Edition 61/VII/2006
 Search    Edition
Aneka Peristiwa | Cerita sampul | Dokter Anda | Gema Redaksi | Info | Kesejahteraan Kel | Kolom Khusus | Laporan Daerah | Laporan Utama | Liputan Khusus | Pendidikan | Quiz | Seputar Raker | Stop Press | Tokoh Teladan | Wawancara
 
Select Edition     
Dari Acara Pemberian Penghargaan ‘Damandiri Award’ di Balai Kartini Jakarta:
Didie Kempot Semarakkan Suasana Nyanyi Bareng Bupati Karanganyar

Laporan: Rahmawati
 
Puncak peringatan satu dasawarsa Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) benar-benar spektakuler. Gemerlap pesta bertabur bintang penyanyi papan atas ikut memeriahkan pemberian penghargaan Damandiri Award kepada 12 finalis terbaik yang menjadi acara paling ditunggu-tunggu. Tak ketinggalan, dedengkot seni musik tradisional campur sari Didie Kempot ikut menyemarakkan suasana lewat aksi terbaiknya nyanyi bareng dengan Bupati Karanganyar Hj Rina Iriani Sri Ratnaningsih.

Suasana bahagia yang menyelimuti “Pesta Rakyat” Yayasan Damandiri ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Wakil Ketua I Yayasan Damandiri Prof Dr H Haryono Suyono. Disaksikan Menteri Sosial Kabinet Indonesia Bersatu H Bachtiar Chamsyah, SE yang mewakili Menko Kesra, potongan tumpeng pertama ini kemudian diberikan Prof Haryono kepada Sudwikatmono, salah satu anggota pendiri Yayasan Damandiri. Ungkapan rasa syukur atas kepedulian Yayasan Damandiri mengangkat harkat hidup wong cilik ini disusul dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh mantan Menteri Agama Prof DR Quraisy Shihab.
Bertempat di Auditorium Mawar, Gedung Balai Kartini Jakarta, pada malam tanggal 15 Januari 2006, turut hadir pula mantan Menteri Era Orde Baru di antaranya Menteri Kehakiman Ismail Saleh, Menteri Kesehatan Prof Dr Sujudi, Menteri Tenaga Kerja Laksamana TNI (Pur) Sudomo, Menteri Kehakiman Utoyo Usman, Menteri BUMN Tanri Abeng dan Menakertrans Siswono Yodhohusodo. Sementara itu, dari jajaran Pemerintah Daerah hadir pula Sekertaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Dr Ritola Tasmaya, Askesmas Pemda DKI Jakarta DR Rohana Manggala dan beberapa Direktur Bank Mitra Kerja Yayasan Damandiri.
Dalam sambutannya, Mensos Bachtiar Chamsyah mengatakan, pembangunan ekonomi kerakyatan yang menjadi acuan Yayasan Damandiri selama ini merupakan langkah strategis dan menjadi tulang punggung negara dalam memajukan pembangunan nasional. Masalahnya, sejak terjadinya krisis moneter tahun 1997, keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) justru meningkat dan tetap eksis. Sebaliknya, ada sekitar 31 persen pabrik besar mengalami pengurangan usaha.
“Ketangguhan UMKM adalah keunggulan fleksibilitas usaha mereka. Manajemen mereka yang sederhana dan konsekuensi atas usahanya itu perlu mendapat dukungan dan peran serta masyarakat, khususnya para pengusaha,” cetus Bachtiar.
Wakil Ketua I Yayasan Damandiri yang pernah menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesra/Kepala BKKBN Prof Dr Haryono Suyono mengatakan, sejak awal didirikan Yayasan Damandiri telah memiliki visi dan misi yang jelas untuk bersama membantu pemerintah meningkatkan upaya pemberdayaan manusia dan keluarga agar menjadi sumber daya manusia dan keluarga yang bermutu, unggul, bermartabat, dan siap bekerja keras membangun diri, keluarga, masyarakat, dan bangsanya secara mandiri.
Oleh karena itu, ungkap Prof Haryono yang dalam acara itu mengenakan busana batik, untuk menunjukkan sampai seberapa jauh Yayasan Damandiri melaksanakan visi, misi dan program yang dicanangkan, acara peringatan sepuluh tahun Yayasan Damandiri sebenarnya dirancang secara sederhana dan diwujudkan sebagai simbolis pertangungjawaban publik atas upaya yang telah dilakukan.
Turut memeriahkan rangkaian peringatan satu dasawarsa Yayasan Damandiri di Balai Kartini yang dipandu oleh MC kondang Novita Anggie dan Ricky VJ MTV ini, artis penyanyi papan atas Harvey Malaiholo dan Dewi Gita menghibur seluruh lapisan pengunjung lewat tembang lawas andalannya. Tak ketinggalan, duet bareng dedengkot seni musik tradisional campur sari Didie Kempot dengan Bupati Karang Anyar Hj Rina Iriani Sri Ratnaningsih pun mampu membuat heboh dan menggoyang panggung yang ditingkahi para penari latar.
“Pokoknya, saya cukup salut dengan upaya Yayasan Damandiri yang sangat peduli akan nasib wong cilik. Apalagi dengan pemberian award (penghargaan) kepada mereka, semakin mereka berlomba meningkatkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Mudah-mudahan acara semacam ini tidak hanya sekali ini saja tapi juga diikuti dengan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan,” tutur Didie Kempot, seniman musik tradisional yang kerap menyuarakan penderitaan wong cilik lewat syair lagunya.
Tak kepalang tanggung, ia pun baru saja menyelesaikan album terbarunya bersama Bupati Karang Anyar yang tidak hanya berwajah cantik dan bersuara merdu, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib wong cilik. “Seluruh hasil keuntungan album ini, murni disumbangkan untuk masyarakat Karang Anyar dan sekitarnya yang membutuhkan bantuan,” tegas Hj Rina Iriani.

Damandiri Award
Suasana haru biru mewarnai deretan meja kedua dari depan panggung, ketika sorotan lampu kamera menerangi wajah-wajah para ibu yang ternyata merupakan sekumpulan finalis bidan terbaik. Detak-detak jantung mereka pun seakan menggumam tanda tanya, ini mimpi atau kenyataan. Dan saat diumumkan, Hj Siti Murdjiati adalah bidan terbaik dari sembilan yang hadir, sontak bidan yang telah mengabdi selama 31 tahun menyehatkan anak bangsa ini terduduk lemas dengan mata yang masih bersimbah air mata karena luapan rasa bahagia.
“Saya tidak mengira bisa ada di sini. Mudah-mudahan Yayasan Damandiri bisa lebih surprise lagi, khususnya pada bidan di pedesaan,” cetus Siti Murdijati dengan mata masih penuh berkaca-kaca mengitar pandang ke sekian mata yang menatap penuh kagum atas dedikasinya selama ini mengabdi tanpa pamrih.
Suasana tegang pun ikut mengaliri urat darah pengunjung, saat pengumuman penerima Damandiri Award dibuat seperti mengulur-ngulur waktu dengan mengunjungi meja masing-masing finalis. Meski saat itu sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam, tak ada satupun pengunjung yang menunjukkan rasa kantuk demi ingin mengetahui nominasi Damandiri Award yang sengaja dirahasiakan oleh panitia penyelenggara.
Dari hasil penyeleksian ketat ini, telah terpilih 12 finalis terbaik dari 36 finalis untuk empat kategori terbaik. Kategori bidan mandiri terbaik diraih Juara Pertama Hj Siti Murdijati dari Sidoardjo Jawa Timur, Juara Kedua Siti Munawaroh Amd Keb dari Kediri Jawa Timur dan Juara Ketiga diraih Hj Suprihatin, Amd Keb dari Sidoarjo. Kategori SMA/Madrasah Aliyah terbaik juara pertama diraih SMA Negeri 7 Yogyakarta, juara kedua SMA Negeri 5 Malang dan juara ketiga SMA Negeri I Lembang. Kategori pembina usaha mikro terbaik, jura pertama diraih BPPM Pesantren Maslakul Huda , Pati Jawa Tengah, juara kedua Koperasi Serba Usaha Cileta, Lembata Nusa Tenggara Timur dan juara ketiga diraih Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP M3) Kota Baru, NTT.
Masing-masing peraih penghargaan Damandiri Award ini selain mendapat tropi dari Yayasan Damandiri juga memperoleh uang senilai Rp 20 juta untuk juara pertama, Rp 15 juta untuk juara kedua dan Rp 10 juta untuk juara ketiga. Sementara itu, untuk kategori pengusaha mikro terbaik adalah Hj Umi Zunaidah dari Probolinggo Jawa Timur, Sutarti dari Malang Jawa Timur dan Sri Wartuti dari Purwokerto, Jawa Tengah. Ketiga wanita pengusaha terbaik ini masing-masing memperoleh uang senilai Rp 20 juta.
“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, Yayasan Damandiri telah mempercayakan pemberian penghargaan ini kepada kami. Insya Allah, dengan pemberian uang ini bisa menambah kekurangan untuk modal naik haji tahun depan,” tukas Siti Munawaroh bidan terbaik kedua dengan rasa haru.
Selain memberikan penghargaan kepada para bidan, pengusaha, pembina terbaik lewat peran serta mereka untuk terus ikut memberdayakan masyarakat, Yayasan Damandiri juga memberikan penghargaan kepada sejumlah pemenang karya tulis terbaik yang dibacakan oleh Ketua Dewan Juri, Prof DR Dawam Rahardjo. Karya-karya terbaik para peneliti yang tergabung dalam LP3ES melalui buku yang diterbitkan Yayasan Damandiri pun ikut diluncurkan sebelum penyerahan Damandiri Award, sekaligus peluncuran buku dari Tim Majalah Gemari.
Sebagai wujud kepedulian terhadap daerah yang terkena bencana banjir bandang dan tanah longsor di dua kabupaten yaitu Purbalingga dan Jember, Yayasan Damandiri juga mengajak yayasan lain untuk sama-sama memberikan bantuan. Di antaranya Yayasan Gotong Royong menyerahkan bantuan secara simbolis untuk masing-masing kabupaten sebesar Rp 60 juta, Lembaga GN-OTA menyerahkan bantuan secara simbolis untuk beasiswa yatim piatu dari desa-desa yang terkena bencana yang besarnya sesuai dengan standar umum yang berlaku. Bantuan-bantuan secara simbolis diserahkan langsung oleh Sudwikatmono mewakili Pengurus Yayasan Damandiri, Subagyo Mewakili Yayasan Supersemar dan dari Lembaga GN-OTA dan Pengurus Yayasan Gotong Royong kepada perwakilan dari Pemda Purbalingga dan Jember.
Tak ketinggalan, dalam waktu dekat pun Yayasan Damandiri bekerja sama dengan BPD setempat pun akan menyediakan kredit murah atau dengan bunga bersubsidi untuk masing-masing daerah sebanyak Rp 1 miliar. Bantuan kredit tersebut dapat dipergunakan oleh pengusaha mikro, kecil dan menengah serta dapat diperoleh melalui Bank-Bank BPD di kabupaten setempat untuk keperluan pembangunan kembali ekonomi keluarga atau ekonomi kerakyatan pada wilayah yang terkena bencana. Sebagian dari sumbangan itu dapat dipergunakan untuk membantu subsidi bunga. Subsidi lainnya akan di bayar oleh Yayasan Damandiri atau sponsor lain yang sedang dikembangkan. Ris/RW
 
 
Isi Komentar  Baca Komentar
Kirim Artikel  Cetak Artikel

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra


Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@gemari.or.id
Copyright © 2003 gemari.or.id
designed by Gemari Online