Edition 80/VIII/2007
 Search    Edition
| Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Gemari Show | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Remaja & Pembangunan | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
Gerakan Masyarakat Mandiri 23 Agustus 2007

Laporan: Donni
 
Gerakan Masyarakat Mandiri 23 Agustus 2007 pukul 20:00-21-00 wib disiarkan secara langsung oleh TVRI pusat Jakarta, dihadiri Mahasiwa Fakultas Komunikasi Universitas Dr Moestopo beragama, Ibu-ibu dari UPPKS Flamboyan Karet Tengsin Tanah Abang Jakarta , Aktivis Posyandu RW 07 Gelora Tanah Abang Jakarta serta Keluarga BKB RW 07 Tanah Abang, Bpk Subiakto Beserta Ibu, dan para pengurus dari Yayasan Damandiri, Yusuf Asyari (Menteri Perumahan Rakyat), Bpk Bupati Kabupaten Jembrana Bali Bpk Prof Winasa, Bupati Kabupaten Bantul DIY Bpk Idham Samawi di dukung oleh group musik Choki dan dua penyanyi Rina yang sejak saat SMA menjadi tunanetra dan EkaYang sejak Lahir sudah tidak dapat melihat tampil memukau di acara Gerakan Masyarakat Mandiri.
Acara ini didukung oleh Harian Pelita, Majalah Gemari, dan juga disiarkan secara langsung melalui Gemari FM 103,4 Mhz
Gerakan Masyarakat Mandiri Gemari ………..


Haryono Suyono :
Bantul telah menyiapkan diri begitu rupa barangkali pak Bupati bisa ceriterakan kenapa kok bapak mendadak telah lebih dahulu rekan-rekan di daerah lainnya membentuk Posdaya di pedesaan ?

Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Jadi kita persis mengerti bahwa pemberdayaan yang paling efektif itu adalah ketika basisnya pada keluarga, itu justru ujung yang harus kita gerakan jadi kalau dari keluarga-keluarga ini mereka bergerak dan menggeliat maka nanti akan meluas ke tingkat dasa wisma, tingkat RT, Kelurahan Kecamatan sampai Kabupaten


Haryono Suyono :
Sekarang sudah sampai tingkat mana?

Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Sekarang sudah bergerak sampai tingkat dusun dan sudah berlangsung menjelang dua tahun dan hingga saat ini sedang sangat di intesifkan sekali. Kita di Bantul yang tidak di urus oleh Posdaya itu hanya dua urusan saja, yang pertama urusan politik dan yang kedua urusan pertahanan dan keamanan.
Pertahanan dan keamanan itu adalah urusan yang lebih berkepentingan dan tugas dari aparat pemerintah, Kami melihat disini dalam community Development dalam mengentaskan kemiskinan, kami sudah punya program itu sejak dari tahun 2002, sudah sekian tahun bergulir sekarang kita masukan kedalam Posdaya ini dan jauh lebih efektif diantaranya Posdaya berbasis Masjid dan secara kebutulan 94 persen warga Bantul beragama Islam, ini kita cobakan satu Posdaya yang berbasis Masjid, sedangkan lainnya masih pada berbasis dusun. Dan ternyata berbasis Masjid juga cukup efektif, Jadi disana berkait yang terutama sangat menarik itu dimana sentuhan kepada peningkatan sumber daya manusia, Jadi bagaimana di dalam Posdaya itu kita menciptakan calon pemimpin-pemimpin yang cerdas tapi juga berakhlak mulia dan yang tidak kalah pentingnya adalah berkarakter Indonesia.

Haryono Suyono :
Ini Menarik karena pak Bupati Jembrana bulan yang lalu meresmikan seluruh Kabupatennya member dengan Bantul


Prof Winasa (Bupati Jembrana):
Jadi satu bulan yang lalu kita mencoba membagun pengorganisasian program yang kita sebut POSDAYANDU (Pos Pemberdayaan dan Pelayanan Terpadu) itu ada di setiap dusun secara serentak kita buka terdiri dari 244 Posdayandu dibuka dalam satu hari itu dan ini adalah upaya kita dimana kita karena sudah mengenal Mdg’s, jadi programnya saat itu adalah pencapaian Mdg’s 2010 dilakukan di Posdayandu ini (Millenium Development Goals), Mdg’s merupakan suatu kesepakatan dunia Internasional dimana isinya ada 8 target untuk mengentaskan kemiskinan, kesehatan, pendidikan untuk semua, Persamaan gender dan mitra global kurang lebih isinya seperti itu. Posdayandu di Jembrana Posdayandu brjalan semuanya berbasis Banjar, hanya memang lebih banyak melibatkan struktur dari pemerintah daerah, jadi bukan kader tapi di semua Posdayandu ada 6 tenaga PNS yang terlibat di dalamnya ditambah dengan kader kader yang ada diluar dari PNS itu.

Haryono Suyono :
Itu tadi bedanya Posdaya yang berada di Bantul.


Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Kami hanya mefasilitasi karena kita yakin, masyarakat kita sangat cerdas dan mereka mampu, hanya bagaimana kita fasilitasi jadi kami hanya mendapatkan pada posisi posisi fasilitasi jadi sepenuhnya masyarakat, misalnya satu puskesmas di membawahi beberapa Posdaya itu dia hanya fasilitas saja misalnya ketika pemeriksaan kesehatan penimbangan bayi dan lain sebagainya itu hanya fasilitas tapi semua kegiatan ditangani oleh masyarakat langsung. Kami tidak akan melibatkan plat merah gitu , kalo birokrasi ini kan plat merah, jadi biar masyarakat secara penuh yang melaksanakan.

Haryono Suyono :
Untuk di Banjar apakah sudah dibangun kader kader Posdayandu ?


Prof Winasa (Bupati Jembrana):
Kader Kader Posdayandu di setiap Banjar dan juga keterlibatan dasawisma semuanya terlibat namun “motornya” itu adalah PNS yang dulunya sering kelayapan dimana mana maka dari itu kita optimalkan PNS itu sehingga mereka benar benar optimal untuk memberikan pelayanan dan memberdayakan masyarakat.

Haryono Suyono :
Mohon Komentar Pak Menteri karena salah satu dari gerakan Posdayandu itu mulai menyangkut perumahan pak ? maka makanannya sudah mulai bagus , pakaiannya sudah mulai bagus nah sekarang perumahan bagai mana pak ?




Yusuf Asyari (Menteri Perumahan Rakyat)):
Nampaknya di Bantul ini pembangunan perumahan cukup intens sehingga dapat dikatakan tahun ini pun seluruh penduduk akan punya rumah dan insya allah rumahnya layak huni, yang termasuk menjadi urusan Mdg’s tadi kan rumah rumah yang tidak layak huni.
Jadi kalau kita bicara soal perumahan Khususnya perumahan rakyat atau lebih khusus lagi untuk keluarga yang perpenghasilan rendah, tempo hari di dua periode Presiden kan sempat hilang, kemudian di munculkan lagi di era Presiden SBY ini dalam rangka untuk memperkuat Aspek proper Polecy nya, kenapa demikian karena keMenterian ini memang di amanati untuk mendorong dan mefasilitasi kebutuhan perumahan seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah disini harus mefasilitasi kebutuhan rumah seluruh lapisan, yang atas yang menegah dan yang bawah. Kalau yang atas mereka itu mampu membuat sendiri mampu memiliki pasar perumahan dan bahkan punya dua atau tiga rumah, oleh karena itu untuk yang kelas atas ini pemerintah cukup hanya membantu dalam masalah perizinan sesuai dengan tata ruang.
Untuk kelas menegah kebawah ini bisa kita bagi dua, mereka yang mempunyai pendapatan bisa untuk mencicil untuk membeli rumah dan mereka yang sama sekali tidak bisa beli rumah meskipun dengan mencicil. Untuk mereka yang bisa beli rumah dengan mencicil ini pemerintah menyediakan apa yang disebut subsidi perumahan, subsidi ini diberikan kepada mereka yang berpenghasilan satu juta dan pembelian rumah yang pertama itu bisa mendapatkan Rp12,5 juta, yang berpenghasilan Rp1-1,7 juta per bulan dan mereka beli rumah yang pertama boleh mendapatkan subsidi sebesar 10 Juta. Kemudian mereka yang berpenghasilan Rp1,7-2,5 Juta per bulan itu maksimum Rp7,5 juta ini dari APBN dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat supaya mereka dapat menakses kepemilikan rumah ini. Di samping itu PNS mempunyai lembaga yang bernama Bapertarum (Badan Pertimbagangan Tabunga Perumahan). Mereka ini gajinya setiap bulan di potong, untuk golongan satu Rp 3.000 Golongan II dipotong Rp 5.000 Golongan III Rp 7.000 dan Golongan IV Rp 10.000 itu yang dikumpulkan di Bapertarum ini, Kemudian Bapertarum ini memberikan pinjaman kepada mereka yang akan membeli rumah maksimum 10 Juta rupiah, Jadi disamping APBN ada Bapertarum untuk PNS, untuk TNI Polri pun demikian, ada yang namanya YKPP (Yayasan Kesejahteraan Perumahan Prajurit) ini juga memberikan subsidi lebih banyak lagi, kalo tadi PNS itu Rp10 Juta pinjaman yang harus dikembalikan supaya pada saat dia pension dapat juga, di TNI Polri ini Hibah Rp14 Juta bahkan kalau saya dengar dari Angkatan laut masih ada tambahan lagi dari dinas sebesar Rp10 juta rupiah. Cukup besar untuk harga rumah maksimum Rp 49 juta. Kemudian masih ada lagi untuk pegawai swasta, buruh-buruh industri peserta jamsostek itu oleh jamsostek diberikan pinjaman seperti Bapertarum sebesar Rp10 juta rupiah. Ini semua dimaksudkan dalan proper policy kita, dalam rangka supaya rakyat kita yang konon kesenjangan perumahan sampai sekitar 6 juta. Perumahan ini merupakan salah satu bagian saja dari proses pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, karena kalau kita bicara tiga, sandang, pangan, papan ketiganya harus berkaitan kemudian kesehatan lalu pendidikan.

Haryono Suyono :
Mohon Maaf pak ada telpon masuk, bisaanya kita dahulukan pak


Ibu Yoes (Penelpon)
Padang
Saya tertarik dengan tema yang kita angkat malam ini sebagai pertanda bahwa pemerintah punya perhatian kepada masyarakat kecil, tadi pak Menteri menyinggung tentang perumahan untuk pegawai negeri ini yang saya garis bawahi pak Menteri, kalau bapak benar-benar untuk membantu pegawai negeri yang kecil ini nggak perlu dengan pinjaman kecil saya kira untuk memberi gratis pun bisa pak contohnya gaji kita dipotong bertingkat seperti yang bapak uraikan tadi, kita rata-ratakan saja Rp7.000 kali 3 juta sekian jadi rata rata perbulan 21 koma sekian miliar, kalo satu propinsi yang di gratiskan satu rumah saja, berapa rumah yang dibangun dan berurut sampai 32 propinsi dalam beberapa tahun semua masyarakat sudah punya rumah gratis pak !
Terima kasih

Syahril (Penelpon)
Jakarta Selatan
Kalau mendengar ceramah dan uraian bapak-bapak kita ini tingkat Menteri Bupati semuanya seakan akan rakyat Indonesia itu bahagia sekali apalagi dengan perumahannya megah.
Apabila bapak memberikan kredit untuk meningkatkan daya beli perumahan masyarakat oleh bank itu keliatanya sangat menyedihkan karena pangan dan sandang pun belum cukup terpenuhi larinya papan akhirnya papan di jual diambil oleh bank
Saran saya lebih baik memberi pinjaman kredit untuk usaha mereka , usaha kecil masyarakat dan pemerintah memberikan fasilitas lahan untuk mendirikan usaha


Andi Samaudra (penelpon)
Makasar
Dimana suara mahasiswa saat ini kok mati suri gitu untuk memberantas kemiskinan dengan cara Posdaya saya setuju dangan bapak Bupati Bantul dan Jembrana itu yang bekas korban gempa saja masih belum beres pak rumah rumahnya bapak bangun bagaimana bisa memberantas kemiskinan kalo rumah rumahnya saja belum beres pak masih banyak rumah tenda tenda untuk Menteri perumahan, jangan hanya sekedar tebar pesona pak jadi kalo anda tebar pesona rakyat sudah bosan melihatnya pak!

Yusuf Asyari (Menteri Perumahan Rakyat):
Yang pertama tadi dari ibu Yoes, ia mengharapkan perumahan gratis untuk pegawai negeri, Jadi begini, Memang ada potongan-potongan atau iuran-iuran dari pegawai negeri tetapi jangankan gratis, harga rumah saat ini Rp 40-49 juta ini kalau diberikan gratis sebanyak itu maka kita sudah hitung jangankan yang Rp 49 juta itu gratis sedangkan misalnya yang Rp10 juta itu gratis bukan pinjaman ini dalam tempo dekat akan tekor, cash flownya itu tekor, nah kalo tekor yang lain-lainya tidak dapat bagian yang lebih dulu saja yang dapat ini tidak mungkin!. Kita memprogramkan tabungan ini dan akan dikembalikan saat pension, jadi bukan satu satunya benefit hanya pinjaman itu, kenapa pinjaman itu harus kembali, pertama untuk mengatasi masalah cash flow, yang kedua karena saat pensiun harus dikembalikan dengan bunga, oleh karena itu program yang dipilih bukan memberi perumahan gratis.
Untuk Bapak Syahril
Kebetulan bagian saya ini bagian mengurusi rumah jadi yang bisa saya sampaikan hanya yang terkait dengan rumah sedangkan yang untuk usaha ada sendiri departemenya yaitu UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan itu ada juga program program pemberdayaan usaha usaha kecil cuma saya tidak berkompeten untuk menerangkan karena ini terkait dengan bidang saudara saya.


Haryono Suyono :
Barang kali pak Bupati ada sedikit Komentar?

Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Kalau untuk kaitannya dengan gempa bumi ini, saya yakin akhir tahun ini semuanya selesai, kita canangkan pada bulan agustus tahun 2006 tiga bulan setelah gempa bumi waktu itu kita yakinkan dua tahun semuanya harus selesai semua urusan akibat gempa bumi dan akhir tahun ini saya kira semuanya selesai. Sampai hari ini lebih dari 91 persen yang sudah kita selesaikan, dari tiga pertanyaan atau masukan dari penelpon tadi, saya kira Posdaya ini memang jawabannya, hanya dua urusan yang tidak dilakukan didalam Posdaya antara lain Pertahanan dan Keamanan.
Posdaya meliputi pemberdayaan Pendidikan Kesehatan, Gender hingga sampai pemberdayaan ekonomi keluarga miskin dan seterusnya. Kita harus paham betul spirit (ruh) dari penyelenggaraan Posdaya ini, Yaitu kata kuncinya adalah pemberdayaan, jadi bagaimana kita yakinkan masyarakat kita bangkitkan sosial capital menjadi kekuatan sosial hanya dengan cara itu, ya itu akselerasi menuju sejahtera itu akan betul-betul kita bisa wujudkan. Karena kalau kita hanya mengandalkan dari pemerintah saja saya yakin karena sudah selama 7 tahun saya menjabat sebagai Bupati tidak pernah akan sampai kalau tanpa mengajak kekuatan dalam masyarakat.


Fadil
Universitas Dr Moestopo Beragama
Kita banyak pusat-pusat kesehatan klinik dan lainnya , yang saya lihat di daerah saya itu Posyandu sudah kurang berperan kurang banyak perannya , dan sering muncul klinik-klinik yang lain, Apakah peranan Posyandu itu bisa lebih galakan kembali?

Haryono Suyono :
Yang tepat menjawab mungkin pak Bupati Jembrana mungkin


Prof Winasa (Bupati Jembrana):
Saya jawab yang perumahan dahulu di wilayah kami di jembrana Kartu Keluarga miskin dibagi menjadi dua. KK miskin yang berdaya dan KK miskin yang tidak berdaya, yang dibantu perumahan murni adalah mereka yang tidak berdaya jadi yang masih kita berdayakan kita tidak Bantu dengan pemberdayaan yang kita lakukan dengan demikan yang tidak berdaya tetap mendapat bantuan



Hafid (penelpon)
Aceh
Kalau menurut saya itu pemotongan gaji PNS untuk perumahan itu terlalu kecil, seperti pemotongan main-main saja, jadi supaya bisa membantu PNS nya sebaiknya pemotongan sebesar Rp 50 ribu per bulan dengan harapan pinjaman 10 juta itu menjadi gratis.

Abdul Kadir (penelpon)
Tanjung Priok
Kita sebagai masayarakat, apa yang dibicarakan ini sangat baik termasuk membuka peluanglah bagi yang miskin, tapi sebaliknya Bangsa kita ini terlalu dimanja orang kaya bisa juga menjadi miskin lebih baik yang miskin itu di transmigrasi dikasi rumah dan dikasi lahan disitulah nanti sejauh mana dia akan menaikan derajat dirinya sendiri.

Sriani
UPPKA Flamboyan
Saya ingin bertanya kepada bapak Menteri, Apakah bisa sedikit dana untuk perumahan itu kami pinjam untuk kelompok kami untuk menambah modal usaha sehingga kalau kelompok kami maju kami bisa buat rumah dan saat ini kami belum punya rumah.
Terima kasih

Prof Winasa (Bupati Jembrana):
Tadi ada pertanyaan apakah Posyandu itu masih hidup, saya kira sebagian besar di kabupaten-kabupaten di daerah kami di jembrana Bali, Posyandu itu masih exis termasuk di tempat kami jadi sangat exis makanya disebut Posdayandu, jadi disitu ada Posdayandu disitu juga ada Posdaya dari pemberdayaan sampai pelayanan terpadu menjadi satu, maka itu kita sebut Posdayandu dan ada di 244 dusun atau banjar.


Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Mas itu tadi karena di Jakarta , tapi di Bantul 1092 Posyandu kami efektif betul dan setiap tahun dari APBD kita support, karena sangat luar biasa itu. Saya ingin mengajak adik-adik Mahasiswa suatu ketika ke Bantul begitu, mungkin ada usulan pemikiran bagaimana untuk lebih menggerakan Posyandu.

Haryono Suyono :
Di Jakarta Posyandu itu masih aktif dan setiap tanggal 27 setiap bulannya

Yusuf Asyari (Menteri Perumahan Rakyat):
Tadi ada saran supaya benefitnya lebih besar agar iurannya diperbesar….
Saya sependapat karena memang di Bapertarum sendiri ada pemikiran untuk menaikan iuran, jadi boleh diberitahukan iuran dari 3000 sampai 10.000 itu diterapkan dari tahun1993 sampai sekarang belum pernah berubah sementara gaji naik sudah beberapa kali oleh karena itu kita juga berharap kedepan kita sedang membuat untuk merubah perpres mengenai besarnya iuran itu akan kita naikan dan itu masih dalam proses dan mudah mudahan kita berharap di tahun ini akan ada keputusan sehingga mulai tanggal 1 januari 2008 kita bisa menaikan tabungan itu.
Apa boleh di pinjam ?
Begini bu setiap pos dalam APBN itu harus sesuai dengan peruntukannya kebetulan peruntukan yang ke saya harus mengenai rumah, kalo ibu mau pinjam untuk usaha itu ke UMKM, ada sendiri posnya, jadi prinsipnya kalau dari kami tidak bisa memberikan untuk tujuan yang lain nanti saya yang dipanggil KPK gitu.

Haryono Suyono :
Pak Bupati barangkali ada komentar ini masalah kredit, apakah di sana ada Skim seperti itu ?

Bpk Idham Samawi (Bupati Bantul) :
Di wilayah kami ada namanya program pemberdayaan ekonomi keluarga miskin anggaran tahun 2007 ini Rp 5 miliar, dan ini sebagian besar kita lewatkan Posdaya tadi jadi kegiatan ekonomi yang bagian kegiatan yang ada di Posdaya.
Untuk tahun 2008 ini kan kita sedang menyusun anggaran untuk kita lipatkan dua kali pak, karena apa menjadi 10 miliar?
Karena hasilnya sangat efektif manfaatnya jelas termasuk kredit dukungan Yayasan Damandiri, Masyarakat Bantul harus berterima kasih pada Yayasan Damandiri karena dalam rangka kami memerangi rentenir!
Rentenir itukan sumber dari malapetaka urusan kemiskinan itu salah satunya karena lintah darat tadi, saya berterima kasih kepada Yayasan yang didirkan Pak Harto dalam memberantas rentenir tadi, dan itu di doakannya dunia akherat pak…..karena bunga 20 persen menjadi hanya kurang dari satu persen.

Haryono Suyono :
Apakah di Posdayandu ada juga skim seperti itu pak ?

Prof Winasa (Bupati Jembrana):
Jadi di Posdayandu Jembrana Bali ada namanya dana bergulir pak, yang pengawasannya tanggung renteng sehingga bisa saling satu mengawasi yang lain, kemacetan kredit sampai dengan hari ini kurang dari lima persen. Itu yang sudah dilakukan dan bukan hanya skim kredit saja disitu tanggung renteng saja tapi mungkin pelayanan informasipun ada disana di Posdayandu.
Jadi demikian lengkap semua kegiatan masyarakat dan bedanya dengan Posyandu, kalo Posyandu satu bulan sekali kalau Posdayandu itu satu minggu sekali jadi senin, selasa,rabu,kamis itu ada kegiatan.

Haryono Suyono :
Para penonton yang saya hormati sekali lagi saya ingin menghimbau kalau ada keluarga yang mempunyai anak apakah dari kecial atau sudah besar menyandang masalah masalah social seperti cacat mata dan lain sebagainya. Jangan disembunyikan, sekolahkan dan berikan latihan dan kesempatan karena mbak rina dan mbak eva adalah satu contohnya. Semoga perbincangan kita mala mini menjadi inspirasi bagi masyarakat,
Terima kasih pak Menteri, pak Bupati


GEMARI……………………
Audio Sesi 1

Audio Sesi 2

Audio Sesi 3

Audio Sesi 4

 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online