Edition 106/X/2009
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
AOS Jateng Siapkan Posdaya Berbasis Panti

Laporan: Rahmawati
 
Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) berbasis Panti sedang bergeliat di Kota Semarang, Jawa Tengah. Tak tanggung-tanggung, 350 panti asuhan di Jawa Tengah saat ini sedang giat-giatnya membangun usaha ekonomi produktif (UEP) seperti arahan Asosiasi Organisasi Sosial (AOS) Provinsi Jawa Tengah. Selain diarahkan untuk mandiri, panti-panti di bawah naungan AOS ini juga tegas-tegas dilarang meminta-minta.
Salah satu bentuk pengabdian Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Jawa Tengah kepada masyarakat adalah mendirikan Asosiasi Organisasi Sosial (AOS). Asosiasi ini membawahi hampir 350 panti asuhan di seluruh Jawa Tengah. Tujuannya adalah, “stop budaya meminta!”
Asosiasi Organisasi Sosial yang telah berdiri sejak 3 tahun lalu ini sesungguhnya memiliki visi misi ingin membangun citra dan mitra, agar citra panti bagus. “Selama ini citra panti di masyarakat adalah lembaga sosial yang meminta-minta,” ungkap Ketua Asosiasi Organisasi Sosial Provinsi Jawa Tengah Ahmad Suhari.
Upaya menghapus budaya meminta-minta ini diantisipasi AOS dengan mensosialisasikan diri lewat media. Antara lain dengan menjadi nara sumber pada salah satu stasiun televisi di acara obrolan Ramadhan yang disiarkan secara live (langsung). Sehingga masyarakat tahu dan bisa langsung bertanyajawab.
Menurut Suhari, panti yang baik adalah satu kelembagaan yang tertata dengan rapi, dengan sistem yang baik, lingkungannya bersih, mempunyai program jelas dan bagus yang mampu berdiri, tidak meminta-minta. Untuk itu, AOS menawarkan satu program yang bagus kepada para pengusaha, juga kepada masyarakat.
“Program yang kami tawarkan adalah program yang memang betul-betul layak untuk bisa dipertanggungjawabkan,” cetus Suhari yang belakangan aktif menggandeng para pengusaha di Kota Semarang. Pengusaha yang tertarik dengan program yang ditawarkannya dan mau kerja sama saat ini adalah PT Kacang Dua Kelinci, PT Sidomuncul dan Harian Suara Merdeka Semarang.
Salah satu bentuk program yang ditawarkan adalah membangun usaha ekonomi produktif (UEP) di Semarang, Demak dan Kendal. “Kami juga sudah membuat semacam dana zakat dari para pengusaha yang per bulannya Rp 20 juta,” ungkapnya penuh syukur.
Melalui zakat dari para pengusaha itu, kata Suhari, disalurkan kepada panti-panti yang berada di bawah naungan AOS sebagai bantuan bergulir. Masing-masing panti mendapat pinjaman Rp 5 juta untuk dikembangkan dalam kegiatan usaha ekonomi produktif. “Usaha mereka saat ini ada yang berjualan bakso, membuat bengkel dan sebagainya,” jelasnya.
Bentuk pinjaman yang berasal dari dana zakat itu, kata Suhari, bisa dikembalikan dalam jangka panjang, lalu pengembaliannya diserahkan ke panti lain agar bisa menikmatinya juga. “Pada dasarnya, kita juga mendorong lembaga panti ini punya UEP. Ini yang menjadi arah gerakan kita.”
“Walaupun baru proses awal, gerakan ini diharapkan menyebar ke seluruh wilayah di Jateng,” cetus Suhari yang berharap dalam jangka panjang, AOS akan memberi warna ke seluruh panti-panti. “Tahun akan datang kita ingin membuat suatu lomba yaitu lomba panti bersih bekerja sama dengan pengusaha. Kita beri mereka piala dari pengusaha itu,” tambahnya.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online