Edition 83/VIII/2007
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
CATATAN TENTANG “SILVER COLLEGE”
…. belajar kembali untuk mengabdi dan membina masyarakat dan keluarga …
NOTES ON THE IMPLEMENTATION OF THE

Laporan: Donni/Mira
 
PREAMBLE
LATAR BELAKANG
At the moment the Indonesian population is estimated at 220 million, with an annual growth of 1.6 percent. It is also estimated that 16.4 million of that total are those of 65 years and over, roughly 5 percent of the total population. This segment of the population has grown 6 to 7 times compared to the total in the 1970's.
Dewasa ini penduduk Indonesia diperkirakan telah mencapai 220 juta, dan bertambah dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1.6 persen per tahun. Diperkirakan pula bahwa dari jumlah itu 16.4 juta adalah mereka dari kelompok usia diatas 65 tahun, atau kurang-lebih 5 persen dari jumlah seluruh penduduk. Kelompok usia ini telah meningkat sebesar 6 sampai 7 kali dibandingkan dengan pada tahun 1970-an.
Parallel with the increasing life expectancy resulting from the increasing life standards, the number of the elderly is also expected to increase with the years. Their physical and spiritual potentials are also enhanced with time. Those who would have died had they lived in the years past, are still active today.
Sejalan dengan meningkatnya angka harapan hidup yang dibawa oleh peningkatan mutu kehidupan, maka jumlah penduduk usia lanjut ini juga diperkirakan meningkat setiap tahun. Dengan sendirinya pula diperkirakan bahwa kemanpuan dan ketahanan fisik dan spiritual mereka juga meningkat dengan berjalannya waktu. Dengan lain perkataan, mereka yang seharusnya sudah meninggal, bila mereka hidup ditahun-tahun silam, kini masih hidup dan masih aktip pula.
In the traditional concept this segment of the population is categorized as "unproductive", and even often labeled as "burden" for the economically productive. In fact and the contrary, they are indeed the age group which still has considerable potentials to contribute especially in community and family development. One of the best means to materialize this would be the POSDAYA model.
Dalam konsepsi tradisional segmen penduduk ini acapkali diberi label “tidak produktip”, bahkan acapkali dicap menjadi beban bagi segmen penduduk yang ekonomis-produktip. Kenyataannya justru sebaliknya, mereka malah merupakan kelompok umur yang masih mempunyai potensi yang bermakna untuk member sumbangsih dalam upaya pembangunan masyarakat dan keluarga. Salah satu cara untuk lebih mewujudkan hal itu adalah melalui model POSDAYA.
It is imperative to underscore that in all its efforts population development Indonesia adheres to the principles of the Eight Functions of the Family, the tenets of MDGs, and the ideals of Human Development indicators. It is in this regard one would need to refer to a situational analysis to thoroughly knw what and how the conditions are regarding this age segment, and embark from that point onwards to a brighter future.
Perlu kiranya diberikan penekanan bahwa dalam upaya membangun penduduk Indonesia berpedoman pada Delapan Fungsi Keluarga, MDGs dan prinsip-prinsip HDI. Dalam kerangka pikir demikian maka kita akan perlu merujuk analisa situasional untuk dapat melihat kenyataan yang ada dan beranjak dari itu, melangkah kedepan dengan mantap.
With respect to the elderly, it is called upon all concerned to recognize that they do still have significant potentials to contribute, and it is these potentials that needs to be honed and fine-tuned to do their contributions more effectively. It is the fine-tuning and honing of their potentials that the “silver college” is about. It is bringing their hidden qualities to the surface and to give the elderly their “second chance” to serve their family and their community.
Khusus mengenai para usia lanjut, perlu kiranya menjadi perhatian yang berwenang dan yang terkait bahwa kelompok usia ini masih mempunyai potensi dan kemampuan yang signifikan untuk berkiprah, dan bahwa potensi dan kemampuan ini perlu diasah dan diberi penajaman agar sumbangsih mereka dapat lebih bermakna. Penajaman dan peningkatan potensi mereka inilah yang diwadai dalam “silver college” Upaya ini ditujukan untuk memunculkan potensi mereka kepermukaan, juga untuk memberikan “kesempatan kedua” kepada mereka untuk memberikan pengabdiannya pada pembangunan keluarga dan masyarakatnya.






FAKTA KINI
INCUMBENT REALITIES
Indonesia has a significant asset in this realm with the enactment of the Law number 10 of 1992 on Population and Development and the Development of Prosperous Families. In that legislative product the elderly is mentioned categorically, their right and obligations stipulated.
Dalam hal ini Indonesia mempunyai asset yang tak ternilai, yakni perangkat UU no. 10 tahun 1992, dengan segenap aturan pelaksanaannya. Undang-undang yang mengatur hal ihwal Pembangunan dan Kependudukan serta pengembangan Keluarga Sejahtera, antara lain memuat hal ihwal Penduduk Lanjut Usia (Lansia).
Taking stock in East Java province, at the moment a draft is being considered for a Province Legislation (Peraturan Daerah) regulating the appropriate protection and service provision for the elderly. There is also the prevailing province legislation to provide health services to the elderly via the POSYANDU throughout East Java.
Telaah kondisi di Jawa Timur menunjuk pada fakta bahwa dewasa ini sedang disusun Peraturan Daerah yang mengatur penyelenggaraan perlindungan dan pelayanan bagi Lansia. Dewasa ini juga telah berlaku Peraturan Daerah yang mengatur pelayanan kesehatan bagi Lansia melalui POSYANDU diseluruh provinsi Jawa Timur.
Indonesia also has considerable experience in social development and in capitalizing on the close link between population in development program. Yet, most unfortunate is the fact that not much are known on how to best empower and utilize the role of the elderly in societal development. This challenge is shared by many developing countries in the region and the worldover.
Indonesia juga mencatat pengalaman yang bermakna dalam menyelenggarakan berbagai program dan dalam pengembangan keterkaitan antara kependudukan dan pembangunan. Namun, disayangkan bahwa belum banyak yang dicatat dalam hal memberdayakan dan memanfaatkan peran Lansia dalam pembangnnan masyarakat. Kiranya tantangan serupa juga dialami oleh banyak negara berkembang, bahkan hampir diseluruh kawasan dan di dunia.
The challenge would also differ markedly by their place of residence and by their former occupation. Elderly who live in urban areas are for the most part former office workers or executives, whereas in the rural areas they had former active lives doing menial and agricultural work. On the other hand, those who have had office work have more potential to be continuously active using their intellectual capabilities then their village counterparts, who would rely solely on their physical strengths.
Tantangan diatas juga sangat bergantung dari tempat tinggal nara Lansia dan pola pekerjaan mereka menjelang purna bakti. Mereka yang tinggal di perkotaan kebanyakan adalah mantan pegawai dan mantan eksekutip, sedang didaerah perdesaan sebagian terbesar adalah mantan petani atau buruh kasar. Tak dapat diungkiri bahwa mantan pegawai akan mempungai potensi yang lebih besar untuk lanjut bekerja dengan kemampuan intektual mereka dibandingkan Lansia perdesaan yang akan lebih bergantung pada kekuatan fisik mereka.
At present, efforts are underway to seek the appropriate model for empowering and enhancing family welfare. One of the models is through the POSDAYA concept. With this model the empowerment is comprehensive whereby all members of the family are actively taking part. It is in this regard that the elderly with all their wisdom and experience could be a potential asset for further family development.
Dewasa ini sedang dilakukan perintisan untuk mendapatkan model yang paling sesuai bagi masyarakat kita untuk memberdayakan dan mewujudkan keluarga sejahtera. Dengan model yang dimaksud, pemberdayaan bersifat komprehensip yang memungkinkan semluruh anggota keluarga turut berperan. Dalam konteks demikian, para Lansia dengan segala kebijakan dan pengalaman mereka akan merupakan asset untuk lebih mengembangkan keluarga sejahtera.
Among them, who in their previous occupations have been in the formal sector, or civil servants, there are ample evidence that even after retirement they still possess capabilities which can be utilized to the fuller extend. However, the unfortunate fact remains that they are not accorded with the required attention and even often neglected.
Diantara mereka, utamanya bagi yang semula bergerak disektor informal, ataupun yang semula bekerja sebagai pegawai, kenyataannya adalah bahwa mereka masih mempunyai potensi untuk lebih dikembangkan dan dimanfaatkan. Namun fakta kini adalah bahwa mereka belum mendapatkan perhatian bahkan acapkali terabaikan.
One significant example is found in Desa Kosagra, at Kecamatan Rungkut in Surabaya. The elderly at this village organized themselves into various groups according to their personal interests and skills. One group organized a choir, which notably sang Japanese songs for Mr Hirofumi Ando of AUICK, Japan when he visited the village. Another group toiled in collecting historical documents, which is sufficient to envy professional historians, another group organized a community store with profits and proceeds to be divided among the group members.
Salah satu contoh yang sangat menonjol udalah kegiatan Lansia di Kecamatan Rungkut di Kota Surabaya. Para Lansia ditempat ini berkelompok menurut bidang keahlian/ketrampilan serta minat individual. Satu kelompok berupa paduan suara, yang menyanyikan lagu-lagu Jepang dihadapan Dr Hirofumi Ando dari AUICK ketika berkunjung ketempat ini. Kelompok lain mengupayakan perpustakaan bahan-bahan sejarah yang sangat mengagumkan. Kelompok lain lagi mengurayakan warung lingkungan dengan laba yang dibagi diantara warga kelompok.
An important landmark in the efforts to empower the elderly is the recently held Seminar/Workshop on Enhancing the Roles and Participation of the Elderly in Empowering the Family and the Community through POSDAYA Model, held at Marriott Hotel in Surabaya on June 11, 2007. The Seminar/Workshop was attended by more than 500 participants from the City of Surabaya and representation of Districts of East Java.
Salah satu langkah konkrit kearah pemberdayaan Lansia adalah dengan menyelenggarakan Seminar/ Lokakarya mengenai "Peningkatan Peran Lansia dalam Pengembangan Keluarga dan Masyarakat melalui POSDAYA" di Surabaya pada tanggal 11 Juni 2007. SemiLoka ini dihadiri oleh lebih dari 500 peserta mewakili semua desa di Surabaya dan wakil dari Kabupaten se Jawa Timur.
The number of participants and the persistence of their attendance for the whole day, indicate the desire of the elderly to contribute to family and community development efforts, and to the Posdaya model of empowerment.
Jumlah serta ketekunan mereka dalam SemiLoka sehari ini menunjukkan keinginan mereka untuk berpartisipasi dalam upaya pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui POSDAYA.
In the planned concerted efforts to empower the community they can be an asset for mobilizing and energizing the POSDAYA. To that particular end they need to be augmented with the required skills such that they can be adept in going with the stream of profound and rapid change.
Dalam upaya ini Lansia dapat menjadi asset penting untuk mobilisasi dan peningkatan gerak POSDAYA. Untuk itu memerlukan peningkatan ketrampilan untuk menyesuaikan diri dalam arus perubahan yang serba cepat ini.
It is also felt that there is an urgent need to do a focused and well directed advocacy, such that policy-decision makers are aware of their position in the society and thus enlist and energize their role and participation.
Yang juga sangat dibutuhkan adalah advokasi yang terarah dan tajam sehingga para penentu kebijakan menyadari posisi Lansia dimasyarakat dan akhirnya akan lebih memanfaatkan potensi mereka.
Important to underscore is that DAMANDIRI Foundation is embarking on a program towards establishing the "SILVER COLLEGE".
Yang penting untuk digaris bawahi adalah bahwa Yayasan DAMANDIRI sedang merumuskan rencangan untuk melaksanakan program khusus yang dinamakan “Silver College”.
The program is directed to give guidance to the elderly and enhance their potentials suchthat they are better equiped to serve the families and community.
Program ini ditujukan untuk memberikan pembinaan dan kelengkapan kemampuan para Lansia agar mereka lebih mampu untuk memberikan dharma bhakti pada Keluarga dan Masyarakat.

OBJECTIVES OF THE "SILVER COLLEGE"
TUJUAN “SILVER COLLEGE”


The overriding of the "Silver College" is to prepare the elderly for the opportunity to continue their public service and to give them refreshed options in family and community development.

The derived specific objectives are the following:

Tujuan utama dari "Silver College" adalah untuk memberikan kesiapan bagi para Lansia untuk memperoleh kembali berkiprah dan memberikan opsi/pilihan baru dalam peran yang diperbaharui dalam pembangunan masyarakat dan keluarga mereka.

Tujuan khusus yang terjabar seperti berikut:

1. To identify and assess individual intentions with regards to continue in efforts towards family and community development, and the fields of activities they want tu engage in.

1. Mengadakan identifikasi dan assessmen individu lansia mengenai minat mereka untuk untuk tetap berperan dalam pembangunan keluarga dan masyarakat,
dan indikasi mengenai bidang-bidang yang mereka minati.

2. To formulate the conceptual approach for continuing education and training for the elderly to provide capacity enhancement by utilizing the concept of “life-long education”;

3. Merancang kerangka pendidikan dan pelatihan berlanjut untuk pengembangan kapasitas/kemampuan para lansia mereka melalui konsep “life-long education” (Pendidikan Seumur Hidup);

4. To embark on pilot activities (pioot institutions) to provide continuing education and training for the elderly;

5. Merancang dan melaksanakan kegiatan percontohan (pilot institutions) untuk memberikan kelengkapan kemampuan bagi para Lansia;

6. To motivate and give guidance and facilitation to elderly in doing their family and community service;

7. Memberikan motivasi, bimbingan dan fasilitasi bagi Lansia yang akan memberikan bhakti mereka untuk pembinaan keluarga dan masyarakat;

8. To disseminate informasion and best practices on enhancing the potentials of the elderly in efforts toward family and community development.

9. Menyebar-luaskan (disseminasi) informasi dan pengalaman (best practices) dari kegiatan peningkatan kemampuan Lansia dalam upaya pembangunan keluarga dan masyarakat.


In order to chieve those objectives efforts are made to institutionalize and internalize the credo “ … to continue education to serve and foster family and community development … “

Untuk mencapai sasaran diatas maka diupayakan melembagaan dan pembudayaan logo: “ … belajar kembali untuk mengabdi dan membina pengembangan keluarga dan masyarakat …”




INSTITUTIONAL ARRANGEMENTS
KERANGKA KELEMBAGAAN

In implementing the “Silver College” the DAMANDIRI Foundation shall forge links and enter into cooperative arrangements with various institutions which are concerned with empowering and enhancing the role and participation of the elderly in family and community development, both in-country and in the international spheres. Special attention will be given to institutions which share similar ideals as the “Silver College” as earlier elaborated. Important to underscore in the linkages with AUICK within the context of the Kobe City Silver College in Japan.

Dalam melaksanakan “Silver College” ini Yayasan DAMANDIRI akan menggalang kemitraan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan pembinaan dan pemberdayaan Lansia dalam pembangunan keluarga dan masyarakat, baik didalam maupun diluar negeri. Utamanya dengan pihak-pihak yang telah melakukan kegiatan ini dan sejalan dengan tujuan “Silver College” ini. Yang perlu diketengahkan dalam konteks ini adalah AUICK serta Kobe City Silver College di Jepang.

In addition the DAMANDIRI Foundation shall invite noted national and international resource persons and notables experienced in doing work with and for the elderly. Among those is Prof Dr Hirofumi Ando from Kobe, Japan.

Disamping itu Yayasan DAMANDIRI juga akan mengajak serta berbagai Nara Sumber yang berpengalaman dalam upaya pembinaan Lansia, juga dari dalam dan luar negeri. Diantara beberapa kemungkinan, yang perlu kiranya diketengahkan adalah Prof Dr Hirofumi Ando dari Kobe, Jepang.

Considerations will be given to the possibility of establishing “Silver College” as a separate organizational entity within the domain of the DAMANDIRI Foundation.

Diupayakan bahwa “Silver College” ini akan mempunyai bentuk kelembagaan tersendiri, namun tetap bernaung dibawah Yayasan DAMANDIRI.

Pendidikan dan Pelatihan menggunakan institusi “Silver College” ini akan dapat dilakukan dengan berbagai pilihan:

• Persiapan fisik dan non-fisik menjelang memasuki masa purna bhakti, utamanya bagi mereka yang masih berada dalam angkatan kerja;
• Pendidikan & Pelatihan Aplikatip
• Pelatihan Soft Skills (Ketrampilan Khusus)
• (Opsional) Pendidikan Akademik D-1, yang pada awalnya akan dilakukan dalam kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi.

This education and training within the concept of “Silver College” will have various options, among those are the following:

• Physical and non-physical preparations prior to entering retirement age, which wll be mostly for those who are still in the work force;
• Applied training and education;
• Special “soft skills” training;
• Optional academic non-degree education, which will be done in collaboration with established institutions of higher learning.

In addition, and foremost, “Silver College” will provide facilitation for the elderly who are educated, trainind, and skilled in doing their community and public service.

Yang terpenting dan disamping itu “Silver College” juga akan memberikan fasilitasi pengabdian para Lansia yang terlatih dalam bhakti mereka di masyarakat.




BROAD OUTLINE OF IMPLEMENTING THE “SILVER COLLEGE”
GARIS BESAR PENYELENGGARAAN “SILVER COLLEGE”

A. PREPARING RETIREMENT
Psychological changes in retirement and ways to overcome
Health and Fitness for the elderly
Empowering the elderly
Various “second” opportunities in Economic, Sosial-Community work
“Second Professional life

Special sessions according to interest and intentions

B. SOFT SKILLS TRAINING
The following illustrative fields will be done according to interests
Catering and Cafeteria
Investment and trade
Refreshers in applied expertise:
Legal affairs
Accounting
Medical and paramedical skills
Counseling
Special counseling


A. PEMBEKALAN MEMASUKI MASA PURNA BHAKTI
Perubahan psikologis masa pensiun dan pengatasannya
Kesehatan dan Kebugaran di masa lansia
Pemberdayaan para lanjut usia
Berbagai Peluang “kedua” dibidang Ekonomi, Sosial-Kemasyarakatan
Kehidupan professional “kedua”

Sessi khusus menurut minat dan niat (introduksi)

B. PELATIHAN KETRAMPILAN
Contoh Pelatihan ini akan dibagi dalam sessi menurut minat dan niat (substansi)
Catering dan kafetaria
Investasi dan perdagangan
Penyegaran bidang-bidang professional lain:
Hukum/Legal
Akuntasi
Medik/paramedik
Konsultan
Konseling khusus




PARTICIPANTS WHO WILL BENEFIT FROM “SILVER COLLEGE”
PESERTA YANG DAPAT MEMANFAATKAN “SILVER COLLEGE”

Participants to the “Silver College” will consist of retired persons from various previous occupations, both in the government and private sectors, and those who have reached over 65 years. They would be expected to none whatsoever reservations and resolve to participate in efforts to foster family and community development in general, or to direct their efforts to facilitate certain segments of the society, all directed towards the betterment and progress of wellbeing.


Peserta Diklat “Silver College” akan terdiri dari purna bhakti (Pensiunan) dari berbagai kalangan, baik pemerintah maupun swasta, atau mereka yang telah mencapai usia diatas 65 tahun. Mereka hendaknya tanpa keraguan apapun bertekad ingin memberikan kesertaan membina keluarga dan masyarakat umum, atau segmen tertentu dari masyarakat, kearah kemajuan dan peningkatan derajat sejahtera.
Download...PDF
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online