Edition 106/X/2009
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Yuyun Prabukusumo, Ketua Umum BK3S Provinsi DI Yogyakarta
Relawan yang Mengabdi Tanpa Pamrih

Laporan: Rahmawati
 
Perjalanan hidupnya sebagai seorang relawan telah membuat BRAy Prabukusumo, Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengabdikan diri sepenuhnya pada beragam kegiatan sosial. Bagi isteri Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo ini, perjuangannya yang tidak mengenal lelah mengangkat derajat hidup mereka yang teraniaya, terancam bencana dan kemiskinan, tak lepas dari didikan orang tuanya. “Kalau bisa membantu, kenapa tidak?” Kita harus selalu mau ajur ajer (menyatu) dengan orang lain,” ungkap Yuyun Prabukusumo, demikian panggilan akrabnya, menirukan ucapan orangtua yang menjadi alasan melakukan segala sesuatu tanpa pamrih.
Mencari orang untuk menjadi relawan ternyata sulit. Pasalnya, tidak semua orang mau menjadi pekerja sosial (relawan) yang identik tidak dibayar. “Pertama kali saat menikah tahun 1983, saya diajak jadi relawan oleh Ibu Mangkubumi, yang sekarang menjadi Ibu Kanjeng Ratu Hemas,” tutur Yuyun mengisahkan awal mula bekerja sebagai seorang relawan.
Ajakan Kanjeng Ratu Hemas yang tak lain adalah kakak iparnya itu, tentu saja diterima dengan baik. Apalagi, sejak mahasiswa Yuyun telah aktif bergabung pada organisasi kemahasiswaan. Dan sebagai relawan kini bergabung pada BK3S yang dipimpin Ratu Hemas (Ketua Dewan Penasehat), bergantian dengan Ciptaningsih Untaryo (anggota Dewan Penasehat), yang juga merupakan Ketua Yayasan Sayap Ibu Pusat yang berpusat di DI Yogyakarta.
Dari kedua tokoh wanita pejuang inilah Yuyun Prabukusumo mulai belajar. “Mereka adalah guru saya. Ibu Untaryo banyak mengajarkan bahwa kita harus mengetahui apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh masyarakat di daerah, terutama di desa-desa,” imbuhnya.
Saat pertama terjun ke masyarakat, ibu tiga anak ini berusaha mengajak teman- temannya. “Mencari orang untuk menjadi relawan, itu ternyata sulit. Apalagi usia-usia seperti sewaktu saya masuk sekitar 27-28 tahun. Tidak semua orang mau. Mereka sedang membangun keluarga, memperjuangkan karir keberhasilan dengan penghasilan buat keluarga. Relawan kan tidak dibayar,” paparnya.
Di usia-usia produktif untuk menjadi relawan, diakui Yuyun memiliki banyak kendala. Sehingga ia memilih orang-orang yang sudah pensiun dan betul-betul pure mau menjadi relawan. “Dari saya hamil, melahirkan anak pertama sampai anak ketiga hingga mengantarkan anak pertama menjadi sarjana, saya tetap menjadi relawan. Dan itu tidak mengganggu rumah tangga saya,” ungkapnya.
Terhitung sejak tahun 1983 mejadi relawan, pengabdiannya sebagai “pahlawan tanpa jasa” ini sudah memasuki kurun waktu 26 tahun. Suatu bentuk pengabdian tanpa pamrih yang tak sia-sia. Melalui kegiatan Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahtersaan Sosial (BK3S) Provinsi DIY yang dipimpinnya saat ini, telah melahirkan Lembaga Pendidikan Anak (LPA) dan banyak lembaga-lembaga sosial yang didirikan bersama-sama. Belakangan, di Bantul juga didirikan tempat-tempat bagi para penyandang cacat (difabel) yang tersebar di setiap kecamatan dan akan berkembang ke seluruh Yogyakarta.
“Di Jalan Malioboro sebenarnya telah tersedia beberapa tempat untuk difabel, tapi kenyataannya tempat itu dipakai untuk parkiran. Kita susah sekali. Mungkin Pemda pun merasa sulit untuk memberi pengertian kepada masyarakat,” ujarnya.
Diakuinya, sejak terjadinya gempa di Bantul pada akhir Mei 2006 lalu, banyak ribuan orang di Bantul mengalami cacat tubuh. Oleh karena itu, bentuk pemberdayaan yang telah dilakukan untuk difabel baru akibat gempa antara lain menggerakkan Pos-Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).
“Melalui Posdaya yang dicetuskan Prof Dr Haryono Suyono selaku Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) kami rasakan banyak manfaatnya. Paling tidak, permasalahan remaja dan lansia bisa terakomodir,” tegas Yuyun seraya menambahkan, “Pak Haryono Suyono kami harapkan lebih banyak berkiprah dengan Posdayanya, supaya greget pemasyarakatan Posdaya lebih bergairah lagi.”
Selain itu, bekerjasama dengan Dinas Sosial, BK3S yang dikomandaninya juga telah ikut mendirikan panti-panti. “Panti yang didirikan oleh swasta itu lebih bisa dikembangkan dengan baik. Kami juga banyak sekali mendirikan, juga banyak di luar panti, baik itu untuk lansia maupun untuk cacat,” ungkapnya penuh syukur.
Jumlah panti di DI Yogyakarta saat ini ada sekitar 200 lebih. Dan yang berpayung pada BK3S sekitar 50 panti, karena memang DIY hanya memiliki lima kabupaten/kota.
Sementara Sekolah Luar Biasa (SLB) bermitra dengan Wall kinderen dari Belanda sejak 1979, yang memberi bantuan untuk SLB-SLB di Yogyakarta, juga ada lembaga autis.

Dukungan keluarga
Keterlibatannya aktif sebagai relawan, tidak lepas dari dukungan suami dan anak-anak. Ibu dari Harkani (27), Soni (24) dan satu-satunya anak perempuan Hira (21) yang semuanya adalah mahasiswa ini (kecuali Harkani yang sudah selesai kuliahnya), buah hati perkawinannya dengan KBPH Prabukusumo, Yuyun menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa mereka lahir dari seorang relawan. Tidak menerima gaji.
Wanita kelahiran Jakarta, 17 Juni 1954 ini, memang harus pandai membagi waktu untuk suami dan anak-anak, agar tidak menelantarkan urusan keluarga. Seiring dengan semakin besarnya anak-anak, Yuyun yang punya hobi membersihkan rumah dan tanam tanaman hias ini sesekali juga memanfaatkan waktu luang bersama keluarga berlibur di Yogya atau luar kota lainnya.
“Kebetulan suami banyak mengerti pekerjaan saya sehingga tidak menjadi kendala. Saya berterimakasih kepada suami dan anak-anak yang sudah banyak mendukung saya,” ujarnya seraya menambahkan, “suami saya orang Yogya dan saya berusaha untuk menjadi orang Jawa.”
Siapa sangka, puteri pasangan Suroso dan Sutitah yang menyelesaikan sekolahnya dari SD sampai SMA di Jakarta ini pernah tinggal di daerah Senen, tepatnya di Kalibaru Timur, bersama kedua orang tuanya dan ketiga saudaranya. Dia pun merasakan betapa kumuhnya daerah itu.
”Jadi kalau saya mau berenang ke Cikini, saya harus lewat rel kereta api. Saya tahu betapa kumuhnya daerah itu. Itu saya alami berpuluh-puluh tahun. Sampai saya diterima di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Psikologi. Dan di situ saya ketemu suami saya,” kenangnya.
Pada waktu terjadi gempa Yogya Yuyun Prabukusumo mengaku, hampir 3 bulan dari pagi sampai sekitar jam 8-9 malam memimpin langsung kegiatan BK3S menerima bantuan dari segala pihak. “Gempa Yogya betul-betul gempa luar biasa. Hampir 7000 orang meninggal dan yang cacat hampir 5000 orang. Mungkin gempanya hebat di Sumatera, korbannya luar biasa di Yogya, karena waktu itu penduduk masih tidur,” ujarnya.
Dengan banyaknya bencana alam yang terjadi sekarang ini, Yuyun merasakan benar pahit manisnya sebagai relawan. “Wah saya itu, sudah merasakan mencari uang keluar masuk rumah makan, bioskop dan ditolak pun saya sering. Ternyata kesadaran masyarakat untuk memberi kepada sesama itu masih sangat sulit. Demikian juga perusahaan-perusahaan. Memang ada perusahaan besar yang mempunyai CSR (Coorporate Social Responsibility) sendiri, tetapi kalau kami mendatangi ke salah satu perusahaan, belum tentu mereka mau bertemu dengan saya,” ungkap Yuyun menceritakan bagaimana sulitnya menghimpun dana dan bertekad tidak akan menyerah.
Kehadiran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, ungkap Yuyun, belum dipahami betul oleh masyarakat. Para pengusaha yang didatanginya untuk dimintai bantuan pun pada umumnya lebih ingin melaksanakan sendiri. “Hampir tiga kali saya mengadakan suatu gathering dengan pengusaha-pengusaha di Yogya, tetapi ternyata kesadarannya masih perlu di tumbuh kembangkan,” cetusnya.
Menurutnya, diperlukan adanya sosialisasi tentang kesadaran untuk peduli dan memberi kepada sesama yang lebih gencar, terutama kepada pengusaha-pengusaha. “Permasalahannya, ada sebagian pengusaha yang ingin membantu karena ingin sekali diekspos dan dimuat di majalah atau di koran besar-besar. Sementara kami biasa bekerja tanpa ekspos,” tukas Yuyun penuh semangat.
Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online