Edition 91/IX/2008
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Haryono Show | In Memoriam | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Posdaya | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Malpraktek Atau Musibah

Laporan: Harun Riyanto
 
Dokter Harun, nama saya H, dan saya membawa Ayah saya S, usia 55 tahun, datang berobat ke dokter P, dokter umum langganan kami yang berpraktek di Condet karena menderita penyakit sesak nafas dan eksim di kakinya. Oleh dr P, ayah saya dikatakan menderita Asma dan Eksim. Kemudian disuntik obat alergi yang memang biasa ayah saya dapatkan dan mendapat resep obat untuk ditebus. Pada saat hendak meninggalkan tempat praktek dr P, tiba-tiba ayah saya kejang-kejang dan pingsan, sehingga langsung saya bawa kedalam praktek dokter P.

Di ruang periksa, dokter P memasang infus dan memberikan suntikan beberapa kali dalam setengah jam untuk memperbaiki kondisinya, namun Allah berkehendak lain, dan beliau meninggal setelah dicoba ditolong oleh dokter P. Pertanyaan saya, apakah kasus ini merupakan malpraktek dokter atau merupakan musibah yang tak bisa diduga. Bagaimana mungkin suntikan yang sudah biasa dia dapatkan bisa menyebabkan kejang, apalagi kalau yang diberikan obat untuk alegi. Kalau merupakan malpraktek, apa yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
Bapak H yang baik, saya turut berduka cita atas meninggalnya ayah saudara. Dari apa yang saudara jelaskan, kelihatan ayah anda mendapat serangan shock kemungkinan besar anafilaktik shock/renjatan anaphylactik. Renjatan anafilaktik terjadi bila terjadi reaksi alergi akut yang mengenai beberapa organ tubuh secara simultan ( biasanya sistem pembuluh darah, pernafasan, kulita dan pencernaan ). Dalam hal ini respons imun yang seharusnya melindungi (prophylaxis) justru merusak jaringan, dengan kata lain kebalikan daripada melindungi (anti-phylaxis = anaphylaxis). Reaksi anafilaktik terjadi akibat pajanan ulang alergen yang sama yang di mediasi oleh lgE spesifik yang melekat pada dinding mastosit dan basofil. Reaksi ini dapat diperberat dan diperpanjang oleh mediator sekunder yang dikeluarkan oleh sel-sel radang yang tertarik ke lokasi reaksi.
Kematian akibat reaksi anafilaktik biasanya disebabkan oleh asfiksia akibat membengkaknya saluran nafas, renjatan yang tak dapat diatasi, kurangnya pasokan darah di pembuluh darah jantung dan ketidak teraturan denyut jantung.
Gejala yang timbul sangat bervariasi, mulai dari sesak nafas, gatal gatal dikulit, muntah dan mencret, pucat akibat kollapsnya pembuluh darah dan gejala gejala lain, Renjatan anafilaktik merupakan salah satu efek samping tak terduga dari semua tindakan pengobatan yang dapat menyebabkan kematian, terutama bila S.O.P (Standar Operation Procedure) tidak dilakukan dengan benar. Tindakan pada renjatan anafilaktik dilakukan dengan memasang infus, dan memberikan suntikan untuk mengatasi renjatan seperti suntikan Adrenalin sub kutan, dan baru steroid serta anti histamin bila renjatan telah diatasi. Kelihatannya dari apa yang telah dilakukan dokter P terhadap ayah anda, S.O.P telah dilakukan dengan baik dan benar.
Apakah kejadian ini merupakan malpraktek atau musibah? Hubungan dokter dan pasien merupakan hubungan unik dengan dasar saling mempercayai. Namun renjatan anafilaktik merupakan musibah yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan oleh dokter siapa saja. Di Amerika Serikat diperkirakan 1-2% pasien yang disuntik penisilin mengalami reaksi anafilaktik dan + 400-800 di antaranya meninggal per tahun. Reaksi anafilaktoid oleh zat kontras + 5% dari pengguna dan + 250 - 1000 orang di antaranya meninggal per tahun. Menurut WHO, diperkirakan 1/5 atau 1/3 penduduk dunia pernah mengalami reaksi alergi makanan. Yunginger ( 1988 ) melaporkan 7 orang yang diduga meninggal karena reaksi anafilaktik terhadap makanan di Amerika Serikat. Reaksi anafilaktik karena obat lebih sering pada mereka yang sudah menggunakan obat yang sama berulang-ulang dan reaksi anafilaktik lebih sering pada pemberian parenteral dibandingkan dengan cara lain.
Tentunya dokter P mempunyai rekam medis ayahanda dalam penanganannya selama ini. Rekam medis tersebut merupakan bukti otentik dari tindakan apa saja yang telah ia lakukan. Tentunya dengan melaporkan kasus saudara pada Komisi Etik Kedokteran IDI, rekam medis tersebut akan dinilai apakah sesuai S.O.P atau tidak, dan bila tidak sesuai dan lalai, dokter tersebut dinyatakan melakukan malpraktek dan dapat dijatuhi hukuman etik serta hukuman pidana.
Semoga anda puas dengan penjelasan saya, dan dapat mengambil hikmahnya dari meninggalnya ayahanda.

Bila anda punya saran atau masalah yang dapat dibahas bersama dalam majalah ini, hubungi kami melalui redaksi "GEMARI" atau melalui e-mail : harunriyanto @ hotmail.com
Selengkapnya...PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online