LAPORAN MENGIKUTI FESTIVAL OF THINKERS KEDUA DI ABU DHABI DAN DUBAI 21 – 24 OKTOBER 2007
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono, Drs Mazwar Noordin
I. PENDAHULUAN
Atas undangan Higher Colleges of Technology Abu Dhabi selaku Panitia Penyelenggara, kami Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai Guru Besar Universitas Airlangga, sekaligus sebagai Ketua Yayasan Damandiri, didampingi oleh Mazwar Noerdin, Deputi Direktur Bidang Kewirausahaan Yayasan Damandiri, dari tanggal 21 sampai dengan 24 Oktober 2007 telah mengikuti pertemuan “Festival of Thinkers” yang diadakan oleh Pemerintah Uni Emirat Arab untuk kedua kalinya di Abu Dhabi dan Dubai.
Pertemuan semacam ini untuk pertama kali diadakan oleh Pemerintah Uni Emirat Arab pada tahun 2005, dan karena penyelenggaraannya dipandang sukses dan membawa manfaat untuk pembangunan di wilayah Emirat Arab, maka direncanakan akan diselenggarakan secara teratur sekali setiap dua tahun (biennial). Pertemuan ini mengundang para penerima hadiah Nobel (Nobel Laureates) dari berbagai bidang dan tahun penganugrahan serta para pemikir dunia yang berasal dari berbagai negara.
Festival of Thinkers yang kedua ini diselenggarakan bersamaan dengan peringatan hari ulang tahun ke 20 Higher Colleges of Technology, Uni Emirat Arab, yang sekaligus berperan sebagai penyelenggara festival ini.
Tujuan pertemuan ini antara lain adalah untuk mempertemukan berbagai pemikiran dan gagasan-gagasan kreatif dan inovatif dari para peserta untuk memecahkan berbagai permasalahan aktual yang tengah dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia. Sesuai dengan sebutan namanya, yaitu festival, pertemuan ini menurut hemat kami telah diselenggarakan secara spektakuler, baik dari segi peserta, substansi pembahasan, metodologi dan proses penyelenggaraan, maupun dari segi selingan hiburan atau entertainment dan social events yang diselenggarakan dengan baik.
Kami berdua merasa sangat beruntung telah memproleh kesempatan unik dan langka ini untuk dapat saling mendengarkan, bertukar pendapat dan pengalaman dengan para penerima hadiah Nobel dan dengan para pemikir kelas dunia serta turut memberikan sumbangan pemikiran bagi upaya-upaya pemecahan berbagai masalah global.
Catatan ini sekaligus merupakan ringkasan keikut sertaan dan pengamatan kami mengikuti festival tersebut, mencakup berbagai aspek penyelenggaraan, substansi pembahasan, serta kesan-kesan dan catatan kami dalam mengikuti festival dimaksud.
II. ACARA DAN JALANNYA FESTIVAL
A. Aspek Penyelenggaraan
1. Penyelenggara
Festival ini diselenggarakan di bawah naungan H.H. General Sheikh Muhammed Bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, merangkap Deputi Panglima Tertinggi Angkatan Perang Uni Emirat Arab serta sekaligus sebagai Presiden dari Dewan Pendidikan Abu Dhabi.
Bertindak sebagai tuan rumah dan sekaligus Ketua Pengarah adalah H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah Uni Emirat Arab sekaligus sebagai Rektor Sekolah Tinggi Teknologi Abu Dhabi. Sedangkan sebagai Ketua Penyelenggara adalah Dr.Tayeb Kamali, Wakil Rektor Sekolah Tinggi Teknologi Abu Dhabi.
Secara keseluruhan pelaksanaan festival ini dikoordinasikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi dengan semua College yang berada di bawahnya, baik yang ada di Abu Dhabi, maupun di Dubai.
2. Sponsor
Festival ini terselenggara atas dukungan berbagai perusahaan raksasa, baik nasional, maupun multi nasional; seperti Abu Dhabi National Oil Co., Acer, Citi, Zones Corp., General Holding Corp., Emirates Driving Co., Huawei Technologies, Ali & Sons, Daman, Etisalat, Hewlett-Packard Development Co., Sorouh Real Estate, dan Union National Bank.
3. Peserta
Peserta festival ini terdiri dari 3 kategori, yaitu para penerima Hadiah Nobel (Nobel Laureates), pemikir dunia (World Thinkers) dan para mahasiswa, baik yang berasal dari Uni Emirat Arab sendiri, maupun dari negara-negara lain, terutama dari negara-negara Teluk.
Hadir 16 Nobel Laureates dari 25 orang yang direncanakan. Keenambelas penerima Nobel tersebut terdiri dari 8 orang dari bidang Fisika, 5 orang dari bidang Kimia, 2 orang dari bidang Kedokteran, dan satu orang dari bidang Perdamaian. Mereka berasal dari negara-negara Amerika Serikat (7 orang), Jerman (satu orang), Swiss (2 orang), Norwegia (satu orang), Italia (satu orang), Belanda (2 orang), Inggeris (satu orang), dan Kenya (satu orang), yaitu Dr.Wangari Maathai, sebagai satu-satunya wakil penerima Hadiah Nobel wanita, sekaligus sebagai satu-satunya wakil dari negara berkembang dan wakil dari bidang Perdamaian.
World Thinkers yang hadir sebanyak 137 orang, pada umumnya berasal dari negara-negara maju di Amerika dan Eropa, dan dari negara-negara Teluk yang kaya minyak. Hanya sebagian kecil yang berasal dari negara-negara berkembang, seperti dari India, China, Malaysia, Indonesia, Cuba, Armenia, Lebanon, Turki, dan Iran.
Dari Indonesia hadir dua (2) orang peserta, terdiri dari Prof. Dr. Haryono Suyono yang diundang sebagai peserta kategori World Thinker sekaligus sebagai pembicara; dan Mazwar Noerdin yang diusulkan dan diterima pula sebagai peserta kategori World Thinker.
Latar belakang para thinkers menurut profesi terdiri dari guru besar, dosen dan pimpinan universitas, pemilik dan CEO perusahaan, pimpinan Yayasan dan LSM, journalist, kolumnis dan pimpinan media massa, artis/seniman, dan sebagainya.
Mahasiswa yang hadir berstatus sebagai peninjau, namun didorong dan diberi kesempatan untuk aktif mengemukakan pendapat, baik di dalam sidang pleno, maupun di dalam sidang-sidang kelompok. Jumlah peninjau ini ratusan orang dan berbeda-beda untuk setiap sessi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut berasal dari Uni Emirat Arab sendiri, maupun dari negara-negara Teluk, seperti Oman, Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi dan lain-lain.
4. Waktu
Festival diselenggarakan dari tanggal 21 sampai dengan 24 Oktober 2007. Dimulai dengan resepsi penerimaan dalam bentuk dinner party pada tanggal 21 Oktober malam, upacara pembukaan pada tanggal 22 pagi, sidang-sidang pleno dan sidang-sidang kelompok dari tanggal 22 siang sampai dengan tanggal 24 sore dan ditutup dengan dinner party pula pada tanggal 24 Oktober malam.
Jadwal acara disusun oleh Panitia dengan sangat ketat dan padat dengan hitungan dari menit ke menit mulai dari pagi sampai senja hari untuk acara inti, sedangkan malam harinya diisi dengan acara hiburan / social events yang juga disajikan dalama bentuk spektakuler dan modern. Dalam pelaksanaannya seringkali jadwal tersebut dilanggar karena pembicara yang kurang disiplin pada waktu atau panitia yang mendadak menambah, mengulur atau mengurangi waktu yang tersedia mengikuti perkembangan keadaan. Namun demikian, sekitar 90 persen substansi festival dapat terpenuhi sesuai dengan yang direncanakan.
5. Tempat
Tempat penyelenggaraan (venues) utama festival adalah di Hotel Emirates Palace, Abu Dhabi, yang konon merupakan hotel termegah dan terbesar di Timur Tengah. Acara-acara yang diselenggarakan di hotel ini adalah acara pembukaan, pleno dan diskusi kelompok hari pertama serta gala dinner di outdoor area hotel Emirates Palace.
Selain itu penyelenggaraan festival juga mengambil berbagai venues lain, seperti untuk acara resepsi makan malam penerimaan Nobel Laureates dan sebagian World Thinker terpilih di Istana Kerajaan di Abu Dhabi, pleno dan diskusi kelompok hari kedua di Abu Dhabi Men’s College dan di Abu Dhabi Women’s College, sedangkan untuk pleno dan diskusi kelompok hari ketiga serta acara penutupan diselenggarakan di Dubai Men’s College.
Resepsi makan malam sebagai farewell party diselenggarakan di Bab Al Shams Resort, suatu tempat peristirahatan yang dibangun di tengah gurun pasir, kurang lebih 50 menit berkendaraan dari kota Dubai.
6. Agenda Kegiatan
Hari I ( 21 Oktober 2007 )
- Resepsi penerimaan peserta dalam bentuk dinner party oleh H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah bertempat di Istana Abu Dhabi.
Hari II ( 22 Oktober 2007 )
- Upacara Pembukaan, yang terdiri dari :
• Pidato Pembukaan oleh H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan
• Keynote Address, oleh Prof. Dr. Wangari Maathai, Penerima Hadiah Nobel Bidang Perdamaian tahun 2004 dari Kenya berjudul : ‘Future Challenge – Protecting our Environment’ yang merupakan tema I dari festival ini.
• Penjelasan tentang ‘Thinking’ oleh seorang filosof dari India,
• termasuk tentang intelectual dan inteligence.
• Penjelasan khusus oleh Dr. Michael Sohlman, Direktur Eksekutif, Nobel Foundation, tentang sejarah dan seluk beluk Hadiah Nobel.
• Berbagai acara hiburan/ pertunjukan kesenian (balet dari Cina, akrobatik cahaya, dan demonstrasi melukis spontan oleh Maqbool Fida Husain, pelukis senior dari India)
• Diskusi Panel ‘To foster young thinkers and inovators : environmental ingredients’
• Diskusi Kelompok Tema I : Future Challenges - Protecting our Environment dengan metode de Bono’s 6 Thinking Hats.
• Presentasi dilanjutkan dengan Diskusi Kelompok Tema II : Future of the World – Energy and Sustainable Development.
• Diskusi Panel Tema III :‘Future Changes : Globalization, Innovation and Entrepreneurship’ (dilaksanakan paralel dengan diskusi panel tema IV)
• Diskusi Panel Tema IV : The Role of Media in impacting Future Changes
• Gala Dinner dengan tuan rumah H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan bersama seluruh peserta festival. Acara makan malam diselingi dengan berbagai hiburan, antara lain tarian tradisional dari Armenia ‘Barakamutyun’, Gorgy Lakatos and his orchestra dari Budapest, Hongaria dengan penyanyi seriosa Sarah Kemp, dan pianist Brian Silas. Pada bagian akhir gala dinner dipertunjukkan pesta kembang api yang sangat meriah.
Hari III ( 23 Oktober 2007 )
- Peresmian Nobel Museum oleh H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan didampingi oleh Michael Sohlman, Direktur Eksekutif The Nobel Foundation dan Profesor Svante Lindqvist, Direktur Nobel Museum.
- Diskusi Panel tema V : Future Challenges – A Vision for Children and Women of the World (dilaksanakan paralel dengan diskusi panel tema VI)
- Diskusi Panel tema VI : Future Opportunities – Health and Wellness.
- Speaker Luncheon dengan tuan rumah H.E. Nahayan Mabarak bin Nahayan menampilkan chef dari Yang Mulia Raja Swedia.
- Diskusi Panel tema VII : Rising From the Ashes—Japan Special, diselingi dengan demonstrasi seni merangkai bunga ‘ Ikenobo ‘.
- Acara ini dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk tema VII dengan metode de Bono’s 6 Thinking Hats.
- Diskusi Panel tema VIII : Moving beyond Conflicts.
Hari IV ( 24 Oktober 2007 )
- Diskusi Panel tema IX : Preparing Creative and Responsible Citizens – Role of Educators.
- Diskusi Panel tema X : Future Opportunities – Entrepreneurship and Poverty Alleviation dengan moderator Prof. Dr.Haryono Suyono dan penyaji Dr. Carl Schramm, Presiden dan CEO Ewing Marion Kauffman Foundation, USA.
- Dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk tema X dengan metode de Bono’s 6 Thinking Hats
- Wawancara 3 orang Nobel Laureates dengan 3 orang mahasiswa tentang ‘Designing the future through thinking’
- Penutupan dengan sambutan singkat oleh Dr. Tayeb Kamali, Wakil Rektor Sekolah Tinggi Teknologi.
- Farewell Dinner Party dengan tuan rumah H.E Nahayan Mabarak bin Nahayan, menampilkan berbagai kesenian rakyat Uni Emirat Arab dan pesta kembang api yang sangat meriah di langit malam gurun Dubai yang berhias purnama penuh.
B. Aspek Metodologi dan Substansi
1. Metodologi
Festival of Thinkers ini dari segi proses secara garis besar dilaksanakan dalam bentuk pleno dan kelompok. Pleno terdiri dari upacara pembukaan, panel diskusi, (baik yang diikuti dengan tanya jawab, maupun tidak), wawancara mahasiswa dengan Nobel Laureates, dan upacara penutupan. Sedangkan acara kelompok diselenggarakan dalam bentuk round-table discussion dengan menggunakan metode de Bono’s 6 thinking hats.
Pada panel diskusi untuk setiap tema yang telah ditentukan berbicara sekitar 5 – 12 orang panelist yang terdiri dari Nobel Laureates dan Thinkers, dimoderatori oleh salah seorang Thinkers yang telah ditentukan oleh Panitia. Masing-masing pembicara hanya dapat mengemukakan pendapatnya antara 3 – 5 menit, mengingat waktu yang tersedia hanya sekitar satu jam untuk setiap panel diskusi. Kecuali untuk pembicara utama yang diberikan waktu sekitar 15 – 20 menit untuk mengemukakan permasalahan dan gagasan-gagasannya. Sebagian panel diskusi diikuti tanya-jawab dengan floor sekitar 15 – 20 menit; akan tetapi ada juga sebagian yang tidak diikuti dengan tanya jawab, karena tema yang dibicarakan akan dibahas lebih lanjut di dalam diskusi kelompok.
Ada pula sidang pleno yang hanya diisi oleh seorang pembicara dengan seorang moderator sebagai pengantar, sekaligus sebagai pemberi komentar. Misalnya pleno untuk tema X : Future Opportunities : Entrepreuneurship and Poverty Alleviation yang dimoderatori oleh Prof. Haryono Suyono dengan pembicara Dr.Carl Schramm, President dan CEO Ewing Marion Kauffman Foundation, USA. Pada sidang ini Prof. Haryono Suyono sekaligus memberikan komentar.
Selanjutnya ada sidang pleno yang merupakan modifikasi bentuk panel diskusi, yaitu ada 3 orang Nobel Laureats yang diwawancara oleh 3 orang mahasiswa yang salah seorang di antaranya bertindak pula sebagai moderator. Ini adalah modifikasi tanya jawab dengan floor seusai satu tema yang telah dibahas di dalam diskusi panel.
Pada diskusi kelompok, peserta festival dibagi ke dalam 20 kelompok yang kesemuanya membahas tema yang sama. Rata-rata setiap kelompok beranggotakan 17 – 22 orang yang terdiri dari sekitar 7 orang thinkers, 10 orang mahasiswa, seorang Nobel Laureates sebagai nara sumber, seorang wakil sponsor, dan 2 orang dari Panitia. Kelompok dipimpin oleh salah seorang thinkers dan dibantu oleh 2 orang perumus dari Panitia. Diskusi kelompok diselenggarakan dalam bentuk round-table discussion menggunakan metode de Bono’s 6 thinking hats.
‘Six Thinking Hats’ merupakan suatu teknik yang sangat membantu di dalam pengambilan keputusan dari berbagai perspektif. Dengan metode ini para peserta dibantu untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dengan cara lateral, yaitu berfikir bebas “memaksa” para peserta untuk keluar dari kebiasaan cara berpikir yang telah dianut selama ini, yaitu cara berfikir vertikal. Dengan demikian peserta dibantu untuk memahami kompleksitas dari permasalahan dari keputusan yang akan diambil dan menuntun peserta untuk melihat hal-hal dan kesempatan-kesempatan yang mungkin dengan cara pengambilan keputusan yang telah biasa dilakukan tidak akan terlihat oleh kita.
Pada diskusi kelompok dengan metode ini, peserta dapat dipandang mempunyai 6 macam perspektif berpikir dan mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang ‘memakai’ topi putih (white hat) yaitu mereka yang menyediakan informasi objektif dengan mengetengahkan data dan fakta-fakta yang dilengkapi trend ke depan. Ada peserta dengan topi merah (red hat), yaitu mereka yang sering melihat masalah secara intuitif, emosi dan bersifat subjektif. Ada pula peserta yang ‘memakai’ topi kuning (yellow hat), yaitu mereka yang selalu melihat aspek positif, optimistik dan berharap yang baik dengan keputusan yang akan diambil. Sementara mereka yang ‘memakai’ topi hitam (black hat) adalah orang-orang yang melihat secara kritis dan menilai secara mendalam kemungkinan-kemungkinan negatif yang akan timbul kalau sesuatu keputusan akan diambil. Kemudian ada pula peserta yang ‘memakai’ topi hijau (green hat), itulah mereka yang memiliki kemampuan untuk mencari berbagai alternatif pendekatan baru secara kreatif dan spekulatif. Terakhir adalah orang yang ‘memakai’ topi biru (blue hat), biasanya adalah ketua kelompok, yang diharapkan melihat dan mengarahkan semua proses serta mampu melakukan overview terhadap berbagai perspektif pandangan dari semua anggota kelompok.
Pada kenyataan di dalam festival ini, metode Six Thinking Hats tidak dilaksanakan secara penuh, mungkin karena waktu yang terbatas dan kesiapan peserta yang masih kurang cukup di dalam memahami metode tersebut. Pelaksanaannya dalam praktek dimodifikasi, yaitu Pimpinan kelompok memberi kesempatan kepada anggota kelompoknya mengemukakan pendapat secara bebas seperti di dalam metode brain storming biasa. Setelah itu para perumus yang mencantumkan hasil diskusi kelompok pada kolom-kolom menurut pembagian 6 thinking hats.
Kemudian oleh para perumus pleno, hasil-hasil diskusi semua kelompok dikutip dan dirangkaikan menjadi satu kesatuan dan kemudian dibacakan sebagai kesimpulan tema bahasan topik yang bersangkutan.
2. Substansi
a. Tema umum dan Motto
Tema Festival of Thinkers ini adalah Designing the Future through Thinking dengan motto “Inspire, Innovate, Invent”..
b. Fokus
Sebagaimana dikemukakan oleh H.E. Nahayan Mabarak bin Nahayan, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah yang menjadi Ketua Pengarah dari festival ini pada acara pembukaan, fokus dari festival ini adalah peranan para ahli dan pemikir dalam memperbaharui dan memajukan masyarakat manusia melalui peranan mereka dalam menggali pemikiran, memecahkan masalah, menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan wanita dan anak-anak, serta memelihara nilai-nilai perdamaian dan kesepahaman global.
Festival ini didedikasikan pada keyakinan bahwa para ahli dan pemikir dapat mengubah dunia, karena itu diskusi yang diadakan, proposal yang dikemukakan dan inisiatif yang diambil oleh para peserta festival, merupakan hal yang esensial bagi kesuksesan dan kemakmuran secara lokal dan global.
c. Pokok Bahasan/Tema Khusus
Seperti tertuang di dalam agenda kegiatan, Festival of Thinkers ini terbagi atas 10 pokok bahasan atau tema khusus, yaitu mencakup :
1) Future Challenges : Protecting Our Environment
Masalah-masalah lingkungan paling serius yang dihadapi oleh dunia pada saat ini adalah berupa kerusakan habitat alam, berkurangnya keragaman hayati, erosi tanah, berkurangnya air bersih, munculnya species-species baru, pertumbuhan penduduk, berkurangnya sumber-sumber energi, polusi udara, air, tanah oleh bahan-bahan kimia beracun, serta pemanasan global. Banyak di antara kondisi tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga menimbulkan lingkaran setan.
Dunia kita saat ini berada dalam kondisi yang tidak sustainable. Dengan adanya hanya sebagian saja dari masalah-masalah seperti tersebut di atas, sudah akan dapat membatasi cara hidup kita pada beberapa dasa warsa yang akan datang. Karenanya dalam masa kehidupan generasi anak-anak dan remaja yang ada sekarang, masalah-masalah lingkungan hidup dunia tersebut dengan berbagai cara haruslah telah dapat diatasi.
2) Future of the World : Energy and Sustainable Development
Dalam waktu dekat dunia akan menghadapi krisis energi global, karena makin menurunnya persediaan minyak murah. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya perhatian terhadap riset energi alternatif. Perkembangan energi masa depan menghadapi banyak tantangan, mencakup pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat, standar hidup yang lebih tinggi, kebutuhan akan berkurangnya polusi, isu pemanasan global dan kemungkinan habisnya persediaan minyak yang berasal dari fosil. Tanpa energi ,maka infrastruktur industri dunia akan collapse.
Pembangunan berkelanjutan dunia membutuhkan kebijakan dan strategi energi yang cermat, mencakup antara lain peningkatan efisiensi pemakaian energi, peningkatan proporsi energi yang dapat diperbaharui, lebih fokusnya investasi dalam riset teknologi baru .
3) Future Changes : Globalization, Innovation, and Entrepreneurship
Melalui berbagai cara, isu globalisasi telah mendunia secara cepat dalam dasa warsa terakhir. Saat ini kita mulai merasakan dampak globalisasi ekonomi. Dunia bukan saja menjadi seolah-olah tanpa batas, tetapi juga telah membuka kesempatan baru yang luar biasa untuk menemukan inovasi dan menciptakan keuntungan-keuntungan strategis.
Pihak-pihak yang memahami dan memanfaatkan hubungan antara globalisasi dan inovasi, baik perusahaan-perusahaan raksasa yang berasal dari negara maju, maupun para pengusaha dari negara-negara ekonomi baru, seperti Cina dan India; akan sanggup menciptakan nilai-nilai ekonomi dalam skala yang luar biasa besarnya.
4) Role of Media in Impacting Future Changes
Dengan meningkatnya penggunaan internet dan teknologi komunikasi satelit, maka masyarakat akan dapat memperoleh informasi setiap waktu dan di setiap tempat, Tantangan bagi tenaga profesional yang bergerak dalam media komunikasi adalah mengembangkan model yang memenuhi prinsip informasi yang tepat, dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat.
Pada situasi sekarang dengan penyediaan informasi yang sangat luas, maka perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam media harus dapat menemukan cara untuk mengatasi budaya multimedia yang terlalu memborbardir massa dengan informasi, tetapi kurang dalam pemberian pengetahuan.
5) Future Challenges : A Vision for Children and Women of the World
Dunia saat ini berada dalam keadaan yang rentan. Sementara seluruh anggota masyarakat merasakan pengaruh kondisi kehidupan yang kurang menguntungkan, kondisi wanita lebih menyedihkan lagi. Walaupun sekarang lebih banyak wanita yang memasuki dunia kerja dibandingkan dengan yang terjadi pada masa lalu, namun lebih banyak pula jumlah wanita yang tidak bekerja.
Wanita cenderung bekerja dalam tingkat produktivitas yang lebih rendah di bidang pertanian dan pelayanan dengan tingkat gaji yang lebih rendah pula.
6) Future Opportunities : Health and Wellness
Dalam kehidupan sekarang dengan tingkat mobilitas yang tinggi, saling ketergantungan dan saling hubungan antara negara yang makin meningkat, maka makin meningkat pula kemungkinan cepatnya penyebaran penyakit menular; serta kekhawatiran terhadap radionuklir dan keracunan. Penyakit-penyakit cholera, demam kuning dan radang otak epidemik; muncul kembali dan membutuhkan upaya-upaya yang perlu diperbaharui dalam surveillance, pencegahan dan pengawasan penyakit.
Kekhawatiran baru di bidang kesehatan dalam memasuki abad ke 21 mencakup pula antara lain bio terorisme, SARS, dan dumping sisa bahan-bahan kmia beracun dalam skala yang besar.
7) Rising from the Ashes : Japan Special
Kasus kebangkitan bangsa dan negara Jepang dalam waktu relatif singkat dari kehancuran yang mereka alami setelah kekalahan dalam Perang Dunia Kedua merupakan sesuatu yang fenomenal. Dengan tetap berpegang pada budaya serta cara hidup mereka yang telah menjadi tradisi dalam waktu yang panjang, mereka dapat membangun rasa percaya diri untuk memandang ke depan dan bangkit dari kehancuran.
Kondisi ini membawa bangsa Jepang dalam metamorfosa yang dapat mentransformasi mereka dari bangsa yang kalah perang menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia hanya dalam waktu kurang dari 5 dasa warsa. Esensi apa yang menjadi kunci atas kebangkitan mereka tersebut? Apakah hal itu akan dapat berlaku juga dalam situasi dunia yang telah sangat berubah seperti pada saat ini? Apakah pengalaman tersebut dapat diterapkan pada negara dan wilayah lain yang sedang memandang ke depan sehabis konflik yang mereka alami?
8) Future Opportunities : Moving Beyond Conflicts
Perdamaian dan keberlanjutan pembangunan merupakan batu penjuru dari kehidupan manusia di abad ke 21 ini. Tantangan utama yang dihadapi oleh kemanusiaan saat ini adalah masalah-masalah global, seperti perubahan iklim, kelangkaan air bersih, penurunan bio-diversity yang luar biasa, dan jumlah penduduk yang besar.
Masalah-masalah tersebut membutuhkan penyelesaian secara global dengan kerjasama yang berskala paling luas sepanjang sejarah manusia. Perdamaian dunia merupakan prasyarat utama untuk itu. Tanpa perdamaian bagaimana mungkin sebagian besar bangsa di dunia akan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah-masalah besar tersebut.
9) Preparing Creative and Responsible Citizens : Role of Educators
Perguruan tinggi tidak hanya harus menciptakan manusia yang profesional, tetapi juga harus menciptakan manusia-manusia yang dapat memperkaya kehidupan planet bumi ini. Kita harus memperluas cara-cara mendidik mahasiswa untuk mampu melakukan penemuan-penemuan sendiri. Para mahasiswa harus menyadari bahwa mereka adalah merupakan agen utama untuk melakukan transformasi dunia. Semua mahasiswa haruslah menjadi pemimpi yang sekaligus praktisi.
Tujuan utama perguruan tinggi haruslah untuk menciptakan serba kemungkinan yang sublim dari human-being. Terdapat kebutuhan untuk menjelaskan hubungan antara pendidikan di perguruan tinggi dengan kompleksitas pengalaman-pengalaman modern. Tujuan nyata dari pendidikan cukup jelas, yaitu apakah generasi muda sanggup memenuhi panggilan masa depan dengan energi dan optimisme.
10) Future Opportunities : Entrepreneurship and Poverty Alleviation
Semua upaya untuk mengakhiri kemiskinan seseorang haruslah datang dari dalam diri orang itu sendiri. Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan lengkap, bukan saja untuk memelihara diri mereka sendiri, tetapi juga untuk berkontribusi bagi meningkatkan kesejahteraan dunia secara keseluruhan.
Kemiskinan tidaklah diciptakan oleh orang miskin itu sendiri, mereka hanyalah merupakan korban. Kemiskinan diciptakan oleh sistem sosial dan ekonomi yang telah didesain untuk dunia. Kemiskinan timbul lebih banyak karena kegagalan di tingkat atas daripada kekurangan kemampuan di tingkat bawah. Inilah yang merupakan akar permasalahan dari kemiskinan.
Langkah yang paling penting untuk mengakhiri kemiskinan adalah dengan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan untuk memperoleh pendapatan bagi orang miskin. Menciptakan lapangan kerja sendiri (self-employment) adalah langkah yang paling mudah dan cepat untuk mengakhiri kemiskinan seseorang. Kredit haruslah diterima sebagai hak asasi manusia, karena kredit dapat menciptakan lapangan kerja sendiri secara langsung. Di negara-negara berkembang kaum miskin sebenarnya dapat keluar dari kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja mereka sendiri; akan tetapi tidak ada institusi dan kebijakan yang membantu mereka. Langkah besar untuk menghapuskan kemiskinan adalah dengan jalan menjamin adanya penawaran pelayanan keuangan, bahkan bagi mereka yang sangat miskin sekalipun.
III. PERANAN PESERTA INDONESIA
1. Prof. Dr. Haryono Suyono berperan sebagai moderator sekaligus sebagai pembicara pada diskusi panel untuk tema X ”Future Opportunities – Entrepreneurship and Poverty Alleviation” yang dilaksanakan secara pleno dan dihadiri hampir 2000 orang hadirin (termasuk para mahasiswa lokal dan mahasiswa undangan dari berbagai negara Teluk) bertempat di Auditorium Dubai Men’s College.
Bertindak sebagai pembicara pada kesempatan tersebut adalah Dr.Carl Schramm, President dan CEO Ewing Marion Kauffman Foundation, USA yang pada prinsipnya telah menjelaskan tentang berbagai upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dan masyarakat di negara-negara maju, khususnya di Amerika Serikat, dalam mendukung upaya penghapusan kemiskinan di dunia.
Menanggapi presentasi tersebut, Prof. Haryono mengemukakan langkah-langkah penghapusan kemiskinan di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia, dalam bentuk penyediaan kredit mikro di tingkat akar rumput. Pada waktu sebelum mengalami krisis ekonomi pada tahun l997, Indonesia telah mampu menurunkan angka kemiskinan menjadi 11 persen, namun karena krisis ekonomi dan krisis lainnya, angka kemiskinan tersebut naik kembali menjadi 19 persen.
Dikemukakan pula bahwa pada saat ini untuk menghimpun dukungan bagi upaya penghapusan kemiskinan dari pihak-pihak yang mempunyai kemampuan lebih dalam bidang finansial, sedang dilakukan pula berbagai upaya antara lain melalui silver college yang dilaksanakan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan.
Pada kesempatan tersebut Prof. Haryono menyampaikan pula pujian beliau kepada pimpinan Higher Colleges of Technology yang telah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga para mahasiswanya berani tampil dan mengemukakan pendapat dalam forum yang bergengsi ini.
2. Selain berperan dalam sidang pleno, Prof. Haryono Suyono telah pula terpilih sebagai Ketua kelompok diskusi 10 yang membahas tema X, sekaligus merupakan sidang kelompok terakhir. Pada sidang-sidang kelompok sebelumnya beliau telah pula banyak memberikan masukan terhadap materi bahasan.
3. Mazwar Noerdin juga telah berperanan dalam memberikan masukan dan pokok-pokok pikiran di dalam sidang-sidang kelompok 7 yang membahas berbagai tema, terutama tentang masalah yang dihadapi dan upaya-upaya yang telah dilakukan di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia.
Kesempatan banyak diberikan kepada kita dari Indonesia, mengingat peserta yang berasal dari negara berkembang (dengan tingkat kemiskinan penduduk yang masih tinggi), jumlahnya sangat sedikit.
4. Di samping melalui forum-forum yang bersifat formal, kedua peserta yang berasal dari Indonesia telah melakukan pendekatan-pendekatan informal dengan berbagai peserta, terutama yang berasal dari lembaga swadaya masyarakata seperti Yayasan atau NGO yang kemungkinan dapat melakukan kerjasama selanjutnya dengan Yayasan Damandiri atau lembaga lain yang kita wakili. Loby tersebut antara lain melalui pembicaraan dengan Prof. Dr. Edward de Bono, seorang creative thinker yang bersama Dr. Thomas A. Farrel, CEO dari The Edward de Bono Foundation telah melakukan kerjasama dengan berbagai perusahaan besar di dunia. Dengan mereka telah dijajagi kemungkinan kerjasama untuk pengembangan teknik de Bono Six Thinking Hats dan teknik-teknik de Bono Thinking Systems lainnya di Indonesia melalui Yayasan Damandiri.
IV. KESAN DAN CATATAN
1. Pemerintah Uni Emirat Arab di bawah kepemimpinan H.H. General Sheikh Mohammed Zayed Al Nahayan, Putra Mahkota Abu Dhabi dan dengan dikoordinasikan oleh H.E. Nahayan Mabarak Al Nahayan, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah, telah mengambil langkah penting menyelenggarakan festival internasional yang bergengsi, yaitu Festival of Thinkers yang akan diadakan setiap dua tahun. Pertemuan itu menghimpun para penerima hadiah Nobel dan para pemikir dunia untuk mengemukakan pemikiran dan gagasan-gagasan brilliant mereka dalam mencari penyelesaian dari masalah-masalah global yang sedang dihadapi dunia. Penyelenggaraan pertemuan semacam ini menurut hemat kami telah dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara Uni Emirat Arab di mata dunia.
2. Sesuai dengan namanya “Festival”, pertemuan para pemikir dunia ini telah diselenggarakan secara spektakuler, baik dari segi kualitas dan jumlah pesertanya, maupun dari segi keluasan dan kedalaman substansi yang dibahas serta kemewahan penyelenggaraannya, termasuk entertainment dan social eventnya.
3. Dengan penyelenggaran festival ini, Pemerintah Uni Emirat Arab telah memberikan kesempatan yang luas bagi para intelektual dan para mahasiswa, khususnya dari Sekolah Tinggi Teknologi di seluruh UAE , bahkan mahasiswa dari negara-negara Teluk yang lain, untuk tampil dalam forum ilmiah global dan berinteraksi dengan para intelektual kelas dunia, sehingga sekaligus berarti telah meningkatkan mutu SDM dan pimpinan masa depan bangsa mereka.
4. Dalam menyelenggarakan festival ini Panitia berhasil membuat keseimbangan antara acara-acara yang bersifat serius dengan acara-acara yang menghibur dan telah pula menyediakan waktu yang cukup bagi peserta untuk mengadakan interaksi sosial sesama peserta, maupun dengan panitia penyelenggara dan para mahasiswa dan peninjau.
5. Kami merasa substansi/tema yang dibahas di dalam festival ini terlalu banyak (10 tema) dibandingkan dengan waktu yang tersedia hanya 3 hari penuh, sehingga hampir semua tema tidak sempat terbahas secara mendalam.
6. Teknik de Bono’s Six Thinking Hats yang menurut rencana akan digunakan di dalam setiap round-table discussion, ternyata karena keterbatasan waktu dan kekurangsiapan para peserta, terpaksa dimodifikasi pelaksanaannya, sehingga dirasakan kurang efektif sebagaimana tujuan dari teknik dinamika kelompok tersebut.
7. Keikutsertaan para pemikir dari negara-negara berkembang jumlahnya dirasakan masih sangat kurang, sehingga dalam pembahasan tema-tema terasa ada ketimpangan perspektif pandangan antara mereka yang berasal dari negara maju dengan negara-negara sedang berkembang.
8. Kehadiran H.E.Nahayan Mabarak bin Nahayan, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah selaku penanggung jawab festival ini di hampir setiap kesempatan acara yang bersifat formal, maupun pada social-events serta sentuhan-sentuhan pribadi yang dilakukan, telah membuat simpati dan rasa keakraban serta telah meninggalkan kesan tersendiri di kalangan para peserta terhadap kepemimpinan yang bersangkutan.
Demikianlah laporan kami menghadiri Festival of Thinkers Kedua yang telah diselenggarakan di Abu Dhabi dan Dubai, dari tanggal 21 sampai dengan 24 Oktober 2007. Semoga laporan ini bermanfaat sebagai bahan perbandingan bagi kita di dalam menyelenggarakan suatu event besar tingkat nasional atau tingkat internasional, maupun di dalam penyelenggaraan berbagai program pengembangan dan pembangunan.