Usia 0-6 tahun merupakan masa emas balita. Aneka stimulus yang diberikan pada masa balita itu akan meningkatkan daya pikir dan kreativitas anak. Karena itu, beberapa tahun terakhir ini bermunculan "sekolah" yang diperuntukkan bagi anak di bawah usia 4 tahun yang akrab disebut pre school.
Begitu pula BKB Mangga Ubi yang terletak di Kelurahan Angke, Jakarta Barat, semula areal ini merupakan kandang babi yang disulap menjadi Posyandu, dan BKB. Pasalnya, antara Posyandu dan BKB memiliki suatu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan, sebagai contoh melalui posyandu kesehatan balita diperhatikan. Dengan balita yang sehat, dipadukan dengan pendidikan sejak dini, maka kualitas generasi muda akan lebih optimal.
Namun, tak semua balita Indonesia dapat menikmati pre school akibat mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua. Belajar dari pengalaman itu, Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta menggandeng Tim Penggerak PKK DKI Jakarta dan Kantor BKKB DKI Jakarta mengembangkan satu program pendidikan anak dini usia (PADU) berbasis masyarakat.
Program PADU diintegrasikan ke program Bina Keluarga Balita (BKB) yang telah lama dikembangkan Kantor BKKBN Pusat. Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta, Ny Rini Sutiyoso mengatakan, program posyandu dan PADU berbasis masyarakat yang diupayakan secara mandiri merupakan satu upaya mengatasi kendala dana bagi balita dari keluarga tidak mampu untuk juga dapat menikmati rangsangan dalam pendidikan sejak dini usia.
Ny Rini Sutiyoso menyebut, anak yang berusia antara 0-6 tahun di Jakarta berjumlah sekitar 1 juta anak. Yang baru mendapat pendidikan anak dini usia (PADU) baru sekitar 269.250 anak. Berarti anak yang belum mendapatkan pendidikan anak dini usia sekitar 70 persen.
"PKK sebagai organisasi pemberdayaan keluarga menyadari sepenuhnya bahwa sejak lahir sampai memasuki usia pendidikan dasar merupakan masa keemasan. Masa itu sekaligus merupakan masa kritis dalam tahap kehidupan manusia yang akan menentukan cita-cita anak selanjutnya," katanya menegaskan.
Ditambahkan, dalam kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) yang telah dikembangkan BKKBN selama ini sasarannya adalah orang tua, sementara posyandu PADU sasarannya balita. "Dengan orientasi ini diharapkan bisa saling terpadu antara kebutuhan orang tua dan anak. Para ibunya makin pintar tentang masalah-masalah kesehatan dan anak-anak, begitupun dengan anak balitanya yang mana sensor motorik terus dilatih dalam BKB," ujar Rini Sutiyoso.
Pendidikan anak usia dini sebenarnya menjadi kebutuhan anak, terutama yang tinggal di perumahan sempit, dengan fasilitas yang kurang mampu mendukung proses tumbuh kembang anak. Misalnya, anak yang tinggal di rumah dengan satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Mereka jadi tidak mengenal dengan perbendaharaan kata-kata kamar bermain, ruang keluarga atau kamar belajar. Yang ada dibenak mereka hanya kamar tidur dan ruang tamu saja. Dengan kata lain, perbendaharaan kata mereka terbatas atau jadi miskin kata-kata.
Menurut Rini Sutiyoso, pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan dengan biaya murah. Karena perangkat pendidikannya bisa dibuat sendiri dan tidak membeli produk impor yang harganya jutaan. Sehingga, biaya pendidikan yang dipungut ke orang tuanya tidak terlalu mahal.
Satu hal yang menonjol dari kegiatan yang diselenggarakan Posyandu dan BKB Mangga Ubi adalah kebersamaan antara masyarakat sekitar yang notabene keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I membaur dengan warga yang ada di lingkungan perumahan yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat keturunan Cina. Kebersamaan ini terus dipupuk sehingga menghasilkan suatu posyandu dan BKB yang cukup bagus bagi pengembangan anak-anak balita yang ada di wilayah kelurahan Tb Angke.
Hal senada dikemukakan Kasubdis Pra Sekolah, Luar Biasa dan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta, Tagor Sitompul. PADU itu dimulai ketika anak masih menginjak usia dini. Ini berbeda dengan pendidikan yang diberikan ketika anak sudah memasuki bangku taman kanak-kanak.
"Meski anak baru berusia usia satu tahun, mereka sudah bisa diperkenalkan dengan lingkungan belajar, tapi bukan lingkungan sekolah loh. Jadi pendidikannya tidak sama dengan taman kanak-kanak atau sekolah dasar yang mulai diperkenalkan huruf-huruf atau angka," katanya.
Ditanyakan kemungkinan pendidikan anak usia dini itu dilakukan sendiri oleh para ibu di rumah, Sitompul mengatakan, hal itu mungkin saja dapat dilakukan bila kualitas pendidikan sang ibu memenuhi kriteria untuk itu. Tapi persoalannya, pendidikan anak usia dini tak sekedar melatih kemampuan kognitif anak tetapi juga bersosialisasi dengan lingkungan.
"Ini yang mungkin tidak bisa dipenuhi bila pendidikan anak usia dini dilakukan di rumah. Karena biasanya keluarga masa kini hanya punya dua anak. Dan itu sangat berbeda bila anak bergaul dengan lingkungannya," kata Sitompul yang berharap program PADU ini dapat direspon masyarakat lebih baik lagi sehingga makin banyak anak usia 0-6 tahun yang mendapat pendidikan anak dini usia. RIS |