dirinya sebagai dokter industri yang andal. Suatu profesi yang lebih didominasi oleh kaum laki-laki ketimbang perempuan, karena menuntut keselamatan, keamanan dalam menempuh medan kerja yang berat. Dia memang pantas dijuluki pejuang kesehatan era kini.
Menjadi dokter industri tentu saja harus siap berhadapan dengan masalah-masalah kesehatan kerja di lingkungan perindustrian. Saat ditanya apa yang menarik dari dokter bidang industri, dengan lugas dokter cantik bertubuh mungil ini mengatakan, “yang pasti tidak ada cewek.”
Hal ini dikatakan, setelah ia melakukan survei beberapa kali ke daerah. Tak tanggung-tanggung, sewaktu bekerja di Nusantara Medical Center (NMC), ia pernah dikirim ke Pulau Bunyu, Kepulauan Setu, Kalimantan Selatan. “Misalkan ada perempuan, itu pun direktur dari perusahaan yang datang survei. Penempatan tetap saja dokter laki-laki yang ditempatkan,” tukasnya.
Menurutnya, banyak alasan kenapa selalu dokter laki-laki yang ditempatkan. Pertama, situasinya keras, lebih banyak menuntut pekerjaan fisik. Untuk menuju lokasi, terkadang harus menempuh perjalanan laut, darat dan udara selama ber jam-jam dengan kondisi jalan tidak rata. Kedua, laki-laki yang bekerja di perusahaan pertambangan jauh lebih banyak itu satu berbanding seratus, sehingga yang sakit otomatis banyak laki-laki dan membutuhkan lebih banyak dokter laki-laki.
Ketiga, dari segi safety (keamanan), takut terjadi pelecehan terhadap perempuan berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jadi, sangat riskan menempatkan dokter perempuan ke daerah. Apalagi, harus ditempatkan di (rick) selama sebulan.
Saat berkunjung ke rick (anjungan pengeboran minyak) ini, Ditha sangat menjaga keramahan dan berusaha menjalin kedekatan. “Keramahan harus dikurangi, minimal banget untuk senyum. Cuma dengar keluhannya apa, ya sudah. Sebelum turun lapangan, kita melakukan survei yang sangat dalam, sehingga ketika datang semuanya sudah lengkap,” ungkapnya.
Dijelaskannya, dokter kesehatan kerja bukan mengobati, tapi menemukan masalah. Misalnya, masalah yang paling sederhana adalah bising. Mendengar suara mesin yang kencang bisa membuat orang tuli. Dari sini, pihaknya melakukan tes. Dari test audiometric, lalu dikonsultasikan ke dokter THT. “Hasil penelitian ini kita lacak tulinya karena apa, kita olah di Jakarta, ada masalah apa di sana.”

Pemberontakan seorang calon bidan
Peran orang tua sangat mendukung keberhasilan anaknya. Demikian halnya dengan anak ketiga dari pasangan Hj Ardjumainur dan Drs Bahroel Bahar ini. Meski telah mendapat “tekanan” dari ibunda tercintanya yang seorang bidan untuk mengikuti jejaknya, Ditha tetap membelot ingin menjadi dokter.
Salah satu bentuk pemberontakan terhadap sikap tegas mamanya antara lain sengaja telat masuk ujian perawat di Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) yang telah dipilih ibunya, sehingga terpaksa masuk SMA. Karena tidak bisa masuk SPK, ibundanya masih berkeras memasukkan puteri satu-satunya dari empat anak yang semuanya laki-laki ini masuk ke Akademi Kebidanan. Tapi usaha ini pun sia-sia. Tanpa sepengetahuan ibunya yang saat itu menunaikan ibadah haji, Ditha berhasil mengikuti ujian Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) mengambil Fakultas Kedokteran dan lulus.
“Menjadi bidan sepertinya sudah garis mati. Tidak ada tawar menawar waktu itu. Meski mendapat ranking terus di kelas, mama tetap tidak percaya kalau sebagai anak daerah, Bukittinggi, saya mampu menjadi dokter. Semua serba tidak mungkin di mata mama. Bahkan sebelum lulus jadi dokter, mama sudah memaksa lagi untuk mengambil spesialis kebidanan atau spesialis anak, minimal yang boleh lagi, spesialis kulit,” kenangnya.
Pemberontakan yang dilakukan Ditha menolak menjadi bidan, sebenarnya karena mengingat perjuangan mamanya yang harus menyelamatkan dua nyawa sekaligus tanpa asisten. “Stres banget kalau mengingat ini. Kalau dokter kan banyak tim, sementara bidan hanya satu asisten. Jadi aku pikir, nggak deh,” cetus Ditha yang kini telah mendapat restu dari orangtua, terutama mamanya untuk menekuni karirnya sebagai dokter kesehatan kerja.
Pilihan menjadi dokter di bidang industri pun tanpa dipikir panjang. Awalnya Ditha tidak tahu dokter industri itu apa dan akan menjadi apa. Tetapi didorong rasa keingintahuannya. Karena tidak banyak yang mengambil spesialis ini, ia mencari-cari informasi ternyata ada; dokter di bidang industri untuk dokter perusahaan di pertambangan.
Kesempatan itu pun kemudian tidak disia-siakannya. Begitu lulus, ijazah belum keluar, Ditha langsung mendaftar ke Universitas Indonesia. “Orang UI menolak karena ijazah belum ada. Akhirnya setelah persyaratan lengkap, aku benar-benar menunggu hari keluarnya ijazah. Seminggu setelahnya, benar-benar aku ujian,” kata Ditha yang berhasil menyelesaikan S2-nya dari UI hanya dengan waktu 1 tahun 9 bulan.

Si tomboy yang mandiri
Awal ketertarikannya di bidang industri sebenarnya sudah sejak SMP ingin masuk STM. Tetapi karena menjadi bidan sudah merupakan garis mati yang tidak bisa ditawar lagi, Ditha hanya mampu membayangkan mengenakan helm dan sepatu boot ke luar masuk gedung memperbaiki setiap mesin yang rusak. “Semasa kecil kalau membayangkan kerja pakai helm dan sepatu boot kayaknya keren,” cetusnya.
Sewaktu magang di PT Semen Padang dan belum menjadi dokter, Ditha cukup kaget melihat orang PT Semen Padang bekerja tidak memakai masker. “Aku saja pulang baru sehari sudah sesak nafas berat, bagaimana dengan orang- orang yang bekerja bertahun-tahun nggak pakai apa-apa. Jadi aku pikir, apakah mereka tidak menyadari kalau hal itu menyebabkan penyakit paru. Memang terjadinya akan lama, setelah pensiun si pekerja akan sakit,” tandasnya.
Dari sinilah, kemudian Ditha bertekad suatu hari nanti dia akan datang bukan sebagai mahasiswa kecil yang sok tahu tetapi seorang dokter bidang industri yang omongannya harus didengar. Tesisnya yang berjudul “Pengaruh Aktifitas Fisik terhadap Kebugaran Jasmani PT Semen Padang”, mencoba menginformasikan banyak hal yang perlu dimodifikasi. “Walau PT Semen Padang mempunyai rumah sakit, tapi itu tempat orang sakit, bukan mencegah orang jangan sakit,” cetusnya.
Diakuinya, sementara ini belum ada yang melakukan penelitian di perusahaan sejenis. Tidak banyak yang tahu bahwa bekerja tanpa perlindungan apa-apa di lingkungan pabrik semen maupun pertambangan, akan berdampak bagi si pekerja. “Dan kejadian sakitnya setelah 10 -20 tahun pasca kerja. Jadi, bisa saja orang umur 65 tahun baru sakit, sementara data itu kan sudah hilang. Perusahaan di Indonesia hanya menyimpan data pegawai yang sudah tidak bekerja hanya 3 tahun, sementara kejadian penyakit sudah 15 tahun,” jelasnya.
Lepas dari UI, Ditha mengabdikan diri sebagai dokter kesehatan kerja di NMC Jakarta. Juga pernah menjadi dokter asuransi di Lippo General Ins. Dan saat ini sebagai dokter kesehatan kerja di Citra Husada (Panasonic). “Di NMC ini pengalaman lapangan paling banyak. Karena, NMC memegang perusahaan Medco, hampir semuanya perusahaan tambang. Banyak perusahaan besar yang dipegang, seperti Peruri, Mica, bangunan jasa marga sekeliling lingkar,” ujar Ditha yang siapa sangka sosok muda rupawan yang pernah dinobatkan sebagai Miss Campus 2005 ini harus bergerak sendiri sebagai satu-satunya dokter kesehatan kerja yang menangani semua permasalahan di lapangan.

Asyik berzakat untuk kesehatan umat
Selain sibuk dengan dunia kerjanya, Ditha juga memiliki klinik yang dikelolanya sendiri untuk misi sosial sejak tahun 2006. Kliniknya bernama, Klinik Papanggo yang diambil dari nama kelurahan di Warakas, Sunter, Jakarta Utra tempat di mana ia pernah tinggal. Lokasinya berdekatan dengan Mall Sunter, dikenal lingkungan kurang higinis dan masyarakatnya kebanyakan menengah ke bawah.
Melalui idenya sendiri yang dikembangkan sejak mahasiswa, sebagai dokter umum di klinik itu, tiap bulan dia mengadakan bakti sosial dengan cara menyebarkan kupon berobat gratis di kliniknya ke 4 RT di wilayah itu. Tiap RT mendapat 15 kupon. Sehingga dalam baksos itu, dia harus melayani 60 orang pasien.
“Satu hari itu kita batasi 60 orang. Karena pernah sampai 120 pasien yang datang, semua obat habis,” ujar Ditha yang menyediakan pelayanan kesehatan gratis hanya dibantu seorang asisten yang bertugas memanggil pasien dan pelayanan obat.
Obat yang diberikan kepada pasien pun diberikan secara cuma-cuma, disisihkan dari zakat penghasilan ia bekerja. “Jadi sedekah dari saya cuma tenaga dan pikiran, ditambah yang kecil-kecil lainnya,” ucapnya merendah.
Andai saja banyak orang muda seperti Ditha. Di setiap lapangan kerja ada dana yang disisihkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Tidak harus berbentuk uang, tapi laku demikian merupakan langkah nyata mengangkat masyarakat miskin terentas dari kemiskinan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Semoga!

Biodata:
Nama : Dr Ditha Diana, MKK, AAK
Tempat Tanggall Lahir : Padang, 8 Desember 1980
Jabatan : Dokter Kesehatan Kerja
Nusantara Medical Center
- Dokter Kesehatan Kerja Citra
Husada (Panasonic)
- Konsultan Kesehatan Global
Assistance Manage Care
- Dokter Klinik Papanggo
Pendidikan : - Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas (Dokter)
- Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (S2 Kedokteran)
Nama Orang tua : Bapak : Drs H Bahroel Bahar
Ibu : Hj Ardjumainur
Nama saudara kandung : 1. Berry Prima
2. Charley
3. Bpbby Pratama
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online