Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia Hatta Swasono menyambut baik kegiatan donor darah suka rela yang merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Hari Ibu ke 80 tahun 2008, yang sudah dimulai sejak Nopember 2008. Hal tersebut mengingat masih besarnya kebutuhan darah di tengah-tengah masyarakat, sementara penyediaannya sangat terbatas. “Mudah-mudahan kegiatan donor darah sukarela ini dapat menutupi kekurangan ketersediaan darah di PMI DKI Jakarta,” ungkapnya.
Ketua Peringatan Hari Ibu ke 80 80 dr Nila Anfasa Moelek yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat saat membuka acara Donor Darah dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-80 tahun 2008 di Gedung Depdagri, Jakarta, mengungkapkan bahwa berbicara soal donor darah selalu dikaitkan dengan kesehatan. Dan melakukan donor darah adalah pekerjaan sosial yang amat mulia. Tapi tahukah anda, kalau setetes darah yang disumbangkan akan menolong banyak orang?
Masalah darah erat kaitannya dengan proses persalinan. Seorang perempuan muda yang tidak ber-KB, tidak punya akses berobat ke puskesmas apalagi rumah sakit dan memiliki risiko tinggi melahirkan, rentan mengalami kekurangan darah (anemia) saat proses persalinan. Hal ini seperti yang dicontohkan Nila akan derita Ny Anah, di usia 39 tahun sudah 9 kali melahirkan, hanya 5 anak yang hidup.
“Sebenarnya pada saat persalinan ke delapan, dia sudah tidak ingin hamil karena dokter sudah mengingatkan bakal mengalami risiko tinggi. Tetapi karena pasangan ini tidak tahu tentang penggunaan alat kontrasepsi dan bagaimana mengatur jarak kelahiran, terjadilah kehamilan yang tidak diinginkan,” jelas Nila.
Ditambahkannya, Ny Anah meninggal karena perdarahan terlampau banyak yang disebabkan oleh rendahnya letak ari-ari, seharusnya berada di bagian atas uterus (organ peranakan). Ny Anah hanya mendapat tranfusi darah sebanyak 500 ml karena persediaan darah memang tidak ada lagi. Dan Ny Anah hanya ditangani oleh seorang residen atau calon dokter obstetri ginekologi.
“Ny Anah hanya seorang wanita desa sederhana yang tidak pandai baca tulis. Memang jawabannya adalah kita harus melakukan KB. Kita juga harus mengubah pola piker kita dari paradigma sakit ke paradigma sehat. Karena sehat adalah hak asasi manusia dan sehat adalah suatu investasi,” jelasnya. RW
Selengkapnya…PDF |