Penanganan anak jalanan (anjal) di kota-kota besar selalu menjadi masalah krusial. Apalagi, sebagian besar di antara mereka adalah remaja tanggung yang diharapkan menjadi generasi muda penerus bangsa. Apa jadinya bila negeri ini dipenuhi generasi muda tanpa harapan. Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah mencoba menjembatani kebutuhan anak jalanan dengan memberi solusi berbeda.
Jumlah anjal di Kota Semarang boleh dibilang cukup besar, 2000 orang. Mereka umumnya berasal dari pelosok daerah, seperti Kendal, Demak, Grobogan, Ungaran, Purwodadi dan sebagainya. Awalnya mereka datang ke kota karena ingin tahu, tetapi ketika mengetahui begitu mudahnya mencari uang di kota, akhirnya mereka memutuskan menetap meski menjadi gelandangan di kota tanpa berpikir lebih jauh.
Sebenarnya, sudah ada peraturan pemerintah tentang larangan memberi santunan kepada pengemis di jalan. Namun tetap saja jumlah anjal semakin meningkat. Padahal, resiko di jalan cukup banyak. Mereka tidak hanya bermasalah dengan kekerasan yang sewaktu-waktu bisa menimpa di jalan, tetapi juga bakal berhadapan dengan masalah kesehatan dan pendidikan.
“Dari sisi kesehatan, anak jalanan rawan terkena penyakit. Terutama, pergaulan bebas antar teman menyebabkan mereka mudah terkena penyakit-penyakit seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya,” ungkap Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS) Semarang, Paulus Mujiran, SSos, MSi.
Dengan posisi mereka di jalan, selain rentan kecelakaan lalu lintas, juga rentan penyakit seperti paru-paru akibat asap kendaraan bermotor, penyakit dalam dan lain-lain. “Mereka juga kurang mendapat perhatian dari keluarga sehingga potensial menderita gizi buruk,” tambahnya.
Untuk membantu menangani masalah kesehatan anjal, YKKS telah memiliki mekanisme rujukan. “Ketika ada kasus anjal sakit, kami ada rujukan gratis ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, sehingga ketika mereka sakit tidak perlu repot mencari rumah sakit rujukan,” tandasnya.
Kecenderungan lebih sering berada di jalan, membuat mereka enggan bersekolah. “Mereka kebanyakan tidak sekolah, karena kehidupan di luar dirasakannya lebih menarik. Bahkan yang masih sekolah, mereka ke luar sekolah, kemudian cari kesibukan di luar. Baginya di luar lebih menarik, daripada sekolah,” ujar pria yang punya hobi menulis ini.
Selain menangani anak-anak jalanan, yayasan yang telah berdiri sejak 1977 dan lebih memfokuskan kegiatannya di Kota Semarang ini juga mengurus program pendampingan untuk anak-anak miskin perkotaan, anak-anak panti asuhan dan pelayanan kesehatan untuk orang miskin melalui balai pengobatan. Sementara itu, Dinas Sosial Kota Semarang menyediakan rumah perlindungan sosial anak yang menampung anak-anak dalam sebuah asrama untuk menangani anak-anak jalanan.
Kerjasama YKKS dengan Depsos, kata Paulus, ikut memberikan program beasiswa pendidikan dan pelatihan keterampilan. “Program yang sedang kami kembangkan saat ini adalah mengembangkan budaya pulang, sehingga anak harus kembali ke rumah sesuai programnya. Karena rumah yang dulu kurang menarik, kami kembangkan lewat konseling sehingga anak kembali ke rumah,” jelasnya.
Beberapa anak yang sudah didampingi yayasan, kini telah memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan. Di antara mereka ada yang menjadi sopir angkutan kota, kerja di pabrik, cleaning service dan sebagainya. “Kalau dulu ada musik jalanan, sekarang mereka punya kelompok orkestra yang tampil di mana-mana. Bahkan beberapa anak yang sudah diberi modal, sekarang punya usaha-usaha mandiri,” jelasnya bangga.
Selengkapnya…PDF |