Edition 92/IX/2008
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Gemari | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Haryono Show | Info Program YDSM | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Semangat Proklamasi dalam Pengentasan Kemiskinan

Laporan: Donni
 
Suasana hari ulang tahun kemerdekan Republik Indonesia ke-63 masih terasa di segenap lapisan masyarakat. Rasa senang dan riang gembira terpancar di wajah-wajah mereka, seakan melupakan beban hidup yang dialami dari hari ke hari. Bagaimana tidak kalau sebagian masyarakat masih menghadapi ketidakpastian dalam beberapa hal, seperti harga kebutuhan pokok yang mahal, kesempatan kerja yang terbatas dan mahalnya biaya pendidikan.

Untuk mengatasi berbagai kesenjangan pemerintah telah melakukan berbagai upaya pembangunan di segala bidang. Bila mengutip perkataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa ketika negara ini belum merdeka lawan kita adalah penjajah, tapi setelah kita merdeka dan berdaulat lawan kita adalah kemiskinan dan keterbelakangan.
Artinya, jika dulu wajib hukumnya kita melawan penjajah untuk kemerdekaan, maka sekarang wajib pula hukumnya bagi kita melawan kemiskinan untuk kesejahteraan kita. Jihad yang harus kita lakukan adalah memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Oleh karena itu, Presiden mengimbau semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah mupun pihak swasta untuk meningkatkan penghasilan keluarga miskin dengan membuka lapangan kerja dan memberikan kemudahan bagi mereka.
Jadi, jangan mempersulit beban masyarakat. Andai bisa berupaya dengan membuat pendidikan dan kesehatan murah mudah berkualitas dan bila perlu gratis. Bila kita tidak ingin generasi masa depan terpuruk dalam kemiskinan, maka kita semua harus bersama-sama memutuskan rantai kemiskinan dengan memperhatikan keluarga miskin berikut orang-orang terdekatnya dengan memberikan beasiswa sampai tingkat perguruan tinggi, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Damandiri.
Dengan memberikan pendidikan yang berkualitas, maka akan lahir generasi berkualitas sebagai pemimpin bangsa di masa kini dan masa datang seperti negara Jepang, Malaysia, Korea maupun Cina. Ternyata, terbukti negara yang memperhatikan pendidikan akan menjadi negara yang jaya.
”Jadi, kita memang sengaja mengundang para bupati dari ketiga daerah, Walikota Bengkulu, Bupati Purwakarta dan Wakil Bupati Bekasi,” kata Prof Dr Haryono Suyono selaku host pada tayangan Gemari Show 22 Agustus 2008, yang disiarkan langsung oleh TVRI Jakarta.
Tayangan reality show kali ini menampilkan narasumber Walikota Bengkulu Ahmad Khanedi SH MH, Bupati Purwakarta H Deddy Mulyadi SH, Wakil Bupati Bekasi H Darip Mulyana Sos MSi, kaum ibu Tim penggerak PKK Jakarta Selatan, Tim Penggearak PKK Jakarta Barat, sejumlah mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun Bogor, para undangan dari Purwakarta dan Bekasi, juga mitra Yayasan damandiri dari Bank Bukopin, Asuransi Bumida, Perum Pegadaian serta nasabah Kredit Pundi.
”Bagaimana pak bupati mengatasi daerah miskin di wilayah Kabupaten Purwakarta?” tanya Prof Haryono yang tampil bersama Asta dari Stasiun TVRI Yogyakarta.
Bupati Purwakarta H Deddy Mulyadi, SH menjawab, kalau melihat data sekitar 25,7 persen penduduk Purwakarta dalam keadaan miskin, ini salah satu problem yang kita hadapi di kabupaten Purwakarta, sehingga dalam prespektif ke depan angka kemiskinan ini juga tida bisa absolut seperti itu. Artinya, selalu berkembang, tetapi persoalan kemiskinan ini bukan pada persoalan angka dan persoalan uang, tetapi metodologi dan kualitas hidup.
”Jadi bapak lihat setelah jadi bupati bukan angkanya, tetapi bagaimana pendekatannya?” tanya host yang mantan menteri ini. ”Karena begini. Ada satu mentalitas yang harus dibangun karena hari ini prospektif masyarakat kita tumbuh menjadi masyarakat konsumer, peningkatan daya beli belum tentu juga bisa mendongkrak angka kemiskinan lebih menurun kalau memang gaya hidupnya konsumerisme. Semakin banyak uang bisa jadi malah semakin miskin karena tingkat kebutuhannya makin semakin banyak dan semakin serakah dan berani berhutang. Sehingga dalam prespektif hidup itu harus dibangun kesadarannya kolektif dahulu,” ujar H Deddy Mulyadi.
”Lalu, bagaimana kalau di Bengkulu pak walikota?” tanya Prof Haryono. Walikota Bengkulu Ahmad Khanedi, SH, MH menukas, di kota Bengkulu permasalahan masyarakat sebenarnya yang berkaitan dengan masyarakat miskin perkotaan. Kita melihat miskin perkotaan itu dan kami juga sudah memetakan masyarakat itu 40 persen sudah mapan, yang 60 persen masyarakat perkotaan ini rentan. Dari 60 persen ini yang 20 persen sangat rentan dan yang 40 persen fluktuasi tergantung dengan kondisi, dan bila kebutuhan pokok naik nanti itu juga akan berubah. Maka kita lakukan pendekatan-pendekatan mengarahkan perubahan sikap masyarakatnya.
Sedangkan Wakil Bupati Bekasi H Darip Mulyana, Sos, Msi berbicara tentang Kabupaten Bekasi yang pada 15 Agustus kemarin ulang tahun ke-58. Kabupaten Bekasi berpenduduk 27.027.000 orang, di sana pertumbuhan ekonominya 6 persen, punya pabrik 2800, PAD-nya Rp 185 miliar, APBD-nya Rp 1,2 trilun.
”Saya sependapat dengan Bupati Purwakarta bahwa kami akan merubah mindset masyarakat kita ini. Sebab kebiasaan dulu kita hanya diberi uang, dan masyarakat diberi kredit tapi juga pembinaan masyarakatnya kurang. Inilah kita belum siap, jadi kita bina dan beri pelajaran dahulu dan saya juga berguru kepada bapak Prof Haryono. Dengan Yayasan Damandiri ini saya berterima kasih sekali, sehingga mind set saya berubah setelah saya 1 tahun 3 bulan menjadi wakil bupati dan pak bupati juga telah sama-sama berpendapat percuma kalau saya jadi bupati dan wakil bupati, kalau orang miskin di kabupaten Bekasi tidak berkurang,” urai Wakil Bupati Bekasi.
Hampir sekitar 465.000 orang miskin di Kabupaten Bekasi, apa yang ia belajar dari Prof Haryono dalam beberapa bulan ini sudah dipersiapkan pada pos pemberdayaan keluarga (Posdaya). Di Posdaya yang dibentuk untuk menangani bidang kesehatan, bidang ekonomi dan bidang pendidikan dan juga ada beberapa pendekatan. Contohnya, di masjid diadakan pendekatan dalam bidang keagamaan dan budaya. Selain dibina masalah dalam bidang kesehatan di sana juga ada posyandu lansia, posyandu balita, pemeriksaan ibu hamil.
”Bidan-bidan kita persiapkan, cuma masih kekurangan dan mungkin penerimaan bulan Oktober nanti saya programkan supaya bidan-bidan ini cukup di sana dan semua desa wajib ada bidan,” harapnya. DONNY/DH

Selengkapnya…PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online