Edition 74/VIII/2007
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Forum Kita | Gema Redaksi | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Remaja & Pembangunan | Seputar Raker | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara | Wirausaha
 
Select Edition     
BANGKIT KEMBALI SETELAH MUSIBAH

Laporan: Prof Dr Haryono Suyono
 
Masyarakat kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, termasuk masyarakat yang menderita tetapi tahan banting. Tahun lalu daerah Bantul dan Klaten mendapat musibah gempa bumi yang dahyat yang menyebabkan banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, bahkan kekasih atau saudara tersayang milik satu-satunya yang rata dengan tanah atau lenyap tidak ada bekasnya. Banyak keluarga kehilangan mata pencarian dan sumber pendapatannya. Tetapi dengan penuh tawakal, tekad yang membaja, mereka bekerja keras dan segera bangkit kembali memperbaiki tempat tinggalnya serta menata kehidupan sosial ekonominya dengan semangat gotong royong yang tinggi. Mereka berterima kasih saudara dan sanak kerabat se bangsa dan se tanah air dari seluruh tanah air mengulurkan bantuan dalam segala bentuk. Mereka menyambut datangnya bantuan bukan dengan berpangku tangan tetapi ikut bekerja keras membersihkan puing dan diatas puing bekas rumah tinggalnya itu mereka bekerja bersama membangun kembali rumah dan kehidupannya yang normal.

Pada waktu ini, kalau kita berkunjung ke desa yang sangat menderita di masa gempa, masih bisa dilihat puing, kayu dan genting sisa-sisa reruntuhan yang menumpuk. Bahkan masih ada sisa-sisa bangunan yang rontok dan porak poranda. Tetapi disamping tumpukan puing itu telah terbangun rumah rapi dengan penghuninya yang tersenyum dan telah bekerja keras menyusun kekuatan baru untuk masa depan yang sejahtera.

Selintas ada tanda-tanda penderitaan karena gempa. Tetapi tidak ada tanda-tanda putus asa untuk tidak bangkit dan menyongsong masa depan dengan kehidupan baru yang sejahtera. Laki perempuan, tua muda, semuanya nampak dengan jiwa dan semangat yang tinggi siap bekerja keras menyongsong masa depan yang cerah itu. Tidak terlihat manusia yang memelas dan tidak mau bekerja keras. Masing-masing dengan penuh semangat melihat apa yang terjadi sebagai cobaan Tuhan Yang Maha Kuasa tetapi tidak untuk disesali, bahkan dianggap sebagai cambuk untuk lebih dekat kepadaNya dan bekerja sesuai dengan garis-garis yang menjadi ajaran agamanya.

Sepintas pengunjung yang datang di desa itu bisa geleng-geleng kepada, tidak percaya terhadap apa yang kita lihat. Masyarakat Kabupaten Bantul, utamanya di desa yang sangat menderita karena gempa, bukanlah masyarakat modern dengan pendidikan yang tinggi, atau telah sering mengikuti latihan ketahanan mental spiritual dan didadar dengan pelatihan phisik yang ampuh, tetapi mereka mempunyai daya tahan yang luar biasa. Mereka sudah bisa menerima tamu dengan santai, beberapa diantaranya dimuka rumahnya sengaja menumpuk seungguk sampah batu dan kayu sisa rumahnya yang hancur sebagai “monumen” untuk mengenang peristiwa naas yang menimpa seluruh kampungnya. Mereka dengan santai bercerita tentang musibah itu, sedang mengerjakan apa pada saat musibah terjadi dan apa saja yang dikerjakan mereka menghadapi musibah yang berlangsung sangat cepat tersebut. Kesan memelas dan penderitaan tidak lagi terasa. Rasa nrimo dan pasrah dengan disertai semangat juang yang tinggi barangkali tidak beda dengan anggota pasukan tentara yang tertangkap musuh. Biar disiksa kaya apapun tidak bersedia membuka rahasia rencana serangan dari pasukannya.

Rumah-rumah tinggal mereka hampir semuanya telah terbangun kembali dengan rapi jauh hari sebelum bantuan dari pemerintah diturunkan. Ada yang membangun dengan kekuatan sendiri yang tersisa. Ada yang dengan bantuan yang mengalir dari berbagai lembaga dalam dan luar negeri ikut bekerja keras membangun rumahnya. Ada yang dengan sisa-sisa rumahnya, bantuan yang diterima, dan bekerja keras membangun rumahnya menjadi bangunan layak huni yang sedap dipandang. Setiap penghuninya dengan senyum menyatakan bahwa rumah barunya nyaman dan Insya Allah bisa mengantarnya membangun kehidupannya yang baru.

Ada yang membangun rumahnya ditengah rumah lamanya yang jauh lebih besar. Ada yang menyatakan bahwa pintu dan jendela rumah barunya berasal dari sisa-sisa pintu dan jendela rumah lamanya. Disana-sini sisa-sisa itu ditambal karena tidak utuh lagi, ada yang hanya kerangkanya saja yang dipakainya, dan ada yang sekedar bisa mengambil batu bata atau sisa-sisa lain yang tidak ikut hancur karena terpaan gempa yang sangat mengagetkan tersebut.

Puluhan bahkan ratusan rumah itu tegak berdiri seperti penghuninya yang tidak putus asa. Bantuan dari kalangan masyarakat luas ada yang sangat sederhana sehingga bangunan rumah yang tegak juga sangat sederhana, ada pula lembaga yang datang dengan dukungan dana gotong royong yang kuat serta bisa membangun seperti layaknya kompleks hunian dengan bentuk dan besar bangunan yang seragam. Disamping itu dapat dicatat bahwa datangnya bantuan itu tidak di-“tonton” oleh rakyat desa di Bantul. Masing-masing keluarga setempat ikut bekerja keras menjadi tukang dan berkeringat setiap hari seakan-akan mereka itu adalah “kuli bangunan” yang memperoleh gaji besar karena bekerja dengan tekun dan cepat membangun rumah di desa tersebut.

Padahal umumnya penduduk desa yang menderita itu adalah petani yang tidak pernah mimpi menjadi tukang batu, tukang kayu, apalagi membangun rumah. Di masa lalu pada waktu mereka membangun rumah yang asli, nenek moyang mereka mempercayakan pembangunan rumah itu kepada para tukang yang memang pekerjaan mereka adalah tukang. Karena pembangunan dewasa ini tidak sedikit dan tidak bertahap, maka salah satu yang dikembangkan oleh suatu tim pembangunan kembali rumah-rumah penderita itu adalah melatih mereka bekerja sambil bekerja. Para petani yang tidak pernah bekerja sebagai tukang mendadak bisa memperbaiki rumah dan karenanya mampu bekerja sebagai tukang di tempat lainnya.

Profesi baru itu menguntungkan. Setelah selesai membangun rumah masing-masing, sementara pekerjaan dibidang pertanian, karena musim hujan dan tanam belum tiba, para petani bisa bekerja sebagai tukang batu dan tukang kayu. Petani sederhana itu kini bisa bekerja membantu pembangunan rumah-rumah lain yang penderitaannya sama. Mereka mendapat pekerjaan baru sebagai tukang yang sangat dibutuhkan masyarakatnya. Pekerjaan yang tidak saja melipur lara, tetapi mendatangkan keuntungan yang mengantar para penderita itu pada kehidupan yang lebih sejahtera.

Dalam suasana dan semangat seperti diuraikan diatas hari Rabu minggu lalu, dengan dipimpin oleh Bupati Drs. Idham Samawi dan Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul serta dibantu Dinas-dinas dan organisasi masyarakat di Bantul, masyarakat Bantul mengundang Yayasan Damandiri untuk bersama-sama berusaha mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) berbasis masyarakat dan masjid di seluruh kabupaten Bantul. Pengembangan Posdaya untuk seluruh kabupaten ini merupakan keputusan yang sangat tepat untuk melengkapi kerja keras menuju Bantul yang lebih sejahtera.

Untuk mempersiapkan pengembangan Posdaya di seluruh kabupaten Bantul, pada hari Rabu itu telah berkumpul semua camat dan pejabat terkait pada tingkat kabupaten, PKK dari seluruh Bantul serta lembaga dan berbagai organisasi masyarakat yang terkait dengan upaya pemberdayaan keluarga dan pembangunan manusia untuk mencapai sasaran MDGs yang telah dicanangkan pemerintah. Dalam pertemuan itu telah diuraikan strategi pengembangan wilayah dan pilihan sasaran utama sehingga pengembangan Posdaya dapat berlangsung dengan mulus dan makin mandiri.

Pertemuan pertama ini telah diikuti dengan pemilihan daerah yang diharapkan didasarkan pada beberapa prioritas utama. Prioritas pertama adalah kedekatannya dengan sekolah sehingga anak-anak remaja yang sedang sekolah, setelah pulang sekolah, dapat ikut serta membantu sambil belajar mengenal masalah-masalah kemasyarakatan dan penyelesaiannya. Prioritas kedua adalah kedekatannya dengan Masjid sehingga jemaah masjid dapat mengembangkan gotong royong untuk membantu pemberdayaan keluarga di sekitar masjid. Prioritas ketiga mempunyai kedekatan dengan Panti Asuhan agar anak-anak remaja yang ada di panti asuhan dapat mengembangkan dirinya menjadi pembantu untuk mengasuh pengembangan Posdaya di desanya. Dan prioritas lainnya adalah yang dekat dengan tempat ibu-ibu dan masyarakat lain berkumpul sehingga memudahkan komunikasi untuk ikut serta dalam kegiatan Posdaya di desanya.

Pengembangan Posdaya di pedesaan, baik di sekitar sekolah, atau berbasis tempat ibadah seperti Masjid, harus segera diikuti dengan pengembangan unit-unit pelayanan yang bermutu di sekitarnya. Posdaya sebagai pusat informasi dan pemberdayaan, apabila mendapat sambutan masyarakat sekitarnya, akan segera memerlukan unit-unit pelayanan yang siap melayani dalam bidang agama, kesehatan, pendidikan, wirausaha dan pemeliharaan lingkungan yang kondusif untuk meningkatnya gairah pembangunan keluarga. Tanpa adanya unit-unit yang bermutu dan siap melayani masyarakatnya hampir pasti semangat yang muncul dari masyarakat sekitarnya itu akan sia-sia.

Semoga kebangkitan masyarakat Bantul itu akan memperoleh dukungan yang luas dan mendapatkan limpahan rahmat dan hidayah dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Keluarga yang tertimpa musibah beberapa waktu yang lalu segera bisa membangun keluarga yang sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online