Edition 68/VII/2006
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Forum Kita | Gema Redaksi | Gema stroke | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Opini | Pendidikan | Remaja & Pembangunan | Tokoh Teladan | Wirausaha
 
Select Edition     
ANAK LUAR BIASA TUNA DAKSA PERLU PERHATIAN LEBIH

Laporan: CAROLINA, SPd
 
Semua anak, baik normal maupun tuna (berkelainan) memiliki kesempatan sama didalam hal pendidikan dan pengajaran. Namun harus diakui bahwa anak yang mengalami ketunaan memiliki berbagai hambatan dan kelainan dalam kondisi fisik dan psikisnya sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perilaku dan kehidupannya.
Anak luar biasa diasumsikan berkaitan dengan kondisi jasmani maupun rohani yang berkelainan dibanding anak normal. Oleh karena itu anak digolongkan luar biasa
apabila anak itu tidak masuk pada kategori sebagai anak normal baik fisik, mental
maupun intelegensianya.
Permasalahan mendasar bagi anak-anak luar biasa, biasanya ditunjukkan dengan perilakunya ketika melakukan aktivitas bersama dengan anak-anak normal pada umumnya. Contoh, ketika bergaul mereka menghadapi sejumlah kesulitan baik dalam kegiatan fisik, psikologis maupun sosial.
Ditinjau dari aspek psikologis anak tuna daksa memang cenderung merasa apatis, malu, rendah diri, sensitif dan kadang-kadang pula muncul sikap egois terhadap lingkungannya. Keadaan seperti ini mempengaruhi kemampuan dalam hal sosialisasi dan interaksi sosial terhadap lingkungan sekitarnya atau dalam pergaulan sehari-harinya.
Keluarbiasaan jenis apapun yang disandang anak tuna merupakan pengalaman personal. Ini berarti siapapun yang berada diluar dirinya tidak akan merasakan tanpa ia mengerti, memahami dan mengalaminya. Anak atau siswa tuna daksa yang satu dengan yang lain belum tentu sama apa yang dipikirkannya. Jadi meskipun sama-sama mengalami ketunaan, belum tentu apa yang dirasakan seseorang sama dengan yang dirasakan anak tuna-tuna lainnya.
Dengan adanya keluarbiasaan dalam diri seseorang sering eksistensinya sebagai
makhluk sosial dapat saja terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman
pribadi anak itu maka efek psikologis yang ditimbulkannya juga tergantung dari
seberapa berat ketunaan yang disandangnya itu, kapan saat terjadinya kecacatan,
seberapa besar kualitas kecacatan dan karakteristik susunan kejiwaan anak atau siswa
tersebut sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya
Dari beberapa kajian yang telah dilakukan terhadap isolasi sosial anak, menunjukkan anak sering menjadi kaku, mudah marah dan bila dihubungkan dengan perilakunya menunjukkan seakan bukan pemaaf dan tidak mempunyai rasa sensitif terhadap orang lain. Hal lain menunjukkan bahwa anak-anak seperti itu mempunyai kesulitan mendasar dalam hal sosialisasi dan bahkan komunikasi.
Sifat-sifat seperti itu merupakan rintangan utama dalam melakukan kepuasan hubungan interpersonal bagi anak-anak luar biasa. Ketersendirian sebagai akibat rasa rendah diri merupakan tantangan dalam melakukan sosialisasi dan penerimaan diri akan
kelainan yang dimilikinya.

Butuh bimbingan konseling
Anak-anak tuna daksa sebenarnya tidak selamanya memiliki keterbelakangan mental. Ada yang mempunyai kemampuan daya pikir lebih tinggi dibandingkan anak normal. Bahkan tidak jarang kelainan yang dialami seorang anak tuna daksa tidak mempengaruhi perkembangan jiwa dan pertumbuhan fisik serta kepribadiannya. Demikian pula ada diantara anak tuna daksa hanya mengalami sedikit hambatan sehingga mereka dapat mengikuti pendidikan sebagaimana anak normal lainnya.
Secara umum perbedaan antara anak tuna daksa dengan anak normal terutama terdapat dalam tingkat kemampuannya. Namun hal ini juga sangat tergantung dari berat
ringannya ketunaan yang mereka sandang.
Dengan adanya ketunaan dalam diri seseorang seringkali eksistensinya sebagai manusia terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman pribadi anak maka
dibutuhkan keterampilam sesuai dengan kemampuan dirinya. Oleh karena itu orang-orang yang terlibat didalam pendidikan bagi anak luar biasa harus mempunyai keterampilan dalam mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan personal psikologis yang dibutuhkan anak luar biasa. Layanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan bagi anak luar biasa.
Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab. Jadi yang ingin dicapai dengan bimbingan ialah tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya.
Hal tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan di sekolah, dan tujuan tersebut terutama tertuju bagi murid-murid sebagai individu yang diberi bantuan. Akan tetapi sebenarnya tujuan bimbingan di sekolah tidak terbatas bagi murid saja, melainkan juga bagi sekolah secara keseluruhan dan bagi masyarakat.
Dengan demikian hakekat tujuan bimbingan dan konseling yaitu suatu upaya bantuan kepada individu agar dapat menerima dan menemukakan dirinya sendiri secara efektif dan produktif, sehingga dapat mengerahkan kemampuan dirinya dengan tepat, mengambil keputusan dengan benar dan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya.
Oleh karena itu sudah saatnya dalam rangka menyongsong berlakunya Undang Undang Nomor : 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen maka Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah kongkrit dengan mengangkat atau menetapkan profesi dan sertifikasi guru layanan bimbingan dan konseling pada sekolah-sekolah luar biasa, sehingga perhatian terhadap anak luar biasa menjadi tidak terabaikan dan sekaligus menepis issue diskriminasi terhadap anak didik.
Sebagai catatan, tampaknya telah banyak sarjana pendidikan jurusan bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan yang tidak bekerja sesuai dengan profesinya atau bahkan belum memiliki kesempatan mengembangkan ilmunya di dunia pendidikan, karena sebab-sebab tertentu atau bahkan banyak guru-guru (PNS) yang telah
melanjutkan jenjang pendidikannya ke jurusan bimbingan dan konseling di perguruan
tinggi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Contohnya, ketika tanggal 20 Mei 2006 lalu, Universitas Indraprasta PGRI Jakarta ( dahulu STKIP PGRI) mewisuda sarjananya, terdapat 119 wisudawan/wati dari Fakultas Pendidikan, Jurusan Bimbingan dan Konseling, dan dari sekian banyak wisudawan/wati terdapat para guru (PNS) yang meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dibidang tersebut. (Penulis adalah Guru SLB-D YPAC Jakarta sejak tahun 1981, ibu tiga putri Alifah (S1), Ennisa (Mahasiswa),Enovera (SMA) buah hati dengan suami tercinta Drs.Supriyanto Budisusilo/ Wisudawati UNINDRA PGRI 2006/H.Nur)
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online